Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 48


__ADS_3

Rayhan dan Shanum tiba di kota saat jam makan siang.


"Bagaimana perjalanannya tadi?" tanya nyonya Arimbi.


"Semuanya lancar, Nyonya."


"Syukurlah. Rayhan, sekarang juga kamu bawa Shanum ke rumah sakit. Pastikan dia mendapatkan perawatan yang terbaik."


"Tidak usah berlebihan, Nyonya. Perawatan biasa saja."


"Saya ingin kakimu cepat sembuh."


"Hannan dan Adnan di mana, Nek?" tanya Rayhan.


"Mereka berangkat ke kampus."


"Ya sudah, saya antar Shanum ke rumah sakit sekarang," ucap Rayhan. Dia pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.


Sesampainya di rumah sakit.


Bagaimana keadaan kawan saya, Dok?" tanya Rayhan sesaat setelah dokter keluar dari ruang pemeriksaan.


"Sejak kapan kaki kawan anda terluka?"


"Ehm … dua hari yang lalu."


"Lantas, kenapa baru sekarang dibawa ke tempat rumah sakit?"


"Ehm … itu … anu, Dok."


"Ada tulang jarinya yang patah. Saya menyarankan agar secepatnya dilakukan operasi."


"A-a-pa? Operasi?"


"Benar. Jika tidak akibatnya bisa fatal".


"Astaga. Saya pikir luka nya akan segera sembuh setelah mendapatkan pengobatan dari bidan di desa nya."


"Bidan hanya memeriksa apa yang dilihatnya saja. Sementara memeriksa bagian tulang diperlukan sinar X-Ray."


"Jadi bagaimana, Dok?"

__ADS_1


"Pasien harus secepatnya menjalankan operasi."


"Baik, Dok. Jika memang itu yang terbaik menurut dokter, saya iku saja," ujar Rayhan.


"Sebelum kami melakukan tindakan, anda perlu menandatangani surat persetujuan."


"Baik, Dok."


"Mari ikut saya." Dokter beranjak dari tempat itu lalu memasuki sebuah ruangan. Rayhan dibelakangnya mengekor.


Setelah menandatangani surat persetujuan operasi, Rayhan kembali menghampiri Shanum di kamar perawatannya.


"Aku sudah boleh pulang 'kan, Mas?" tanya Shanum.


Rayhan menggelengkan kepalanya.


"Kau mungkin harus beristirahat lebih lama lagi," jawabnya.


"Apa maksud Mas Rayhan?"


"Ada tulang di kakimu yang patah. Hari ini juga kamu akan menjalani operasi."


"Benar. Aku sudah menandatangani surat persetujuannya. Sekarang perawat sedang menyiapkan ruang operasi."


"Aku takut, Mas."


"Tidak ada yang perlu kamu takuti."


"Bagaimana aku tidak takut? Kata orang dioperasi itu sakit."


"Kamu tenang saja. Saat menjalani operasi nanti kamu akan dibius, jadi kamu tidak akan merasakan sakit."


"Beneran, Mas?"


"Bener."


Tidak berselang lama pintu ruangan terbuka. Tampak dua orang perawat memasuki ruangan itu dengan mendorong trolly pasien.


"Ruang operasi sudah siap," ucap salah satu perawat.


"Baik, Dok. Teman saya juga sudah siap. Ya 'kan, Num?"

__ADS_1


"Saya-saya takut."


"Loh, tadi katanya sudah berani. Kok berubah lagi. Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Semuanya akan baik-baik saja."


"Bismillah."


"Jika Mbak Shanum sudah siap, kami akan memindahkan Mbak ke trolly ini."


"Insyaallah saya siap, Sus."


Kedua perawat itu pun lantas mengangkat tubuh Shanum lalu memindahkannya ke trolly khusus ruang operasi.


"Ya Allah, berilah kelancaran bagi Shanum yang akan menjalani operasi. Dia sampai harus menjalani operasi karena menyelamatkan nyawaku," gumam Rayhan.


"Mari, Mbak Shanum."


Kedua perawat itu pun lantas mendorong troly pasien untuk selanjutnya dibawa ke ruang operasi.


"Aku harus segera memberitahu orang rumah," gumamnya.


Rayhan mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor telepon rumahnya.


[Assalamu'alaikum, Mas. Bagaimana keadaan Shanum! Dia baik-baik saja 'bukan?"


[Ehm … setelah dokter melakukan pemeriksaan, ternyata ada tulang kaki Shanum yang patah. Dia harus menjalani operasi hari ini juga.]


[Ya Allah, berikan kelancaran bagi operasi Shanum.]


[Aamiin.]


Bersambung …


Hai, Kak. Mampir juga yuk ke novelku yang lain yang judulnya:


"Pengasuh tomboy si pencuri hati."


Jangan lupa dukungannya ya …


Sekecil apapun dukungan dari kalian akan sangat berarti bagi Author.


🙏🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2