
"Apa perintah nenek kurang jelas? Shanum mau pulang kampung, kamu antar dia. Kepala nenek mau pecah sedari tadi mendengar kedua adikmu berdebat saling berebut ingin mengantar Shanum."
"Dari semalam aku sudah bilang jika aku yang akan mengantar Shanum ke kampungnya. Adnan saja tiba-tiba bilang mau ke sana juga. Aku ke kampung itu bukan untuk main-main saja, tapi untuk melakukan survey bahan pembuatan skripsi," ucap Hannan.
"Bilang saja ada udang di balik bakwan," sindir Adnan.
"Maksud kamu apa bilang begitu?"
"Kamu lihat sendiri 'bukan? Kedua adikmu ini nggak ada yang mau mengalah. Itulah sebabnya nenek menyuruhmu."
"Daripada kalian ribut-ribut, kenapa kita bertiga tidak ikut saja ke kampung itu?"
"Kita bertiga?"
"Ya. Sepertinya mobil Jeep ku muat untuk empat orang penumpang."
"Benar juga ya. Semakin banyak yang mengawal Shanum, lebih baik 'bukan?" ucap Adnan.
"Ehm … maaf. Biar saya naik bus saja. Saya malah jadi merepotkan kalian," ucap Shanum.
"Sudahlah, biarkan saja mereka bertiga mengawalmu."
"Tapi, Nyonya, …"
"Siapa yang mau nyetir nih?" tanya Hannan.
"Pake mobilku saja," ucap Rayhan.
"Ayo kita berangkat sekarang."
"Yang benar saja. Aku bahkan belum mandi dan ganti baju. Iya kali aku bepergian pakai baju piyama begini," protes Rayhan.
"Lah, kamu juga baru bangun 'kan, Nan?" tanya sang nenek.
"I-i-iya, Nek." Adnan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal.
__ADS_1
"Cepetan mandi dan siap-siap, kita langsung berangkat," ucap Hannan.
Rayhan dan Adnan pun beranjak dari ruang tamu lalu kembali ke dalam kamar masing-masing.
Lima belas menit kemudian mereka terlihat telah siap berangkat.
"Hacih! Hacih! Hacih!"
Shanum bersin berulang saat Adnan keluar dari dalam kamarnya.
"Astaga. Parfum satu botol kamu habisin ya, Nan. Shanum sampai bersin-bersin begini," ucap Hannan.
"Nggak kok. Cuma aku semprot agak banyak." Bungsu dari tiga bersaudara itu terkekeh.
"Kamu mau genitin siapa di kampung? Paling-paling di sana kamu ketemu nya sama kambing," kelakar Hannan.
"Mas Hannan jangan salah, gadis desa justru cakep-cakep. Kecantikan mereka masih alami tidak seperti Naomi yang kalau pakai bedak tebalnya sampai lima centi."
"Kenapa kamu jadi bawa-bawa Naomi sih!" gerutu Hannan.
"Aku ngomong benar 'kan? Naomi boros kalau pakai make up."
"Cukup! Kenapa hal kecil saja harus kalian ributkan! Sudah sana berangkat, mumpung udara masih segar," ucap sang nenek.
"Saya pamit dulu, Nyonya." Shanum meraih tangan nyonya Arimbi lalu menciumnya penuh takdzim."
"Seandainya saja keadaanku tidak begini, aku pasti akan ikut berziarah ke makam Yahya," ujar nyonya Arimbi.
"Tidak apa, Nyonya."
"Kami berangkat dulu, Nek," pamit Rayhan.
"Hati-hati menyetir, jangan ngebut-ngebut."
"Iya, Nenekku sayang. Kami pergi dulu."
__ADS_1
"Tunggu!" teriak bi Sumi yang baru saja muncul dari arah dapur.
"Ada apa, Bi?" tanya Shanum.
"Ini bekal untuk kalian di perjalanan," ucap wanita paruh baya itu seraya memberikan kantong plastik berukuran cukup besar pada Shanum.
"Apa ini, Bi?"
"Minuman dan camilan untuk mengganjal perut kalian yang kosong."
"Terima kasih banyak, Bi. Aku bahkan tidak kepikiran untuk membawa air minum," ujar Shanum.
"Bibi mau ikut juga?" sela Adnan.
"Yang benar saja. Memangnya kamu yang mau memangku bi Sumi," ucap Rayhan yang sontak membuat tawa seisi ruangan meledak.
"Kami pamit dulu ya, Bi. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Shanum dan ketiga kakak beradik itu pun lantas meninggalkan ruang tamu dan menuju mobil Rayhan yang berada di halaman rumah.
"Kamu duduk di belakang saja sama aku," ucap Adnan pada Shanum.
"Kamu di depan saja, biar aku yang di belakang," timpal Hannan.
"Mana bisa begitu. Aku duduk di belakang."
"Aku di belakang."
"Aku."
"Aku."
"Sudahlah, jangan bertengkar lagi. Saya duduk di depan saja," ucap Shanum.
__ADS_1
Ia tak tahu jika jantung Rayhan yang sudah lebih dulu duduk di bangku kemudi itu tiba-tiba berdegup kencang.
Bersambung …