
"Mas Adnan?"
"Memangnya kamu siapa berani berbicara begitu? Saat ini kamu hanya pacarnya 'bukan?"
"Aku hanya mengingatkannya saja agar tidak banyak tingkah."
"Shanum tidak banyak tingkah kok. Justru kamu yang berburuk sangka padanya.
"Sudah, Mas. Jangan berdebat lagi," ujar Shanum.
"Hufht!" Naomi mendengus kesal sebelum akhirnya berlalu dari hadapan keduanya.
"Kenapa lagi gadis manja itu?" tanya bi Sumi yang tiba-tiba muncul di ruang dapur.
"Ah, tidak apa kok, Bi."
"Gadis itu pasti bicara yang tidak-tidak ya sama kamu."
"Nggak kok, Bi. Ya sudah, aku mau menyetrika baju dulu." Shanum beranjak dari dapur lalu berjalan menuju ruang menyetrika.
Naomi baru saja keluar dari rumah. Di saat itulah dia berpapasan dengan sang pemilik rumah, tuan Adrian Permana.
"Selamat siang, Tuan Adrian," sapanya.
"Selamat siang. Tunggu! Bukankah kamu Naomi teman dekatnya Hanan?"
"Benar, Tuan. Saya datang ke rumah ini untuk menjenguk Hanan."
"Bukankah ini masih siang? Kenapa kamu buru-buru pulang?"
"Sebenarnya saya masih ingin berlama-lama di sini, tapi sepertinya kehadiran saya tidak diinginkan."
"Apa maksudmu bicara begitu?"
__ADS_1
"Ini karena pembantu baru yang suka mencari muka itu."
"Maksud kamu Shanum?"
"Memangnya siapa lagi pembantu baru di rumah ini kalau bukan dia."
"Setahu saya dia gadis yang rajin dan selalu mengerjakan tugasnya dengan baik."
"Tuan belum tahu aslinya saja. Dia tidak lebih dari seorang penjilat. Aku hanya takut kalau sampai Hanan diperdaya olehnya."
"Kamu tenang saja, saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kamu tahu 'bukan siapa keluarga saya? Mana mungkin saya membiarkan anak saya dekat di seorang pembantu? Sama saja saya menjatuhkan martabat keluarga saya."
"Ya sudah, saya permisi dulu, Tuan. Selamat siang."
"Kamu bawa mobil?" tanya tuan Adrian.
"Tidak, Tuan. Dari rumah sakit saya langsung ke sini.
"Tidak usah, Tuan. Saya bisa naik taksi."
"Ya sudah, kalau begitu hati-hati."
"Saya permisi dulu, Tuan."
Naomi pun lantas meninggalkan rumah itu.
"Kenapa Naomi marah-marah setelah keluar dari rumah ini?" tanya tuan Adrian pada Shanum yang saat itu masih berada di dalam ruang menyetrika.
"Ehm … mungkin mbak Naomi kesal karena nyonya Elina mengatakan jika masakannya keasinan."
"Oh, jadi kamu yang menggantikannya memasak untuk mendapatkan pujian, begitu?"
"Bu-bu-bukan begitu, Tuan. Mas Hanan yang meminta saya untuk memasak sayur sop yang baru untuknya."
__ADS_1
"Dengan cara itu kamu mendapatkan pujian dari seisi rumah ini 'bukan? Saya ingatkan, jangan pernah mencoba untuk mencari perhatian apalagi mendekati anak-anak saya. Kamu harus tahu sadar diri siapa kamu dan siapa keluarga ini. Jadi, kamu jangan berharap lebih," ucap tuan Adrian. Dia lantas berlalu dari hadapan Shanum.
Entah mengapa kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulut tuan Adrian membuat batin Shanum terasa perih.
"Aww!" Shanum memekik kesakitan lantaran tangannya tiba-tiba menyentuh alat setrika.
"Kamu kenapa?" tanya Rayhan yang kebetulan melintas di depan ruangan itu.
"Tidak apa, Mas."
"Astaga! Jari kamu kenapa?" Shanum berusaha menyembunyikan tangan kanannya di balik badannya namun Rayhan terlanjur melihatnya.
"Ehm … tangan saya tidak sengaja terkena setrika panas ini."
Tiba-tiba sulung dari tiga bersaudara itu mengamati wajah Shanum.
"Begitu saja kamu menangis. Apa rasanya sakit sekali? Tunggu sebentar, saya ambil obat dulu."
Rayhan berlalu dari hadapan Shanum. Tidak lama kemudian ia kembali ke ruangan itu dengan membawa kotak obat.
"Biar saya obati lukanya," ucap Rayhan.
"Ti-ti-tidak usah, Mas."
"Yang luka itu tangan kananmu, memangnya kamu bisa mengobatinya sendiri? Sini tanganmu."
Meski sungkan, Shanum akhirnya pasrah saat Rayhan menyentuh tangan kanannya lalu mengoleskan obat luka bakar di sana.
"Te-te-rima kasih, Mas."
Detik kemudian dua pasang netra itu pun bertemu.
Bersambung …
__ADS_1