Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 18


__ADS_3

"Tolong!" teriak Shanum dari lantai dua.


Semua orang yang kini berkumpul di ruang makan pun bergegas mendatangi sumber suara.


"Kenapa kamu teriak-teriak?" tanya nyonya Elina sembari menapaki anak tangga.


"Mas Hanan pingsan."


"Astaga. Rayhan! Adnan! Cepat bawa Hanan ke rumah sakit!" seru nyonya Elina. Raut wajahnya terlihat panik.


Raihan dengan dibantu Adnan pun bergegas mengangkat tubuh Hanan lalu membawanya menuju mobil Rayhan yang berada di halaman rumah.


"Kami ke rumah sakit dulu, Bi. Tolong kalian jaga rumah," ucap Rayhan pada bi Sumi dan Shanum. Keduanya mengangguk paham.


"Semoga tidak terjadi apa-apa pada mas Hanan," lirih bi Sumi.


Setibanya di rumah sakit.


"Apa yang terjadi dengan Hanan? Kenapa tiba-tiba dia pingsan begitu?" ucap nyonya Elina sesaat setelah Hanan dibawa masuk ke dalam ruang tindakan.


"Aku merasa belakangan ini mas Hanan kurang bersemangat. Selera makannya juga menurun," ungkap Adnan.


"Apa dia pernah mengatakan sesuatu pada kalian kalau dia kurang enak badan atau sakit?" tanya sang ibu lagi.


"Hanan orangnya begitu tertutup, dia lebih suka memendam masalahnya sendiri," ujar Rayhan.


Beberapa saat kemudian pintu ruangan terbuka. Tampak seorang dokter keluar dari dalam ruangan itu.


"Bagaimana keadaan putera saya, Dok?" tanya nyonya Elina.


"Mari ke ruangan saya sebentar, ada hal penting yang harus saya bicarakan."


Dokter beranjak meninggalkan ruangan itu lalu berjalan menuju sebuah ruangan, ibu beserta kedua anak laki-lakinya itu mengekor.


"Apa ini, Dok?" tanya Rayhan saat dokter meletakkan sebuah amplop besar berwarna cokelat di atas meja.


"Silahkan dibuka."


Rayhan pun bergegas membuka isi amplop tersebut. Raut wajahnya terlihat kebingungan saat melihat isi di dalamnya.


"Bukankah ini hasil CT-scan? Hasil CT scan ini milik siapa, Dok?" Adnan menimpali.


"Itu adalah hasil CT-scan pasien Hanan."


"Astaga! Memangnya apa yang terjadi pada putera sulung saya, Dok?" tanya sang ibu.


Dokter menghela nafas berat.


"Pasien menderita kanker otak stadium awal."


"Hanan! Tidak!" Nyonya Elina membungkam mulutnya.


"Maaf, apa kalian sebagai keluarga pasien tidak mengetahui perihal penyakit ini?" tanya dokter.


"Tidak, Dok. Hanan sama sekali tidak pernah mengatakan perihal penyakit ini."

__ADS_1


"Apa penyakit ini berbahaya, Dok?" tanya sang ibu lagi.


"Bisa dikatakan demikian, bahkan penyakit ini terbilang salah satu penyakit yang paling mematikan."


"Apa kakak saya masih bisa sembuh, Dok?" tanya Adnan.


"Meskipun kecil, harapan itu selalu ada."


"Lakukan yang terbaik untuk putera saya, Dok. Saya tidak peduli berapa pun biaya nya," ujar nyonya Elina.


"Saya menyarankan agar pasien secepatnya melakukan tindakan operasi sebelum sel-sel kanker menyebar lebih luas."


"Baik, Dokter. Jika memang harus hari ini, saya tidak keberatan."


"Baiklah, kalau begitu silahkan Nyonya menandatangani surat persetujuan terlebih dahulu lalu urus administrasi nya."


"Ray, kamu ikut dokter, ibu akan mengurus administrasi."


"Baik, Bu."


"Apa ayah peu diberitahu, Bu?" tanya Adnan.


"Ya, itu lebih baik."


Adnan mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor handphone sang ayah yang kini tengah berada di luar kota.


Nada sambung terdengar, namun sang ayah mengabaikan panggilan darinya. Setelah ia hampir menyerah, barulah sang ayah menjawab panggilannya.


[Halo, Yah]


(Nafas sang ayah terengah-engah seperti habis berlari)


[Ayah sedang apa? Kenapa nafas ayah terengah-engah begitu?]


[Ehm … ayah sedang menaiki tangga darurat karena lift di hotel mati. Ada apa kamu menelpon ayah?]


[Mas Hanan …"


[Kenapa dengan Hanan?]


[Mas Hanan sedang dirawat di rumah sakit dan sekarang juga akan menjalani tindakan operasi]


[Oh … isssshhh … ahh]


[Ayah. Ayah kenapa?]


[Tidak apa. Ayah sedang kelelahan saja]


[Ayah bisa 'kan pulang secepatnya?]


[Ishh … ah …]


[Astaga. Sebenarnya apa yang sedang Ayah lakukan? Ayah bisa 'kan pulang secepatnya?]


[Di sana sudah ada ibu dan Rayhan 'bukan? Pekerjaan ayah masih banyak. Ayah belum bisa pulang. Isssh … ah …]

__ADS_1


(Aku sudah siap, Sayang)


[Halo, Ayah. Suara siapa itu?]


[Tidak ada siapapun di sini, ayah sendirian saja]


[Ayo dong, Mas. Udah, cepat matiin telepon nya]


[Halo, Yah. Ayah. Ayah masih di sana 'kan?]


Tiba-tiba panggilan terputus.


Adnan mencoba menghubungi kembali nomor handphone sang ayah, namun kali ini nomor itu tidak dapat dihubungi.


"Brengseeek!" umpatnya.


"Bagaimana, Nan? Apa ayah bisa pulang secepatnya?" tanya Rayhan setelah ia menandatangani surat persetujuan operasi.


"Kamu kenapa? Kenapa sepertinya kesal begitu?"


"Kurasa ayah tidak benar-benar sedang bekerja."


"Apa maksudmu? Ibu bilang ayah sedang keluar kota untuk urusan bisnis."


"Ya, bisnis kesenangannya sendiri."


"Sebenarnya apa yang sedang kamu bicarakan?" Rayhan mengerutkan keningnya.


"Kurasa ayah memiliki perempuan lain di luar sana."


"Kenapa kamu bisa bilang begitu? Ayah tidak mungkin berbuat macam-macam."


"Dengar ini."


Adnan mendekatkan ponselnya ke telinga Rayhan. Rupanya ia sengaja merekam percakapannya dengan sang ayah tadi.


"Astaga! Sepertinya ada suara perempuan di sana, dan ayah sedang melakukan … Brengseeek! Awas saja kalau sampai ayah main gila dengan perempuan lain!"


"Rayhan … apa kamu sudah menghubungi ayahmu, Nak?" tanya sang ibu setelah kembali dari bagian administrasi.


"Su-su-dah, Bu."


"Ayahmu bisa pulang secepatnya 'kan?"


"Ehm … ayah bilang sedang diusahakan."


"Ya sudah, ibu ke toilet dulu."


Nyonya Elina pun lantas berlalu dari hadapan keduanya.


"Aku tidak menyangka ayah yang selama ini kita hormati ternyata tidak lebih dari seorang pengkhianat! Lihat saja, aku akan meminta ibu mendengarkan rekaman percakapan ini," ucap Adnan.


"Tenang lah, jangan memancing dia air keruh. Kita akan memberitahu ibu, tapi tidak sekarang," ujar Rayhan.


"Aku tidak akan memaafkan ayah jika dia sampai terbukti melakukan pengkhianatan. Dia harus membayar mahal untuk itu!" Adnan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2