
Elina terlihat menumpangi taksi menuju kantor suaminya, Adrian. Tanpa ada seorang pun yang tahu, jika tujuannya tidak benar-benar untuk menemui Adrian, melainkan mengintainya.
Semakin kesini dia semakin merasa jika pria yang telah menikahinya lebih dari 25 tahun itu menyembunyikan sesuatu. Saat penemuan bukti transfer di dalam saku kemejanya, mungkin Adrian masih bisa mengelak, tapi tidak dengan penemuan lipstik di bawah bangku kemudi mobilnya.
Dia yakin suaminya itu memiliki wanita idaman lain.
"Kita sudah hampir setengah jam berhenti di sini. Sebenarnya kita menunggu siapa, Nyonya?" tanya pengemudi taksi.
"Kita tunggu mobil sedan berwarna hitam, lalu kita buntuti."
"Tapi, Nyonya, …"
"Bapak tidak usah khawatir, nanti saya beri ongkos lebih."
"Baiklah."
Sekitar dua puluh menit kemudian mobil sedan berwarna hitam itu pun terlihat meninggalkan halaman kantor.
"Kita ikuti mobil itu kemanapun perginya," titah Elina.
"Baik, Nyonya."
Mobil Adrian melaju menuju arah yang tentu saja bukan menuju rumahnya. Sementara taksi yang ditumpangi Elina mengikuti dengan jarak aman
"Kalau sampai kamu ada main di belakangku, kamu akan kehilangan segalanya," batin Elina.
"Mobil sedan itu jangan sampai lepas ya, Pak," ucap Elina.
"Baik, Nyonya."
__ADS_1
Setelah hampir setengah jam, akhirnya mobil Adrian berhenti di depan sebuah rumah. Elina pun meminta pengemudi taksi untuk menepikan taksinya.
"Rumah siapa ini? Sepertinya mas Adrian tidak pernah bercerita jika dia punya kerabat di daerah ini," gumam Elina.
Elina terus mengawasi Adrian dari dalam taksi. Sepahit apapun, dia harus tahu kebenarannya.
Adrian keluar dari dalam mobilnya lalu berjalan ke arah pintu rumah berlantai dua itu. Tidak berselang lama pintu terbuka. Jantung Elina serasa berhenti berdetak saat melihat siapa yang keluar dari dalam sana. Seorang wanita muda berpakaian sexy menyambut kedatangan Adrian dengan begitu mesra. Ia bahkan menggandeng tangan suaminya itu untuk kemudian diajak masuk ke dalam rumahnya.
"Brengseek! Pria tidak tahu diri!" umpatnya.
"Apa Nyonya mau keluar?" tanya pengemudi taksi.
Elina mengatur nafasnya yang sempat tak beraturan. Bagaimana tidak? Di depan mata kepalanya sendiri dia melihat suaminya memasuki rumah perempuan lain. Siapapun yang berada di posisinya sudah pasti hatinya akan hancur.
Tanpa disadari, Elina mulai terisak.
"Lantas, apa yang Bapak lakukan setelahnya?"
"Semua kesalahan bisa saya maafkan, tapi tidak untuk sebuah pengkhianatan," ujar pengemudi taksi.
"Bapak tunggu di sini sebentar."
"Baik, Nyonya."
Elina turun dari dalam taksi lalu melangkahkan kakinya menuju rumah bercat hijau tosca itu. Ia mengumpulkan seluruh tenaganya untuk mengetuk pintu rumah itu.
"Maaf, Nyonya siapa dan ada perlu apa datang ke rumah saya?" tanyanya.
"Plak! Wanita jalaang!" Sebuah tamparan yang cukup keras baru saja mendarat di pipi perempuan berambut panjang itu.
__ADS_1
"Astaga! Apa anda sudah tidak waras? Tiba-tiba datang dan menampar saya."
"Siapa, Sayang?" tanya Adrian dari dalam sana.
"Ini loh, Sayang. Ada perempuan sintiing tiba-tiba datang dan menamparku."
Beberapa saat kemudian Adrian pun muncul di ruang tamu.
"Memangnya siapa yang berani nampar kamu?"
"Ini loh, Mas."
Adrian pun memandang wajah perempuan yang kini berdiri di ambang pintu. Jantungnya nyaris melompat dari tempat saat tahu siapa wanita itu.
"Elina?"
"Mas kenal dengannya?"
tanya si perempuan.
"Dia … dia istriku."
"Ya, dan hari ini adalah hari terakhir kamu memanggilku sebagai istrimu! Aku akan secepatnya mengurus perceraian kita!"
"Elina, aku minta maaf, aku mengaku salah."
"Plak! Kamu harus membayar mahal harga sebuah pengkhianatan!"
Bersambung …
__ADS_1