Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 53


__ADS_3

"Elina … aku mengaku salah. Kumohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku." Adrian menjatuhkan lututnya di lantai lalu bersimpuh di kaki wanita yang sudah dinikahi lebih dari 25 tahun itu.


"Apa ucapan Elina masih kurang jelas? Dia tidak bisa melanjutkan pernikahan denganmu," sela nyonya Arimbi.


"Ayah juga harus tahu, serapat-rapatnya menyimpan bangkai, pasti akan tercium baunya. Mungkin selama ini Ayah bisa bermain rapi, tapi Tuhan tidak tidur. Suatu saat kebenaran pasti akan terungkap," timpal Hannan.


"Ayah mengaku salah, Ayah janji tidak akan mengulanginya lagi."


Elina yang sudah terlanjur kecewa dan sakit hati tentu saja enggan menanggapi ucapan Adrian. Dia justru memilih beranjak dari ruangan itu lalu menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


"Aku akan mengurus perceraian kita secepatnya," ucapnya sembari melemparkan koper ke hadapan Adrian."


"Aku begitu mencintaimu, Elin. Kumohon jangan tinggalkan aku."


"Aku bisa memaafkan semua kesalahan, tapi tidak dengan perselingkuhan!" tegas Elina. Dia lantas menutup pintu kamarnya.


Dengan langkah gontai Adrian mengangkat koper berisi pakaian miliknya lalu berjalan menuruni anak tangga.


"Saat masuk ke rumah ini, kamu tidak membawa apapun. Jadi, saat keluar dari rumah ini saya pastikan kamu juga tidak akan membawa apapun selain pakaian yang melekat di badan!" tegas nyonya Arimbi.

__ADS_1


"Aku bersumpah kalian akan menyesal telah melakukan ini padaku!" seru Adrian.


"Letakkan kunci mobil itu di atas meja. Handphone, jam tangan, juga dompetmu," titah nyonya Arimbi.


Meski kesal, Adrian tidak punya pilihan selain menurut. Dia pun lantas meletakkan barang-barang tersebut di atas meja.


Mendapati Adrian dihakimi seisi rumah, tentu saja membuat bi Sumi yang sedari tadi berkutat di dapur itu penasaran. Dia pun berjalan menghampiri ruang tamu.


"Ya Allah, ada apa ini? Kenapa Tuan Adrian membawa koper?" tanyanya.


"Hari ini ibu membongkar perselingkuhannya," jelas Adnan.


"Astaghfirullahaldzim. Jadi, dugaan kalian selama ini benar?"


"Ya Allah, Tuan. Kurang baik apa nyonya Elina sama Tuan. Kenapa Tuan tega menyakitinya?"


"Diam kamu! Kamu tidak berkomentar apapun!" sentak Adrian.


"Sekarang juga tinggalkan rumah ini! Jangan pernah berani muncul kembali di hadapan kami!" seru nyonya Arimbi.

__ADS_1


"Aku tidak akan tinggal diam diperlakukan begini. Aku akan membalas perbuatan kalian!" batin Adrian. Dia mengangkat koper berisi pakaian miliknya lalu meninggalkan ruangan tersebut.


"Hampiri ibu kalian, dia pasti butuh dukungan kalian," titah nyonya Arimbi.


"Baik, Nek."


Hannan dan Adnan pun lantas menghampiri kamar sang ibu yang berada di lantai dua.


"Apa kami boleh masuk, Bu?"


tanya Adnan dari depan pintu.


"Masuklah."


Keduanya hanya bisa memandang wajah sang ibu dengan penuh iba. Bagaimana tidak? Pria yang ia cintai mati-matian ternyata menorehkan luka yang begitu dalam di hatinya.


"Ibu tidak perlu bersedih, apalagi menyesal. Apa yang Ibu lakukan sudah benar," ucap Hannan sembari mengambil tempat duduk persis di sebelahnya.


"Benar, Bu. Air mata Ibu terlalu berharga untuk menangisi pria tidak tahu diri sepertinya. Aku yakin hidup Ibu akan lebih bahagia tanpa nya." Adnan mengambil selembar tissue dari atas meja lalu menyeka air mata Elina yang sedari tadi membanjiri wajahnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Nak. Kalian adalah adalah alasan ini untuk tetap bertahan. Ibu begitu beruntung memiliki kalian," ujar Elina.


Bersambung …


__ADS_2