
Entah tahu dari mana jika Shanum datang ke kampung halamannya. Tiba-tiba saja Dini, istri Faisal menerobos masuk ke dalam ruang tamu.
"Kenapa kamu tidak memberitahu bibi kalau mau pulang?" tanyanya.
"Oh ya, Mas-mas yang tampan ini pasti anaknya majikan Shanum ya? Mari mampir ke rumah saya."
"Tidak usah, Bu. Di sini saja. Lagipula Shanum datang ke kampung ini hanya untuk berziarah ke makam kakeknya. Sore nanti kami langsung kembali ke kota," papar Rayhan.
"Masa sudah jauh-jauh ke sini mau langsung pulang? Menginap lah barang semalam."
"Tidak bisa, Bu. Besok pagi kami juga harus masuk kuliah."
"Wah, hebat banget. Sudah ganteng, anak kuliahan lagi."
Tiba-tiba pandangan Dini taertuju pada Shanum.
"Baru beberapa bulan di kota, kamu bertambah gemuk. Kamu pasti betah ya di sana?"
"Kalau nggak betah memangnya Shanum mau tinggal di mana lagi? Rumahnya 'kan sudah dijual sama dan saudaranya yang serakah," sindir Adnan.
"Sial! Pasti pemuda ini menyindirku," batin Dini.
"Ayolah, Nak. Mampir ke rumah bibi. Pamanmu pastin senang kalau kamu pulang," bujuk Dini.
__ADS_1
"Bukannya sebaliknya ya? Ibu senang kalau Shanum meninggalkan rumah peninggalan orangtuanya." Hannan menimpali.
"Sepertinya Shanum begitu dekat dengan pemuda-pemuda ini, hingga rahasia keluarga nya pun mereka tahu," gumam Dini.
"Maaf, Bi. Aku harus ke makam sekarang," ucap Shanum.
Sebagai keponakan Dini, tentu saja dia paham benar watak istri dari pamannya itu. Dia begitu pandai mencari muka ataupun memutarkan balikkan fakta.
"Nanti saja ke makam nya, ajaklah mereka jalan-jalan berkeliling di desa ini. Di kota pasti mereka tidak menemukan pemandangan seperti di sini."
"Tujuanku datang ke sini untuk berziarah, bukan untuk piknik," tukas Shanum. Oh ya, Bi, apakah selama ini pakdhe Faisal dan bibi selalu merawat makam kakek?" tanyanya kemudian.
"Ehm … ya. Sekali-kali kami mengunjungi makamnya."
"Ehm … baru seminggu yang lalu."
"Apa benar begitu? Jika memang Bu Dini dari sana, kenapa saya melihat makam itu tidak terawat? Rumput-rumputnya begitu tinggi, sekitar makamnya juga sangat kotor," sela Nining.
"Ini 'kan musim hujan. Sudah pasti rumput akan mudah tinggi."
"Ya sudah, aku ke makam dulu," ucap Shanum.
"Aku ikut, Num," ucap Nining.
"Ehm … padahal aku mau minta tolong sama kamu buat nemenin mas Hannan berkeliling di kampung ini. Selain mengantarku, tujuannya datang ke kampung ini adalah untuk mengadakan penelitian tentang kerajinan khas di kampung ini yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan skripsi," papar Shanum.
__ADS_1
"Ya sudah, aku antar mas Hannan saja," ucap Nining.
"Kamu gimana, Nan? Mau ikut ke makam atau ikut kami keliling kampung?" tanya Hannan pada Adnan.
"Daripada ke makam, mendingan aku ikut Mas Hannan dan Nining saja keliling kampung."
"Ya sudah, aku nggak apa-apa kok ke makam sendiri. Lagipula makamnya tidak terlalu jauh. Aku bisa jalan kaki," ucap Shanum.
"Eh, tunggu! Masa kamu ke makam sendirian sih," sergah Rayhan.
"Loh, memangnya kenapa? Ini siang hari, makam tidak menakutkan."
"Ya, aku hanya tidak tenang saja kalau membiarkan kamu pergi sendiri."
"Apa, Mas?"
"Ah, maksudku biar aku temani ke makam," ucap Rayhan.
Shanum mengangguk setuju.
Keduanya pun meninggalkan rumah Nininh lalu berjalan beriringan menuju makam.
Merasa diabaikan, Dini pun akhirnya memilih meninggalkan tempat tersebut.
Bersambung…
__ADS_1