Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 49


__ADS_3

"Mas Rayhan sudah pulang atau belum, Bi?" tanya Adnan pada bi Sumi yang tengah menyetrika pakaian.


"Sudah, Mas. Tadi sama Shanum langsung ke rumah sakit ."


"Loh, ini sudah hampir sore. Masa belum pulang juga."


"Kalau habis operasi 'kan nggak boleh langsung pulang."


"Apa, Mbok? Operasi?"


"Ya, Mas. Tadi mas Rayhan nelpon, katanya kaki Shanum harus dioperasi karena ada tulang yang patah."


"Astaga!"


"Loh, Mas Adnan mau kemana?" tanya bi Sumi saat mendapati Adnan beranjak dari ruangan itu.


"Aku mau ke rumah sakit."


"Mbok ya makan dulu. Bibi udah masak loh."


"Nanti saja, Mbok. Aku pergi dulu," ucap Adnan. Dia pun lantas berangkat menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit.


"Shanum gimana, Mas?" tanyanya. 


"Masih di dalam. Operasinya belum selesai."


"Semoga dia nggak apa-apa deh."


"Bisa dibilang aku terlambat. Seharusnya dia dibawa ke sini sejak kakinya terluka."


"Sudahlah, kita berdo'a saja semoga dia baik-baik saja," ujar Adnan.


Beberapa saat kemudian pintu ruangan terbuka. Tampak seorang dokter keluar dari dalam ruang tindakan.


"Bagaimana keadaan Shanum, Dokter?" tanya Adnan.


"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. Tetapi untuk sementara pasien harus menggunakan alat bantu berjalan," jelas dokter.

__ADS_1


"Apa kami bisa menemui Shanum sekarang, Dok?" tanya Adnan lagi.


"Silahkan."


Dua kakak beradik itu pun lantas memasuki ruangan.


"Kata dokter operasi kakimu berjalan lancar," ucap Rayhan.


"Alhamdulillah. Ehm … apa nyonya Elina tidak apa-apa jika aku dirawat di sini?" tanya Shanum.


"Itu akan menjadi urusanku," ujar Rayhan.


Tiba-tiba aroma tidak sedap menguar di ruangan ber AC itu. 


"Kamu buang gas ya, Nan?" 


"Sembarangan!"


"Kalau bukan kamu terus siapa?"


"Ehm … maaf, Mas. Kelepasan," ucap Shanum.


"Oh iya, katanya kalau habis dioperasi belum boleh makan atau minum apapun kalau belum buang angin."


"Nggak apa-apa."


Beberapa saat kemudian terdengar suara khas dari dalam perut Shanum."


"Kamu lapar ya? Biar aku belikan makanan di kantin," ucap Adnan.


"Eh, jangan. Pasien yang dirawat di sini hanya boleh makan makanan yang disebut rumah sakit."


"Oh, begitu ya."


Tidak berselang lama pintu ruangan terbuka. Rupanya seorang perawat.


"Selamat sore, Suster Naura," sapa Adnan.


"Kok tahu nama saya?"

__ADS_1


"Tahu dong. Saya bisa tahu nama orang tanpa harus kenalan dulu."


"Alah. Bilang saja kamu baca pin nama di bahu seragam nya suster ini."


Adnan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal.


"Waktunya makan siang dan minum obat ya," ucap Suster Naura sembari meletakkan kotak berisi makanan dan segelas air putih di atas meja.


"Terima kasih, Suster," ucap Shanum.


"Saya permisi dulu."


Perawat itu pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.


"Aku suapin ya," ucap Adnan.


"Ah, tidak usah. Aku bisa makan sendiri."


"Krucuk … krucuk …" Giliran perut Adnan yang bersuara.


"Kamu lapar juga?"


"Aku pulang kuliah langsung kesini, belum sempat makan siang."


"Ya sudah sana, cari makan dulu."


"Mas Rayhan nggak lapar juga?"


"Nanti saja makannya gantian."


"Ya sudah, aku ke kantin dulu," ucap Adnan. Dia pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.


"Ehm … terima kasih, Mas," ucap Shanum sedikit canggung. Ini adalah kali pertama baginya berada di dalam kamar dengan seorang laki-laki.


"Terima kasih untuk apa?"


"Mas Rayhan sudah menjemputku lalu membawaku berobat ke rumah sakit ini."


Rayhan mengulas senyum tipis 

__ADS_1


"Tidak apa. Aku yang seharusnya berterima kasih. Aku berhutang nyawa padamu," ucapnya.


Bersambung …


__ADS_2