Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 39


__ADS_3

Sekitar pukul sembilan pagi Shanum dan rombongannya tiba di desa kelahiran Shanum yakni sebuah perkampungan kampung kecil bernama Kampung Mekarsari.


"Kita langsung ke makam atau kemana nih?" tanya Adnan.


"Ehm … kita mampir ke rumah temanku saja."


"Temanmu perempuan 'kan? Cantik nggak?"


"Ish! Apa isi kepalamu itu hanya perempuan cantik. Mau dikemanakan itu si Erren," celetuk Hannan.


"Sekarang posisiku bukan di kota, jadi statusku jadi jomblo." Adnan terkekeh.


"Huuu … dasar Playboy cap tokek!"


"Adnan, ini di kampung orang, kamu harus bisa jaga sikap. Jangan bikin malu," ucap Rayhan.


"Iya … iya."


"Rumah kawanmu di mana?" tanya Rayhan.


"Di dekat masjid itu."


Rayhan pun lantas melajukan mobilnya menuju rumah sahabat Shanum yang bernama Nining.


"Assalamu'alaikum," sapa Shanum dari teras rumah.


"Wa'alaikumsalam," sahut seseorang dari dalam rumah.


Beberapa saat kemudian pintu terbuka.

__ADS_1


"Masyaallah, Shanum? Ini benar kamu 'kan?" Gadis berhijab lebar itu tampak kebingungan meskipun sorot matanya tampak berbinar.


"Iya, Ning. Ini aku, Shanum."


Nining pun lantas merengkuh tubuh sahabatnya itu ke dalam pelukannya.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu kembali lagi ke kampung ini," ujar Nining sesaat setelah pelukannya melonggar.


"Ehm … aku-aku hanya sehari saja di kampung ini."


"Apa?"


"Aku datang ke sini untuk berziarah ke makam kakek. Aku khawatir tidak ada yang mengurusnya."


"Kamu benar, beberapa hari yang lalu aku ke makam almarhum ayahku, kulihat makam kakek Yahya begitu kotor. Rumput liar nya juga sudah tinggi. Aku sempat berniat membersihkannya, sayang saat itu tiba-tiba hujan turun, jadi aku langsung pulang."


"Ya Allah, apa pak lek Faisal dan bibi Dini sama sekali tidak peduli dengan makam kakek?" Tiba-tiba raut wajah Shanum berubah sedih.


"Usaha baru?"


"Ya, Num. Paman dan bibimu sekarang membuka bengkel juga."


"Pasti modal usaha itu dari hasil penjualan rumah peninggalan ayahku. Aku yakin usaha mereka tidak akan bertahan lama."


Dari Shanum, pandangan Nining beralih pada tiga pemuda yang masih belum beranjak dari mobil.


"Astaghfirullahaldzim." Tiba-tiba Nining menundukkan wajahnya.


"Kamu kenapa?"

__ADS_1


"Ah, ti-ti-tidak. Aku harus menundukkan pandanganku dari laki-laki yang bukan muhrimku."


"Mereka anak-anak dari majikanku di kota. Walaupun penampilan mereka agak urakan, tapi mereka baik kok. Buktinya mereka mau mengantarku jauh-jauh ke sini."


"Ajak mereka masuk, Num. Kalian pasti lelah. Aku akan menyiapkan minuman dan camilan untuk kalian."


"Ah, tidak perlu repot-repot. Kami ke sini hanya menumpang istirahat saja kok."


"Tidak apa. Aku ke dalam dulu ya."


"Mas Rayhan, Mas Hannan, dan Mas Adnan. Pemilik rumah ini mempersilahkan kita masuk ke dalam," ucap Shanum pada ketiga tampan bersaudara itu.


"Dari tadi kek! Aku kan pingin rebahan," ucap Adnan.


"Adnan. Aku bilang apa tadi? Jaga sikap." Rayhan memelototi adik bungsunya itu.


"Yaelah. Iya … iya."


Ketiganya pun lantas turun dari mobil lalu mengikuti Shanum masuk ke dalam rumah Nining.


"Silahkan minumannya, Mas ehm … "


"Yang pake jaket hitam ini mas Rayhan, yang pake hoodie merah ini mas Hannan, dan yang pake sweater biru ini mas Adnan," jelas Shanum. Nining mengangguk paham.


"Silahkan dicoba gethuk nya. Ini buatan tangan saya sendiri," ucap Nining sembari meletakkan nampan plastik berisi gethuk. Yakni makanan yang terbuat dari singkong yang ditumbuk halus lalu ditambahkan kelapa parut dan gula jawa.


"Aku jadi penasaran rasanya." Adnan mengambil sepotong makanan manis itu lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Gila! Cuma singkong kok bisa seenak ini sih! Pasti ini karena yang mengolahnya gadis cantik, jadi rasanya enak." Adnan mulai melancarkan jurus 1001 rayuan mautnya.

__ADS_1


"Wuu … dasar tukang gombal?" seloroh Hannan.


Bersambung …


__ADS_2