
"Ehm!"
Kemunculan Adnan yang mendadak sontak membuat Shanum dan Rayhan salah tingkah.
"Mas Rayhan kok di sini?" tanyanya.
"Ehm … ini aku memberi obat untuk Shanum. Tangannya terkena setrikaan panas," jelas Rayhan. Dia lantas memasukkan salep luka bakar ke dalam kotak obat.
"Loh, kok bisa sampai kena setrikaan?"
"Aku kurang hati-hati."
"Parah nggak luka nya? Kalau parah kita ke dokter saja," ucap Hanan.
"Nggak kok, Mas. Sudah diobati sama mas Rayhan. Insyaallah tidak lama lagi baikan.
"Ya sudah. Ada kaos warna biru punyaku nggak?" tanya Adnan.
"Ada, Mas. Tapi belum kusetrika."
"Padahal mau kupakai sekarang."
"Ada kok kaos Mas Adnan yang lain."
Shanum mengambil kaos berwarna merah dari tumpukan baju lalu memberikannya pada Adnan.
"Nggak mau kalau kaos yang ini."
"Memangnya kenapa?"
"Kaos kesayangan Adnan ya yang warna biru itu." Rayhan yang belum beranjak dari ruangan itu menimpali.
"Kaos itu kubeli saat aku dan kawan sekelasku jalan-jalan di kota C."
__ADS_1
"Ya sudah, aku setrika sebentar," ucap Shanum.
"Tangan kamu masih sakit 'bukan?"
"Ah, tidak apa. Hanya luka kecil kok."
"Memangnya kamu mau kemana, Nan?" tanya Rayhan.
"Mau ke rumah Edwin, pinjam buku."
"Aku pikir mau ke rumah si Erren," ledek Rayhan.
"Ah! Mas Rayhan ngapain sih nyebut nama gadis itu."
"Cie … ada yang lagi kesel nih ye," ledek Rayhan lagi.
"Ini bajunya, Mas." Shanum menyodorkan kaos berwarna biru pada Adnan.
"Nah, kalau sudah tapi begini 'kan enak dilihat. Aku pakai sekalian deh."
"Kamu nggak sopan banget sih. Masa ganti baju di depan Shanum," tegur Rayhan.
"Aku buru-buru," ucap Adnan sembari melemparkan baju yang baru dilepasnya itu ke dalam sebuah keranjang khusus pakaian kotor.
"Eh, tunggu!" seru Rayhan.
"Kenapa lagi?"
"Aku titip beliin pulsa."
"Mana uangnya?" Adnan menengadahkan tangannya.
"Aku nggak punya uang cash. Pakai uangmu dulu deh."
__ADS_1
"Huuuuu. Ya sudah, aku pergi dulu."
Adnan pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.
"Ehm … terima kasih ya, Mas," ucap Shanum.
"Tadi 'kan sudah bilang terima kasih. Ya sudah, saya ke belakang dulu," ucap Rayhan. Dia pun lantas berlalu dari hadapan Shanum.
****
"Maaf ya, Bi. Belum bisa bantu Bi Sumi mencuci piring. Tanganku baru saja diobati," ucap Shanum setelah selesai menyetrika baju.
"Loh, memangnya tangan kamu kenapa?"
"Tadi tidak sengaja terkena setrikaan panas."
"Kok bisa? Selama ini kamu tidak pernah ceroboh dalam bekerja."
"Aku hanya kurang hati-hati, Bi."
"Tadi bibi lihat tuan Adrian masuk ke ruangan ini. Apa dia mengatakan sesuatu yang tidak kurang enak didengar?"
"Ehm … tidak kok, Bi. Tuan Adrian hanya bilang agar menyetrika nya yang rapi."
"Sejak kapan tuan Adrian peduli pada asisten rumah tangganya? Bibi yakin dia mengatakan sesuatu yang kurang enak didengar sampai-sampai tanganmu terkena setrikaan panas."
Sorot mata Shanum terlihat berkaca-kaca. Detik kemudian tangisnya pun tumpah.
"Loh, kenapa kamu menangis?" tanya bi Sumi.
"Aku jauh-jauh mendatangi rumah ini hanya untuk bekerja, bukan untuk mencari perhatian dari para penghuninya," ucap Shanum dengan suara bergetar.
"Pasti tuan Adrian sudah dihasut Naomi. Tadi 'kan tuan Adrian masuk ke rumah ini tidak lama setelah gadis manja itu pulang."
__ADS_1
"Apa aku berhenti saja dari pekerjaan ini?" lirih Shanum.
Bersambung …