
"Kamu ini kenapa? Suami baru pulang bukannya disambut mesra, malah dituduh macam-macam," ucap Adrian sesaat setelah masuk ke dalam kamarnya.
"Aku tahu, kamu tidak benar-benar keluar kota untuk urusan bisnis tapi untuk urusan lain."
"Apa maksudmu?"
Elina mengambil sesuatu dari dalam laci meja riasnya lalu menyodorkannya pada Adrian.
"Kamu bisa jelaskan ini apa?"
"Ehm … ini … itu … ada kawanku yang minta tolong mentransfer uang untuk istrinya."
"Aku menemukan bukti transfer itu di saku kemejamu. Siapa Alicya?"
"Dia … dia istrinya kawanku."
"Kawanmu yang mana?"
"Ehm … aku beri tahu pun kamu tetap saja tidak mengenalnya."
"Ada nomor handphone nya 'kan? Biar kutelepon dia sekarang juga." Elina menengadahkan tangannya dengan maksud meminta handphone milik suaminya itu.
"Ah, kawanku itu punya banyak kartu. Aku tidak tahu yang mana yang dipakai."
"Tidak masalah kok menghubungi satu per satu nomornya. Mana handphone mu."
"Ah iya. Aku baru ingat handphone ku semalam jatuh di toilet dan sekarang rusak. Aku baru saja membawanya ke tempat servis."
Tiba-tiba Adrian menangkup wajah Elina lalu menatap lekat matanya.
__ADS_1
"Dengar, aku adalah pria paling beruntung memiliki istri sepertimu. Jadi aku tidak pernah berpikir sedikit pun untuk menduakanmu, apalagi mengkhianatimu. Aku begitu mencintaimu, Elina," ucapnya. Ia pun lantas merengkuh tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Ceroboh sekali aku ini. Seharusnya bukti transfer itu langsung kubuang," batin Adrian.
"Oh ya, aku membelikanmu sesuatu," ucap Adrian sesaat setelah melonggarkan pelukannya.
"Apa itu?"
"Bukalah."
Elina mengambil alih paper bag dari tangan Adrian lalu mengeluarkan isi di dalamnya. Tampak sebuah tas branded keluaran terbaru yang sudah cukup lama menjadi incarannya. Dia sudah berkali-kali memburunya tapi selalu saja kehabisan stock.
"Ini untukku, Sayang?" tanyanya
"Tentu saja. Aku tahu tas ini sudah lama menjadi incaranmu."
"Kamu tahu, dari dulu aku ingin membuatmu bahagia."
Tiba-tiba Adrian mengangkat tubuh Elina lalu membaringkannya di atas ranjang.
"Aku merindukanmu, sungguh," ucapnya.
Adrian lantas mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibirnya.
"Sudah cukup lama kita tidak melakukannya. Apa kamu mau melakukannya sekarang?" tanya Adrian.
Elina menganggukkan kepalanya.
Sementara itu di lantai dasar.
__ADS_1
"Tidak biasanya ibu kalian ketus begitu pada Adrian," ucap nyonya Arimbi.
"Pasti ada sesuatu yang membuat ibu kesal," sahut Rayhan.
"Selama ini ibu terlalu percaya pada ayah."
"Bukan ibu kalian yang terlalu percaya, tapi ayah kalian yang selalu memiliki banyak cara untuk mengambil hatinya. Jika memang mereka ribut, pasti salah satu dari mereka memilih untuk meninggalkan kamar. Buktinya mereka tidak melanjutkan perdebatan mereka 'bukan?"
"Apa aku perlu ke lantai atas untuk memeriksa mereka? Tadi ribut-ribut, kenapa sekarang nyaris tak ada suara. Aku takut ayah melukai ibu. Seperti yang pernah kutonton di telenovela," ucap Adnan.
"Jangan," ucap sang nenek dan kedua saudara laki-lakinya bersamaan.
"Kenapa tidak boleh? Bagaimana kalau ayah melukai ibu lalu ayah melompat dari jendela kamarnya?"
"Kamu ini terlalu banyak menonton telenovela. Jadi semua kejadian yang ada di sekitarmu dihubungkan ke sana," ucap Hannan.
"Mas belum pernah nonton sih. Sekalinya nonton aku jamin pasti ketagihan."
"Ah, daripada nonton begituan lebih baik nonton konten yang bermanfaat. Buang-buang kuota saja."
"Nonton telenovela juga ada manfaatnya."
"Apa manfaatnya?"
"Aku bisa belajar bagaimana menjadi suami yang baik jika sudah menikah nanti."
"Kuliah dulu yang benar, lulus, kerja, baru mikir istri," ucap Rayhan. Dia pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.
Bersambung …
__ADS_1