
Hujan baru berhenti sekitar setengah jam kemudian.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita," ucap Rayhan sembari mengambil posisi jongkok.
"Aku jalan kaki saja, Mas. Kakiku sudah mendingan. Lagipula di depan sana banyak rumah penduduk. Aku tidak ingin mereka berprasangka buruk pada kita."
"Kamu yakin bisa jalan sendiri?"
"Insyaallah bisa, Mas."
Shanum mengangkat kakinya perlahan. Nyatanya ia masih merasa kesakitan saat menggerakkan anggota tubuhnya itu.
"Kalau sakit jangan dipaksa. Aku telepon Adnan saja biar menjemput kita lalu mengantarmu ke bidan desa." Rayyan mengambil ponselnya dari dalam saku celananya lalu menghubungi nomor adik bungsunya itu.
[Halo, Nan. Kamu jemput kamu sekarang]
[Tadi kalian pergie makam jalan kaki 'bukan? Kenapa sekarang minta dijemput?]
[Shanum mengalami kecelakaan.]
[Astaga! Kecelakaan apa? Lantas, dia terluka parah nggak?]
[Tidak usah banyak tanya. Cepat jemput kami di pos ronda di dekat makam.]
[OK! Tunggu sebentar.]
Rayhan mengakhiri percakapan.
Beberapa saat kemudian Adnan muncul dengan mengendarai mobil Rayhan.
"Kamu kenapa, Num? Mana yang sakit? Parah nggak?" cecarnya.
__ADS_1
"Kaki Shanum terluka karena tertimpa dahan pohon yang patah saat di makam tadi. Kalau bukan karena dia, mungkin aku sudah celaka."
"Coba kulihat kakimu." Adnan menghampiri Shanum lalu mengamati bagian kakinya yang berdarah dan bengkak itu.
"Astaga. Kakimu terluka parah. Kita langsung ke rumah sakit saja."
"Memangnya kamu tahu di mana rung sakit di daerah ini?"
"Ehm … enggak."
"Kita ke bidan desa saja, Mas," sela Shanum.
"Rumahnya di sebelah mana?"
"Di perbatasan desa."
"Ya sudah, kita langsung ke sana saja."
Rahyan dengan dibantu Adnan memapah Shanum masuk ke dalam mobil. Tidak berselang lama Adnan pun melajukan mobil Rayhan menuju rumah bidan desa.
"Mbak Shanum ya? Kemana saja, Mbak? Sudah lama sekali tidak kelihatan. Dulu sebelum pak kakek Yahya meninggal dunia kamu sering sekali menemani beliau berobat ke sini."
"Saya sekarang bekerja di kota, Bu."
"Bukannya paman dan bibimu punya banyak usaha di sini, kenapa kamu tidak bantu-bantu mereka saja?"
"Shanum ini kan diu- …"
Adnan belum sempat menyelesaikan kalimatnya namun tiba-tiba Rayhan menginjak salah satu kakinya.
"Mungkin Shanum ingin mencari pengalaman sekaligus belajar hidup mandiri, Bu," tukas Rayhan.
__ADS_1
"Oh ya, Mas-mas ini siapa ya? Sepertinya bukan penduduk desa ini."
"Mas Rayhan dan mas Adnan ini adalah putera dari majikan saya, Bu," jelas Shanum.
"Wah, kalian mengawal Shanum dari kota ke desa ini ya? Beruntung sekali kamu, Num, memiliki majikan sebaik mereka."
"Sebenarnya tujuan kami ke desa selain menemani Shanum, adik saya yang sulung berniat mengadakan penelitian untuk bahan skripsi nya," jelas Rayhan.
"Ngomong-ngomong kakimu kenapa?" tanya bidan yang kerap disapa bidan Lia itu."
"Ehm … ini, Bu. Tadi saat saya di makam kaki saya tertimpa dahan pohon yang patah."
"Sampai bengkak begitu, pasti sakit sekali. Mari saya bersihkan dulu lukanya."
Bidan Lia memapah Shanum lalu mengajaknya memasuki bilik periksa.
"Bagaimana dengan luka di kaki saya, Bu?" tanya Shanum sesaat setelah bidan desa itu selesai memeriksa dan membersihkan luka di kakinya.
"Luka di kakimu cukup parah. Jika boleh saya sarankan, kamu istirahat total untuk beberapa hari ke depan."
Raut wajah Shanum pun sontak kebingungan.
"Jika aku harus beristirahat total, bagaimana dengan pekerjaanku?" batinnya.
"Sudah, menurut saja apa kata bu bidan," ucap Rayhan.
"Tapi, bagaimana dengan pekerjaanku? Lagipula aku mau tinggal di mana di desa ini?" tanya Shanum.
"Kamu tetap ikut kami ke kota, tapi di sana kamu istirahat dulu untuk beberapa hari," ucap Adnan.
"Bagaimana jika tuan dan nyonya tidak setuju?"
__ADS_1
"Itu akan menjadi tanggung jawabku," ucap Rahyan dan Adnan bersamaan.
Bersambung …