
Dini hari Dini terbangun lantaran ponsel Faisal berdering singkat. Ia pun bergegas meraih ponsel suaminya itu. Beruntung pemiliknya tidak mengunci layar ponsel itu sehingga memudahkan Dini memeriksa isinya terutama aplikasi percakapan. Dari banyaknya pesan, perhatiannya hanya tertuju pada sebuah pesan paling baru dari seseorang bernama Anton.
"Siapa Anton? Apa dia pelanggan bengkel? Kenapa mengirim pesan dini hari begini?" gumamnya.
Demi menjawab rasa penasarannya, Dini pun membuka pesan tersebut.
[Bos]
Dini la lalu mengamati foto profil kontak tersebut. Bukan wajah asli, melainkan hanya gambar sepeda motor Harley Davidson.
"Jika dilihat dari foto profil dan isi pesannya, sepertinya dia laki-laki." Dini menghela nafas lega. Ia pun lantas meletakkan kembali ponsel Faisal di tempatnya semula.
Keesokan paginya.
"Anton itu siapa?" tanya Dini saat mendapati suami itu bersiap keluar rumah.
"Ehm … kenapa kamu tiba-tiba bertanya hal itu?"
"Tinggal jawab saja apa susahnya."
"Ehm … Anton itu salah satu pelanggan bengkel kita."
"Awas saja kalau kamu berani macam-macam di belakangku!" ancam Dini.
"Tidak akan, Sayang. Kamu tidak usah berpikir yang macam-macam. Kamu adalah satu-satunya perempuan yang cintai. Ya sudah, aku berangkat dulu."
"Hati-hati."
Faisal pun lantas beranjak meninggalkan rumahnya.
Di tengah perjalanan ia terlihat meghentikan laju kendaraannya. Rupanya dia menelepon seseorang.
__ADS_1
[Halo. Harus berapa kali kubilang, jangan pernah sekalipun mengirim pesan padaku. Semalam istriku yang membaca pesan darimu]
[Maaf, Sayang. Aku tidak bisa tidur, jadi aku mengirim pesan padamu. Apa istrimu curiga? Aku hanya mengirim pesan berisi satu kata saja.]
[Jangan kamu ulangi lagi atau urusannya akan runyam]
[Ya, Sayang. Oh ya, kamu sudah sampai di bengkel ya?]
[Belum, aku masih di jalan. Ingat! Jangan pernah sekalipun menemuiku di bengkel]
[Astaga. Ini gak boleh, itu nggak boleh. Aku 'kan juga kangen ingin bertemu dengamu.]
[Besok kita ketemu di cafe]
[Kenapa harus besok? Aku kangen nya sekarang]
[Astaga. Mengerti lah posisiku sekarang. Kita tidak bisa bertemu dengan bebas]
[Mengapa kita tidak menikah saja?]
[Aku ini perempuan, Mas. Aku tidak mau jika selamanya hanya menjadi barang mainanmu]
[Beri aku waktu, Ningrum. Jangan menekanku begini]
[Mau sampai kapan?]
[Sudah, aku harus membuka bengkel sekarang]
Faisal mengakhiri percakapan.
Sesampainya di bengkel.
__ADS_1
Meski masih pagi, di bengkel itu sudah terlihat cukup ramai.
"Kenapa baru datang sih, Mas? Daritadi saya menunggu. Ban sepeda motor saya bocor dan saya harus segera sampai di tempat kerja," ucap seorang pria.
"Saya yang lebih dulu datang. Sepertinya sepeda motor saya perlu ganti spare part." Pria lainnya menimpali.
"Jelas-jelas saya yang lebih dulu datang. Kamu jangan main serobot gitu."
"Sepeda motor saya mau dipakai ke luar kota hari ini."
"Saya juga berkejaran dengan waktu. Sebelum pukul delapan pagi saya harus tiba di kantor atau saya akan terlambat dan gaji saya dipotong."
"Sepeda motor saya duluan yang datang. Rem nya rusak."
"Semuanya jangan ribut, satu persatu kendaraan kalian akan saya perbaiki."
"Sepeda motor saya dulu!"
"Mana bisa begitu. Jelas-jelas saya yang datang paling awal. Jadi sepea motor saya yang harus diperbaiki lebih dulu."
"Saya harus segera tiba di tempat kerja. Ban sepeda motor saya
Yang harus secepatnya ditambal."
"Ya sudah, saya kerjakan dulu dari yang kerusakannya paling parah, yang harus ganti spare part."
"Tolong lah, Mas. Kalau saya harus menunggu sepeda motornya diganti sparepart, saya akan terlambat sampai ke kantor."
"Maaf, Pak. Saya harus memperbaiki sepeda motor milik bapak ini dulu. Jika anda tidak mau sabar mengantre, silahkan cari bengkel lain," ucap Faisal.
"Oh, saya tahu sekarang. Mas mendahulukan mana yang ongkosnya lebih besar 'bukan? Jadi Mas menyepelekan saya yang hanya akan memberi upah sepuluh ribu rupiah. Ya sudah kalau begitu, saya cari bengkel lain saja yang lebih baik dari bengkel ini."
__ADS_1
Pria itu pun lantas meninggalkan bengkel Faisal.
Bersambung…