
Setelah mendapatkan pengobatan dari bidan, Shanum yang ditemani Rayhan dan Adnan pun kembali ke rumah Nining bersamaan dengan Hannan dan si pemilik rumah yang baru selesai berkeliling kampung.
"Astaghfirullahaldzim! Kaki kamu kenapa, Num?" tanya Nining.
"Hanya kecelakaan kecil kok."
"Apanya yang kecelakaan kecil? Kaki kamu sampai diperban begitu."
Dari Shanum, pandangan gadis berjilbab lebar itu pun beralih pada Rayhan.
"Tadi Shanum pergi ke makam sama Mas Rayhan 'kan? Apa yang terjadi hingga kakinya terluka?"
"Kaki Shanum terluka karena tertimpa dahan pohon yang patah saat di makam."
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un."
"Kakinya sudah diobati bu bidan kok," timpal Adnan.
"Lantas, apa kata bu bidan?" tanya Nining lagi.
"Bu bidan bilang luka di kakinya cukup parah. Jadi untuk Shanum harus istirahat total selama beberapa hari ke depan," papar Adnan.
"Ya sudah, untuk sementara kamu tinggal di rumahku dulu. Kamu tidak mungkin 'kan kembali ke kota dalam keadaan terluka begini?"
"Bagaimana ini, Mas? Apa tidak masalah jika aku berada di kampung ini untuk sementara waktu?" Shanum memandang wajah ketiga kakak beradik itu secara bergantian. Namun ketiganya hanya terdiam.
"Kenapa kalian diam saja? Memangnya kalau Shanum sakit siapa yang akan merawatnya?" desak Nining.
"Mungkin lebih baik kalau Shanum di sini dulu untuk sementara waktu," ujar Rayhan.
"Tapi, Mas. Ibu hanya memberi waktu sehari saja untuk Shanum. Bagaimana kalau ibu marah?" sela Hannan.
__ADS_1
"Lihat kakinya. Kalaupun dia kembali ke rumah kita, dia tidak akan bisa melakukan pekerjaan apapun."
"Mas Rayhan benar. Untuk sementara waktu biarkan Shanum di sini dulu." Adnan menimpali.
"Hujan sudah reda, bagaimana kalau kita kembali ke kota sekarang?" tanya Hannan.
"Kenapa tidak besok pagi saja?" usul Adnan.
"Yang benar saja. Perjalanan dari kampung ini menuju kota memakan waktu empat jam lebih. Kita akan terlihat sampai di kampus," tukas Rayhan.
"Yaah … masa pulang sekarang sih. Aku 'kan juga penasaran dengan pemandangan desa ini saat malam hari."
"Jadi, mau kamu bagaimana?" tanya Rayhan.
"Kita pulang setelah besok pagi sebelum adzan Subuh."
"Ya sudah kalau maumu begitu. Aku pulang ke kota berdua sama Hannan. Ayo, Nan. Kita berangkat sekarang."
Semua yang berada di ruangan itu menoleh ke arah suara. Tampak seorang wanita paruh baya keluar dari arah dapur. Ia terlihat membawa sebakul nasi yang masuk mengepulkan asap dan semangkuk sayur. Wanita adalah ibu kandung Nining yang biasa dipanggil ibu nyai Fatimah.
"Ibu Nyai," sapa Shanum.
"Ibu baru tiba di rumah ini saat rumah ini kosong. Kata tetangga kalian sedang ke makam dan sebagian berkeliling kampung."
"Maaf, Bu Nyai, kami jadi merepotkan."
"Tidak repot kok. Ibu justru senang kamu masih ingat dengan kampung ini."
Tiba-tiba wanita paruh baya itu mengalihkan pandangannya pada Rayhan dan kedua adik laki-lakinya.
"Mas-mas ini pasti anaknya majikan Shanum ya?" tanyanya.
__ADS_1
"Benar, Bu."
"Mari, kita makan dulu. Ini sudah memasak sayur gudeg."
"Ah, itu makanan khas kota daerah ini 'bukan?" tanya Adnan.
"Tepat sekali."
"Dari tampilannya saja sudah menggoda selera. Pasti rasanya lezat. Aku jadi lapar," ujar Adnan.
"Adnan, …" tegur Rayhan. Si bungsu itu pun sontak diam.
"Tidak apa, Nak. Mari kita makan."
Nining pun mulai menuangkan nasi dan sayur berbahan dasar buah nangka muda itu ke dalam satu per satu piring yang berjejer di atas meja.
"Silahkan dipimpin berdo'a."
"Siapa, Bu?"
"Siapa saja boleh. Yabg penting laki-laki."
"Ehm! Biar aku saja. Bismillahirrahmanirrahim. Bismikallahumma ahya wa bismika waamut."
"Loh, kok kalian bertiga pada ketawa sih. Memangnya ada yang lucu ya?" tanya Adnan saat mendapati ketiga wanita yang duduk di hadapannya itu tertawa cekikikan.
"Bagaimana kami tidak tertawa? Do'a yang barusan kamu baca itu bukan do'a ketika mau makan, tapi do'a mau tidur." Nining terkekeh.
"Sumpah! Malunya sampai ke ubun-ubun," gumam Adnan.
Bersambung…
__ADS_1