
"Kamu lancang sekali menyuruh nyonya Arimbi memasak!" Shanum meraih kursi roda yang ditumpangi sang nyonya besar lalu menjauhkannya dari meja dapur.
"Aku-aku pikir beliau ini pem-ban-tu."
"Sepertinya kamu sering menilai seseorang dari penampilan luar nya saja. Nyonya Arimbi ini memang wanita sederhana. Beliau tidak suka mengenakan barang mahal ataupun mewah," ujar Shanum. "Ngomong-ngomong kamu ngapain di dapur?" tanyanya kemudian.
"Aku ingin memasak sayur sop untuk Hanan."
"Begitu rupanya. Nyonya besar sendiri ada perlu apa ke dapur? Kenapa tidak memanggilku?"
"Aku tahu kamu sedang mencuci pakaian. Sumi juga sedang ke pasar. Aku ke dapur untuk mencari camilan," jelas nyonya Arimbi.
"Sepertinya kemarin bi Sumi menyimpan biskuit di lemari dapur," gumam Shanum. Ia pun lantas mengambil sewadah biskuit dari dalam lemari dapur lalu memberikannya pada nenek tiga cucu itu.
"Ini memang biskuit kesukaanku," ujarnya.
"Ya sudah, mari aku antar Nyonya besar ke kamar." Shanum meraih sandaran kursi roda itu lalu mendorongnya keluar dari ruang dapur."
"Pakai jurus apa sih gadis kampungan itu, kok bisa sedekat itu dengan nyonya Arimbi," gumam Naomi.
Beberapa saat kemudian nyonya Elina memasuki ruang dapur.
"Naomi, kamu ngapain di sini?" tanyanya.
__ADS_1
"Ehm … itu, Nyonya. Hanan ingin makan sayuran berkuah. Saya berencana akan membuat sop untuknya."
"Aku mau tahu, apa gadis ini bisa memasak," batin nyonya Elina. Ia lantas menarik sebuah kursi lalu mendudukinya.
"Sial! Kenapa dia malah mengawasiku memasak? Apa yang harus kulakukan pertama kali untuk membuat sayur sop? Kalau aku membaca resep di internet, bisa ketahuan kalau aku sama sekali tidak pernah memasak," gumam Naomi.
"Tenang, Naomi. Kamu tidak boleh terlihat gugup," batinnya.
Naomi yang nyaris tak pernah memasuki dapur itu bahkan kesulitan untuk menyalakan kompor. Berkali-kali ia memutar knop kompor listrik itu, namun api tak kunjung menyala.
"Ditekan sedikit, baru diputar," jelas nyonya Elina.
"Oh, maaf. Kompor di rumah ini sedikit berbeda dengan kompor di dapur rumah saya."
"Astaga. Apalagi yang harus kulakukan? Mana yang lebih dulu kumasukkan? Bumbu atau sayuran?" gumamnya.
Meskipun ragu, Naomi akhirnya memasukkan brokoli yang sudah dipotong itu ke dalam panci tersebut.
"Kenapa begitu masak sop nya?" protes nyonya Elina.
"Ehm … salah ya?"
"Harusnya kamu tunggu hingga airnya mendidih baru masukkan bumbu halus, dilanjutkan dengan sayuran."
__ADS_1
"Ma-ma-af. Saya buat yang baru saja."
"Lanjutkan saja. Setelah sayuran dimasukkan, baru masukkan penyedap. Jangan lupa dicicipi. Maaf, saya tinggal dulu." Nyonya Elina beranjak dari tempat duduknya lalu meninggalkan ruang dapur.
"Fiuh! Akhirnya pergi juga," batin Naomi.
Setelah sayur memasukkan semua sayuran, Naomi pun lantas menambahkan penyedap seperti yang tadi dikatakan sang nyonya.
"Aduh, seberapa banyak ya? Semuanya saja lah. Semakin banyak pasti semakin sedap," gumamnya.
"Akhirnya selesai juga," ucapnya sesaat setelah memindahkan sayur sop dari panci ke dalam wadah keramik. Ia pun lantas membawanya ke kamar Hanan yang berada di lantai dua.
"Sayur sop spesial penuh cinta sudah siap," ucap Shanum sembari memasuki kamar.
"Kamu sudah cicipi belum?" tanya Hanan.
"Nggak usah dicicipi pasti enak kok. Tadi aku memasukkan sebuah penyedap."
Hanan meraih sendok lalu mencicipi kuah sayur sop itu.
"Bagaimana rasanya? Lezat 'bukan?"
tanya Naomi.
__ADS_1
Bersambung …