Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 8


__ADS_3

"Masakannya sudah siap belum, Bi? Aku sudah lapar nih," ucap Hanan.


"Sudah, Mas. Lagi bibi siapkan. Mas Hanan tunggu saja di meja makan," sahut bi Sumi dari ruang dapur.


Tidak lama kemudian ia muncul di ruang makan dengan membawa semangkuk semur daging sapi, menu keluarga itu di hari Selasa.


"Wanginya membuat aku semakin lapar saja," ujar si bungsu Adnan.


"Tuan dan Nyonya belum bangun?" tanya bi Sumi.


"Belum, Bi. Ayah bilang semalam mereka lembur demi proyek besar. Kalau bisnis ini goal, kita bisa jalan-jalan ke luar negeri. Bi Sumi pasti diajak juga."


"Bibi gak berani pergi jauh-jauh, Mas. Naik bis saja mabok, apalagi naik pesawat."


"Naik pesawat itu nggak kaya naik bis, Bi. Jalannya rata." Rayhan menimpali.


"Bibi jaga rumah saja lah sama Shanum. Ya kan, Num?"


"Iya, Bi. Lagipula aku belum pernah naik pesawat, takut pusing."


"Orang kampung memang begitu, kampungan!" sungut Hanan.


"Bagi orang yang tinggal di desa seperti Shanum, mungkin naik pesawat adalah suatu hal yang tidak biasa, wajar kalau dia takut," ujar Adnan.


"Kampungan ya kampungan saja!" ketus Rayhan.


"Iya, Mas. Saya sadar betul jika saya ini orang desa yang kampungan," ucap Shanum. Dia lantas beranjak meninggalkan meja makan lalu berjalan menuju kamarnya.


"Mas Rayhan dan Mas Hanan jangan begitu, kasihan Shanum, dia pasti tersinggung," ujar Adnan.


"Dia memang kampungan kok. Kenapa harus tersinggung?"


"Sudah, tidak baik berdebat di meja makan. Kalian sarapan lalu berangkat kuliah," ucap bi Sumi.


Setelah menyelesaikan sarapan, Hanan dan Adrian pun lantas berangkat menuju kampus. Hanya Rayhan yang hari kuliah siang.

__ADS_1


"Bi Sumi tengah membersihkan meja makan ketika tuan Adrian dan nyonya Elina menuruni anak tangga.


"Anak-anak sudah berangkat, Bi?" tanya sang nyonya.


"Sudah, Nyonya. Baru beberapa menit yang lalu."


"Oh ya, mana gadis itu?" tanya tuan Adrian.


"Sepertinya sedang mencuci pakaian, Tuan."


"Jika sudah selesai, suruh dia membersihkan ruang kerjaku."


"Baik, Tuan. Tunggu sebentar, saya ambilkan piring dulu."


Bi Sumi beranjak meninggalkan meja makan lalu berjalan menuju dapur. Tidak lama ia kembali dengan membawa dua buah piring dan gelas untuk majikannya tersebut.


"Tuan menyuruhmu membersihkan ruang kerjanya," ucap bi Sumi sesaat setelah Shanum keluar dari ruang khusus mencuci.


"Baik, Bi."


"Biasanya dikunci. Kamu bisa menanyakannya pada tuan,"


Usai berkutat dengan cucian, Shanum pun lantas menghampiri sang tuan.


"Maaf, Tuan. Apa ruang kerja Tuan dikunci?" tanyanya.


"Tidak, saya tidak menguncinya. Kamu bisa langsung masuk."


"Baik, Tuan."


Shanum berlalu dari hadapan keduanya lalu menuju ruang kerja sang tuan yang berada di lantai dua. Banyaknya debu di ruangan itu membuat Shanum bersin-bersin.


"Sudah berapa lama tempat ini tidak dibersihkan?" gumamnya..


Shanum mulai membuka pintu lemari uang terbuat dari kaca itu lalu mengeluarkan satu persatu isinya. Setelah membersihkannya dengan kemoceng, ia pun meletakkan kembali di tempat asalnya. Entah mengapa ia tertarik pada sebuah album foto. Ia pun mulai membukanya. Senyum mengembang di bibirnya saat sepasang netranya menangkap potret seorang bayi laki-laki yang tengah tersenyum lepas. Di bawahnya terdapat tulisan "My lovely son, Rayhan."

__ADS_1


Meski tak paham dengan makna kata-kata itu, ia tahu jika foto bayi itu adalah Rayhan.


"Waktu kecil lucu begini, setelah dewasa garang," batinnya.


Tiba-tiba seseorang masuk di ruangan itu.


"Kamu pikir saya mau bayar kamu untuk bersantai-santai?!" Sentak tuan Adrian yang kini sudah berdiri di ambang pintu.


"Ti-ti-tidak, Tuan. Saya hanya, …"


"Cepat rapikan ruangan saya, setelah itu bersihkan gudang!"


"Ba-ba-ik, Tuan."


"Mulai kelihatan aslinya," gumamnya.


Shanum bergegas merapikan kembali buku-buku itu ke dalam tempatnya.


"Kunci gudang di mana, Bi?" tanyanya pada bi Sumi usai merapikan ruang kerja tuan Adrian.


"Tunggu sebentar."


Bi Sumi masuk ke dalam kamarnya. Tidak lama ia kembali dengan membawa sebuah anak kunci. Setelah mengambil sapu dan sekop ia pun lantas menuju gudang yang berada di samping rumah.


Ruangan berukuran cukup besar itu terlihat begitu kotor dan pengap. Pun ia tidak punya pilihan selain membersihkan ruangan tersebut.


Shanum tengah menyapu lantai, tiba-tiba netranya menangkap benda bergerak di bawah kardus. Karena penasaran dia pun


Mengangkat kardus tersebut. Matanya terbelalak setelah tahu benda apa yang ada di bawah sana. Rupanya seekor ular berukuran cukup besar. Shanum mencoba menghindar, namun lantaran merasa terusik ular berwarna coklat itu pun bergerak lalu mematuk kaki kirinya.


"Bi Sumi! Tolong!" jeritnya.


Jarak gudang dari rumah utama memang cukup jauh. Sepertinya tak ada seorangpun yang mendengar teriakannya.


"Siapapun tolong aku!" jeritnya lagi. Tiba-tiba tubuhnya terasa begitu lemas, pandangannya mulai kabur, hingga semuanya benar-benar gelap.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2