Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 52


__ADS_3

"Elina, kamu jangan salah paham, dengar dulu penjelasanku," ucap Adrian.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, semuanya sudah jelas! Kamu masuk ke dalam rumah perempuan ini. Apalagi julukan yang tepat selain selingkuh?"


"Dia-dia selalu merayuku."


"Loh, kamu kok nuduh aku begitu sih?"


"Kalian pikir aku mau mendengar perdebatan kalian? Maaf, waktuku terlalu berharga. Selamat siang."


"Elina! Tunggu!" Adrian berlari mengejar Elina namun perempuan yang telah memberinya tiga orang anak laki-laki itu tak menghiraukannya. Ia justru berjalan menghampiri taksi yang tadi ia tumpangi.


"Ayo, Pak. Kita tinggalkan tempat ini," titah Elina pada sang pengemudi.


"Baik, Nyonya."


Taksi itu lantas meninggalkan tempat tersebut.


"Kamu mau kemana, Sayang?" tanya perempuan bernama Alicya itu saat Adrian bersiap meninggalkan rumahnya.


"Aku harus pulang sekarang."


"Loh, kok pulang sih. Mas 'kan sudah janji malam ini mau nemenin aku."


"Apa kamu nggak lihat bagaimana Elina tadi? Selama kami menikah, aku belum pernah melihatnya semarah ini."


"Sudahlah, Mas. Biarkan saja."

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa membiarkannya saja? Kalau dia benar-benar menuntutku bercerai, aku akan kehilangan segalanya. Perusahaan, rumah, mobil, bahkan rumah ini kubeli dari uangnya."


"A-a-pa? Jadi semua kekayaan yang yang kamu miliki bukan milik Mas sepenuhnya?"


Adrian menggelengkan kepalanya.


'Semuanya milik Elina. Hak waris pun jatuh pada ke tiga anaknya."


"Sudah cepat kamu kejar dia. Aku nggak mau kalau aku sampai jadi gelandangan."


Alicya mengambil kunci mobil dari atas meja lalu memberikannya pada Adrian.


Pria itu pun lantas meninggalkan rumah Alicya.


Sementara itu di dalam taksi.


"Jika Nyonya ingin menangis, menangis lah. Saya tahu apa yang Nyonya rasakan sekarang. Dikhianati orang yang kita sayangi rasanya memang begitu menyakitkan," ucap pengemudi taksi.


Tangis Elina benar-benar pecah. Terlalu munafik jika dia harus mengatakan jika dirinya baik-baik saja.


Sesampainya di rumah.


Mendapati sang ibu kembali ke rumah dengan berurai air mata, tentu saja membuat seisi rumah keheranan sekaligus kebingungan.


"Ibu kenapa?" tanya Hannan.


"Apa sesuatu terjadi, Bu?" Adnan.

__ADS_1


"Ayah kalian … Ayah kalian … hu …hu …hu …"


"Kenapa dengan ayah?"


"Benar kata kalian. Pria itu berselingkuh."


"Dari mana Ibu tahu?"


"Ibu melihat dengan mata kepala ibu sendiri ayah kalian memasuki rumah perempuan itu. Bahkan mereka saling memanggil sayang," papar sang ibu.


"Dari awal kami sudah curiga jika ayah menyembunyikan sesuatu. Tapi setiap kami menyelidikinya, ayah sekolah tahu jika kami mengawasinya. Selama itu pula dia akan membantah perselingkuhannya," ucap si bungsu Adnan.


"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut-ribut? Elina, kamu kenapa, Nak?" cecar nyonya Arimbi yang baru saja muncul dari dalam kamarnya.


"Kecurigaan ibu tentang perselingkuhan ayah sudah terbukti, Nek. Barusan mengikuti ayah, dan ternyata dia mendatangi rumah perempuan lain," jelas Adnan.


"Dasar laki-laki tidak tahu diuntung! Elina, ibu mau kamu urus perceraian kalian secepatnya!"


"Nenek benar. Laki-laki itu harus membayar mahal sebuah pengkhianatan!"


Hannan menimpali.


Beberapa saat kemudian terdengar suara deru mobil dari arah halaman. Rupanya Adrian mengikuti Elina pulang.


"Elina, Sayang. Dengar dulu penjelasanku. Aku dan perempuan itu tidak memiliki hubungan apapun."


"Aku tidak mau mendengar penjelasan apapun lagi. Detik ini juga kemasi barang-barangmu. Rumah ini tidak pantas ditinggali seorang pengkhianat!"

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2