Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 35


__ADS_3

"Kamu kenapa, Nak?" tanya bi Sumi pada Shanum yang tengah mencuci piring dan gelas kotor usai makan malam.


"Sudah cukup lama aku tinggal di sini, aku ingin sekali berziarah ke makam kakek."


" Ya sudah, kamu minta cuti saja pada tuan atau nyonya."


"Apa mereka mau memberiku izin untuk pulang kampung?"


"Nanti bibi bantu bicara."


"Terima kasih, Bi."


"Kamu sudah selesai mencuci piring nya?"


"Sudah, Bi."


"Bibi mau minta tolong?"


"Minta tolong apa, Bi?"


"Antarkan susu ini ke kamar nyonya Arimbi. Bibi mau ke toilet Dari sore tadi perut bibi tidak nyaman." Bi Sumi meletakkan segelas susu hangat di atas nampan lalu memberikannya pada Shanum.


"Bibi sakit?"


"Sepertinya masuk angin saja. Rasanya kembung dan mulas."


"Sudah minum obat atau belum, Bi?"


"Bibi tidak bisa minum obat, tubuh bibi akan gemetar setelahnya."


"Aku ingat waktu kecil aku pernah dikerok."


"Dikerok? Apa itu? Bibi belum pernah mendengarnya."


"Itu loh, Bi. Pakai minyak kayu putih sama yang koin."


"Terus diapain?"


"Biasanya bagian punggung dan pinggang yang dikerok. Setelah diolesi dengan minyak kayu putih lalu uang koin itu digesekkan berulang di bagian tubuh itu.


"Apa itu tidak sakit?"


"Seingatku sedikit sakit, tapi setelah itu sakit perutku sembuh. Bibi mau mencoba?"

__ADS_1


"Ehm … boleh."


"Ya sudah, setelah ini bibi ke kamarku ya," ucap Shanum. Bi Sumi menganggukkan kepalanya.


Shanum beranjak dari dapur dengan membawa nampan berisi segelas susu hangat lalu berjalan menuju kamar nyonya Arimbi yang berada di dekat ruang tamu.


Di saat bersamaan Hannan yang baru saja turun dari tangga itu melintas. Tabrakan pun tak terhindarkan. Nampan beserta isinya pun terjatuh di atas lantai.


"Aduh!" pekik Shanum.


"Ma-ma-af. Aku tidak sengaja."


"Ehm … tidak apa, Mas."


"Susu itu buat nenek ya? Biar aku buat yang baru."


"Ah, tidak usah, Mas. Biar aku saja yang buat." Shanum memunguti pecahan gelas itu lalu meletakkannya di atas nampan.


"Ada apa ini? Kenapa gelas nya bisa jatuh? Pasti kamu ceroboh ya," ucap nyonya Elina yang tiba-tiba saja muncul di ruangan itu.


"Ini bukan kesalahan Shanum, Bu. Tadi aku yang menabraknya saat turun dari tangga," jelas Hannan.


"Cepat kamu bersihkan pecahan gelas ini lalu buat susu yang baru! Awas saja kalau pecahan gelas ini sampai mengenai kaki penghuni rumah ini!" seru nyonya Elina.


"Ehm … Nyonya, …"


"Saya-saya … ehm, …"


"Ada apa? Kalau bicara yang jelas."


"Ehm … saya mau minta izin pulang kampung."


"Kamu sudah bosan bekerja di rumah ini?" tanya nyonya Elina.


"Bu-bu-bukan begitu, Nyonya. Saya pulang ke kampung untuk berziarah ke makam almarhum kakek saya."


"Tidak bisa! Pekerjaan di rumah ini banyak. Kamu pikir siapa yang akan menggantikan pekerjaanmu?"


"Saya mohon, Nyonya. Sehari … saja."


"Sekali tidak bisa ya tidak bisa!" tegas sang nyonya.


"Sudahlah, Bu. Beri cuti sehari saja untuk Shanum. Dia hanya ingin berziarah ke makam kakeknya," timpal Hannan.

__ADS_1


"Baik, karena Hannan yang meminta, saya beri kamu cuti sehari. Besok malam kamu harus sudah kembali di rumah ini lagi."


"Terima kasih, Nyonya."


"Cepat buat susu yang baru lalu antarkan ke kamar ibu," titah sang nyonya sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu.


"Alhamdulillah. Terima kasih, Mas Hannan sudah membantu saya."


"Ah, tidak masalah. Oh ya, nama kampung tempat tinggalmu kampung apa?"


"Kampung Mekar sari, Mas."


"Tunggu. Bukankah kampung itu adalah sentra produksi kerajinan anyaman bambu?"


"Benar, Mas. Hampir semua warga memproduksi anyaman bambu."


"Kebetulan sekali."


"Apanya yang kebetulan?"


"Aku sedang menyusun skripsi tentang kerajinan lokal dan sudah lama aku ingin mengunjungi kampung itu. Ehm … bagaimana jika kuantar kamu pulang? Sekalian aku melakukan penelitian."


"A-a-pa?"


"Aku antar kamu pulang."


"Tidak perlu, Mas. Saya bisa naik bis."


"Ayolah, rasanya tidak lucu jika kita menuju tempat yang sama tapi kita naik kendaraan yang berbeda."


"Ehm … tapi, bagaimana kalau nyonya Elina tahu? Dia bisa marah."


"Tidak akan. Aku hanya tinggal bilang jika aku tengah melakukan penelitian dan pengamatan untuk bahan skripsi ku."


"Ehm … baiklah."


"Kita berangkat jam berapa?"


"Setelah Subuh saja, Mas. Karena perjalanannya cukup lama."


"OK!"


"Ya sudah, saya buat susu untuk nyonya Arimbi dulu." Shanum membawa nampan berisi pecahan gelas lalu membawanya ke dapur.

__ADS_1


Keduanya tidak menyadari jika sedari tadi sepasang telinga mendengarkan obrolan mereka.


Bersambung …


__ADS_2