
"Bagaimana perkembangan kasus Adrian?" tanya Elina pada putera sulungnya, Rayhan.
"Beberapa saat yang lalu aku mendapat kabar jika ayah sudah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan Alicya dan kini sudah ditahan di kantor polisi."
"Meski sudah membuat ibu kecewa dan sakit hati, ibu tetap saja merasa iba padanya."
"Aku paham bagaimana perasaan Ibu. Bagaimana pun dia pernah menjadi bagian dari hidup Ibu … hidup kita."
"Nak, …"
"Ya, Bu."
"Apa kamu tidak keberatan jika ibu mengajakmu menemui Adrian di kantor polisi?"
"Kenapa aku harus keberatan? Bagaimana pun dia adalah ayah kandungku, dan tidak ada istilah mantan anak ataupun mantan ayah."
"Terima kasih, Nak. Kamu mau memahami ibu."
Beberapa saat kemudian Shanum muncul dari arah dapur. Ia terlihat membawa satu keranjang besar pakaian yang baru saja dicucinya.
"Astaga. Kakimu belum pulih benar. Kenapa kamu mengangkat barang seberat itu?" tegur nyonya Elina.
"Saya tidak tega membiarkan bi Sumi mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri."
"Sudah, biarkan saja keranjang itu di sana. Ray, bantu dia angkat keranjang itu sampai di halaman," titah Elina.
"Baik, Bu." Rayhan beranjak dari tempat duduknya lalu bergegas melaksanakan apa yang diperintahkan sang ibu.
__ADS_1
"Tinggalin di sini saja biar saya yang menjemur pakaian ini," ucap Shanum.
"Saya mau ke kantor polisi sekarang."
"Mau ngapain, Mas?"
"Ibu mengajakku untuk menemui ayah."
"J-j-jadi, tuan Adrian sudah di, …"
"Ya. Polisi sudah menetapkan ayah sebagai tersangka atas kematian Alicya."
"Astaghfirullahaldzim. Berapa lama hukuman yang dijatuhkan padanya?"
"Aku belum tahu. Setelah ditahan ayah masih harus menjalani proses persidangan. Akan tetapi jika dilihat dari kasusnya, hukuman yang diterima ayah cukup berat."
"Ayah terbakar setelah bermain api. Biarlah dia mempertanggungjawabkan apa yang sudah dilakukannya."
Beberapa saat kemudian Hannan dan Adnan muncul di halaman.
"Kalian ngobrolin apa, sepertinya serius sekali," tegur si bungsu Adnan.
"Ayah sudah ditetapkan sebagai tersangka dan kini sudah berada di kantor polisi," jelas Rayhan.
"Dari awal aku sudah menduga jika ayah terlibat dalam kasus kematian Alicya," ujar Hannan.
"Aku dan ibu mau ke kantor polisi sekarang. Apa kalian mau ikut?" tanya Rayhan.
__ADS_1
"Ngapain juga aku menemui laki-laki pengkhianat itu," ucap Adnan ketus.
"Kesalahan ayah memang terlalu besar, tapi biar bagaimanapun dia tetap ayah kita. Paling tidak dengan menemuinya, dia akan merasa mendapat dukungan," ucap Rayhan.
"Aku tidak mau menemuinya. Jika kalian ingin pergi, pergi saja," ucap Adnan. Dia pun lantas meninggalkan halaman rumah.
"Adnan!" panggil Hannan.
"Sudahlah, Adnan hanya butuh waktu untuk berdamai dengan hatinya sendiri. Aku tidak akan memaksamu juga untuk ikut."
"Mari, Nak. Kita berangkat sekarang," ucap nyonya Elina yang kini sudah berdiri di hadapan mereka.
"Kami pergi dulu," ucap Rayhan sembari menarik handle pintu mobilnya.
"Tunggu, aku ikut," ucap Hannan.
Nyonya Elina mengulas senyum tipis.
"Kalian memang anak-anak yang baik. Setelah apa yang Adrian lakukan, kalian masih mau menemuinya," ujarnya.
"Jika Ibu yang perasaannya lebih hancur dari kami saja masih mau menemui ayah, kenapa kami tidak?" ujar Hannan.
"Kami bertiga pergi dulu, Num," ucap nyonya Elina.
"Hati-hati, Nyonya … Mas Rayhan … Mas Hannan.
Nyonya Elina dan kedua anak laki-lakinya itu pun lalu masuk ke dalam mobil Rayhan untuk selanjutnya menuju kantor polisi.
__ADS_1
Bersambung …