Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 9


__ADS_3

Shanum membuka matanya perlahan.


Wajah yang pertama kali dilihatnya adalah bi Sumi.


"Alhamdulillah, kamu sadar juga, Nak," ucapnya.


"Bi Sumi … aku di mana, Bi?"


"Kamu di klinik, Nak."


Shanum berpikir sejenak, hingga akhirnya ia mengingat apa yang terjadi pagi tadi.


"Siapa yang membawaku kesini, Bi? Seingatku tadi aku sedang membersihkan gudang, lalu aku melihat ular, dan ular itu tiba-tiba mematuk kaki kiriku."


"Mas Rayhan yang membawamu ke sini."


"Mas Rayhan?"


"Ya. Tadi kebetulan mas Rayhan ada di garasi. Dia yang membopongmu ke dalam mobilnya lalu membawamu ke klinik ini," papar bi Sumi.


"Apa, Bi? Membopongku?" Tiba-tiba saja Shanum salah tingkah.


"Kamu jangan ke GR an. Tadi kamu pingsan, memangnya dengan cara apa lagi aku membawamu ke mobil jika tidak dengan cara itu?!" sungut Rayhan yang tiba-tiba saja memasuki ruang perawatan.


"Ehm … terima kasih, Mas."


"Merepotkan saja!" ketus Rayhan. Ia lantas membalikkan badannya lalu beranjak meninggalkan ruangan tersebut.


Tidak lama terdengar suara deru mobil yang menjauh yang menandakan sulung dari tiga bersaudara itu meninggalkan klinik.


"Mas Rayhan mau kemana, Bi?" tanya Shanum.


"Sebenarnya tadi dia mau berangkat ke kampus, tapi karena kamu butuh pertolongan secepatnya, dia pun mengantarmu ke klinik ini dulu," jelas bi Sumi.


"Walaupun galak dan ketus, rupanya dia masih punya sisi baik," ujar Shanum.


Tidak berselang lama seorang dokter terlihat memasuki ruangan itu.


"Syukurlah anda sudah sadar," ucapnya.


"Bagaimana keadaan saya, Dok? Apa ular itu berbisa? Apa bisa nya berbahaya? Apakah saya akan, …"


Dokter berhijab itu mengulas senyum.


"Mbak ehm …"


"Nama saya Shanum, Dok."


"Mbak Shanum tidak perlu khawatir. Ular yang tadi menggigit anda memang jenis ular berbisa. Saya sudah memberikan suntikan serum anti bisa agar bisa ular itu tidak menyebar," jelas dokter.


"Alhamdulillah. Saya tadi sudah pasrah kalau memang saya harus meninggal karena gigitan ular itu," ujar Shanum.


"Sudahlah, yang penting kamu selamat." Bi Sumi menimpali.


"Ya, beruntung tadi Mbak Shanum cepat dibawa ke sini. Jika terlambat sedikit saja mungkin akan lain ceritanya."


"Apa saya sudah boleh pulang sekarang, Dok?"


"Saya sarankan hari ini Mbak Shanum menginap di klinik itu dan baru pulang besok pagi."


"Kalau saya tidak pulang, bagaimana dengan pekerjaan saya?"


"Sudah, menurut saja, urusan pekerjaan biar bibi yang beresin."


"Tapi, Bi, …"


"Tidak apa, tapi bibi minta maaf tidak bisa menemani kamu di sini. Kamu nggak apa 'kan sendirian?"

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok Bi. Bi Sumi pulang saja. Kalau Bibi di sini siapa yang akan merawat nyonya besar."


"Oh ya, semua biaya perawatan sudah ditanggung mas yang tadi pakai baju biru itu," ucap dokter.


"Namanya mas Raihan, Dok," ucap bi Sumi. Dokter mengangguk paham.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter itu pun lantas meninggalkan ruangan.


"Sepertinya bibi juga harus pulang sekarang. Bayi besar itu akan tantrum jika bangun tidur tidak ada bibi." Keduanya lalu terkekeh.


"Bibi hati-hati."


"Ya. Kalau kamu ada perlu apa-apa minta bantuan perawat saja. Assalamualaikum."


Bi Sumi pun lantas meninggalkan klinik.


Tiba-tiba seseorang membuka tirai pembatas ruangan.


"Hai," sapanya.


Shanum membalasnya dengan senyuman.


"Kamu tidak punya saudara?" tanya seorang pemuda yang juga dirawat di ruangan itu.


"Aku berasal dari desa dan merantau di kota ini. Kamu sendiri?"


"Aku juga berasal dari kota S. Di sini bekerja di pabrik sepatu. Kalau siang begini semua kawan-kawanku bekerja.


"Kamu sakit apa?" tanya Shanum.


"Maag akut."


"Pasti pola makanmu tidak teratur."


"Ya, begitu lah. Aku tinggal di tempat kost. Kalau tanggal tua aku sering kehabisan uang, jadi sehari hanya makan siang saja."


"Memang lumayan besar, tapi setiap bulan aku harus mengirim uang untuk biaya sekolah ke empat adik-adikku. Dua orang duduk di bangku SMA, satu orang duduk di bangku SMP, sementara satu orang lainnya di bangku SD."


"Bekerja keras itu tidak ada salahnya, tapi jangan sampai mengabaikan kesehatanmu. Kalau kamu sakit begini, bukankah kamu harus absen bekerja?"


"Oh ya, kita belum kenalan. Namaku Fatih."


"Namaku Shanum."


"Namamu bagus juga."


"Kakek yang memberikan nama itu."


"Oh ya, memangnya kamu bekerja di mana?" tanya Fatih.


"Aku bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah tuan Adrian Permana."


"Oh, di keluarga pengusaha itu rupanya."


"Kamu tahu?"


"Siapa yang tidak mengenal pengusaha besar itu. Aku dengar pak Adrian juga menjadi salah satu investor di pabrik tempatku bekerja," ungkap Fatih.


"Begitu rupanya."


"Bagaimana kamu bisa digigit ular?" tanya Fatih lagi.


"Tadi pagi pak Adrian menyuruhku untuk membersihkan gudang. Mungkin ular itu sudah lama menjadi penghuni gudang."


"Kamu masih bernasib baik. Ada seorang kawanku yang tewas setelah digigit ular."


"Sungguh?"

__ADS_1


"Ya. Ular itu tiba-tiba saja muncul dari plafon kamar mandi tempat kost ku. Aku sendiri yang pertama ke menemukan mayatnya."


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un."


"Ya sudah, aku istirahat dulu," ucap Fatih. Dia lantas menutup kembali tirai pembatas ruangan.


****


Siang harinya.


Adnan baru saja memasuki ruang tamu. Ia terlihat mencari keberadaan Shanum dengan maksud meminta bantuannya untuk menjahit tas nya yang sobek. Ia sudah mencari keberadaan gadis itu di setiap ruangan namun hasilnya nihil.


"Mas Adnan mencari Shanum ya?" tanya bi Sumi.


"Iya, Bi. Aku ingin memintanya menjahit tasku yang sobek. Bibi 'kan tidak bisa memasukkan benang ke dalam jarum."


"Shanum tidak ada ada di rumah."


"Memangnya dia kemana?"


"Shanum dirawat di klinik."


"Astaga! Apa yang terjadi padanya? Sepertinya pagi tadi dia baik-baik saja."


"Shanum digigit ular saat membersihkan gudang."


"Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?"


"Dokter mengatakan ular yang menggigitnya adalah jenis ular berbisa. Beruntung mas Rayhan belum berangkat ke kampus, jadi dia yang tadi membawanya ke klinik," jelas bi Sumi.


"Syukurlah, kalau dia baik-baik saja. Terus, siapa yang menemaninya di klinik, Bi?"


"Sendirian saja, Mas. Bibi tidak bisa lama-lama meninggalkan nyonya Arimbi."


"Ya sudah, biar aku yang menemaninya di klinik."


"Tapi, Mas, …"


"Kasihan kalau butuh apa-apa tidak ada yang membantu."


"Di sana ada dokter dan perawat kok Mas."


"Pasien di sana tidak hanya Shanum 'bukan?"


"Bagaimana kalau nanti tuan dan nyonya tanya Mas Adnan di mana?"


"Memangnya sejak kapan ayah dan ibu peduli pada urusan anak-anaknya? Ya sudah, aku pergi dulu."


"Mas Adnan nggak makan siang dulu?"


"Itu urusan gampang. Aku bisa makan di mana saja."


"Ya sudah, Mas Adnan hati-hati."


Bungsu dari tiga bersaudara itu pun lantas beranjak dari ruang tamu lalu menghampiri mobilnya yang berada di halaman rumah. Tidak lama kemudian mobil itu pun melaju menuju klinik.


Sesampainya di klinik.


"Permisi, pasien atas nama Shanum di ruangan mana, Sus?" tanya Adnan pada seorang perawat.


"Di ruang nomor 5, Mas."


"Terima kasih." Adnan berlalu dari ruang tunggu lalu menuju ruang perawatan tersebut. Ruangan itu ditempati empat orang pasien yang masing-masing dibatasi tirai.


Adnan baru saja mendorong pintu ruang perawatan, namun ia tertegun saat mendengar seseorang yang tengah melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Entah mengapa tiba-tiba perasaannya begitu tenang.


"Suara siapa ini?" gumamnya.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2