Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 36


__ADS_3

Keesokan paginya.


"Kamu mau kemana, pagi-pagi begini sudah rapi?" tegur nyonya Arimbi saat mendapati Shanum keluar dari dalam kamarnya dengan mengenakan jaket.


"Ehm … saya mau pulang kampung, Nyonya."


"Pulang kampung? Apa kamu tidak betah bekerja di rumah ini?" Tiba-tiba raut wajah sang nyonya besar berubah kebingungan.


"Bukan begitu, Nyonya. Saya minta cuti sehari saja karena ingin berziarah ke makam almarhum kakek."


"Seandainya keadaan saya tidak begini, saya pasti ikut berziarah ke makam Yahya."


Shanum mengulas senyum tipis.


"Tidak apa, Nyonya. Nyonya cukup mendo'akan kakek saya dalam hati. Insyaallah tetap sampai," ujarnya.


"Kamu pulang sendiri?"


"Tidak, Nyonya. Mas Hannan mengantar saya. Kebetulan dia akan melakukan penelitian di kampung asal saya."


"Syukurlah, saya tenang jika kamu bersama salah satu cucu saya," ucap nyonya Arimbi. Shanum menanggapinya dengan senyum simpul di bibir.


Obrolan mereka rupanya terdengar hingga ke kamar Adnan yang juga berada di lantai dasar.


"Kamu mau kemana pagi-pagi begini?" tanyanya.


"Ehm … aku mau pulang kampung."


"Loh, kok tiba-tiba pulang kampung. Jangan-jangan kamu tidak betah di sini karena sering kusuruh ini itu ya?"

__ADS_1


"Bukan kok, Mas. Aku pulang ke kampung untuk berziarah ke makam kakek."


"Oh, kirain mau berhenti bekerja."


"Tidak, Mas. Aku hanya minta cuti sehari saja. Insyaallah malam nanti aku sudah ku kembali lagi di rumah ini."


"Aku anterin ya."


"Tidak usah, Mas. Mas Hannan yang akan mengantarku."


"Mas Hannan pasti ingin jalan-jalan saja."


"Siapa yang mau jalan-jalan? Aku ke kampung Shanum untuk melakukan penelitian sebagai bahan pembuatan skripsi." Hannan yang baru saja menuruni tangga itu menimpali.


"Alah, itu cuma modus Mas Hannan saja agar bisa jalan-jalan berdua dengan Shanum."


"Kami kok nuduh aku begitu sih! Beberapa waktu yang lalu 'kan aku sudah pernah bilang ingin mengunjungi desa Mekarsari sebagai bahan pembuatan skripsi."


"Kamu yang amnesia."


"Enak saja, ingatanku masih normal kok. Mas Hanan memang nggak pernah bicara begitu."


"Aduh, kalian kok jadi berantem begini sih! Adnan, kakakmu ini mendatangi kampung Shanum karena punya tujuan, bukan hanya ingin jalan-jalan saja," sela nyonya Arimbi.


"Itu hanya akal-akalannya saja, Nek."


"Ya Allah, kenapa kalian jadi ribut begini? Biar adil aku ke pulang ke kampungku naik bus saja," ucap Shanum.


"Ini masih jam setengah enam pagi, mana ada bus di terminal," ucap Adnan.

__ADS_1


"Adnan benar, biasanya bus antar kota baru beroperasi sekitar pukul delapan pagi," tukas nyonya Arimbi.


"Sudahlah, biar aku antar saja dengan mobilku," ucap Adnan.


"Nggak bisa begitu dong. Dari awal aku yang sudah berencana mengantarnya pulang kampung sekalian aku mengadakan penelitian untuk bahan pembuatan skripsi."


"Tidak harus hari ini 'bukan? Lagipula skripsi itu jangka waktunya panjang. Biar aku saja yang ngantar," ucap Adnan.


"Ayo, Shanum, kita berangkat sekarang," ucap Hannan.


"Sama aku saja," ucap Adnan.


"Ayo, nanti keburu siang."


"Sama aku saja, aku kalau menyetir mobil nggak ngebut kok."


"Astaga. Sampai kapan kalian akan berdebat. Biar adil Rayhan saja yang mengantar Shanum pulang ke kampungnya. Rayhan! Rayhan!"


Tidak lama kemudian sulung dari tiga bersaudara itu pun turun dari tangga lalu menghampiri mereka.


"Ada apa memanggilku pagi-pagi begini Aku masih ngantuk, Nek," ucap Rayhan. Dia lantas mengucek matanya.


"Sekarang juga kamu siap-siap."


"Memangnya Nenek mau mengajakku kemana?"


"Bukan nenek yang mau pergi. Tapi daripada kedua adikmu ribut, kamu saja yang antar Shanum pulang ke kampungnya."


"A-a-pa, Nek?"

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2