
"Ya sudah, kita berangkat sekarang," ucap Hanan sembari mengambil tempat duduk di bangku belakang.
"Eh tunggu! Kita 'kan belum pamit pada nyonya Elina dan tuan Adrian," sergah Shanum.
"Ayah dan ibu masih tidur. Nggak apa-apa, semalam 'kan kamu sudah pamit pada ibu," timpal Adnan. "Ayo Pak sopir, gass!" serunya kemudian.
Mobil Jeep berwarna hitam itu pun meninggalkan halaman rumah.
"Kamu nggak mabuk perjalanan darat 'kan, Num?" tanya Hannan pada Shanum saat di perjalanan.
"Nggak tahu, Mas. Aku belum pernah naik mobil. Kalau naik bus sih tidak mabok."
"Masa kamu belum pernah naik mobil sih," timpal Adnan.
"Di kampungku hanya pak lurah saja yang punya mobil. Lagipula selama di kampung aku nggak pernah pergi kemana-mana. Kegiatanku sehari-hari hanya merawat kakek dan mengajar anak-anak mengaji."
"Pantas saja."
"Oh ya, di kampung kamu masih punya saudara 'kan?" tanya Adnan.
"Ehm … ada, Mas. Pak lek ku dan istrinya."
"Bagus lah. Paling tidak kita ada tempat untuk mampir sebentar."
"Tapi … ehm, …"
"Tapi kenapa?"
Shanum menundukkan wajahnya. Detik kemudian tangisnya pun pecah.
__ADS_1
"Ah, kamu kok malah bikin anak orang menangis sih, Nan."
"Kenapa kamu menangis? Apa aku salah ngomong?"
"Aku memang masih punya saudara, tapi, pak lek Faisal dan bibi Dini tidak pernah menyukaiku. Mereka bahkan yang mengusirku dari rumah peninggalan mendiang ayah dan ibuku."
"Aku pikir orang kejam hanya ada di film atau di buku novel, tapi ini ada di kehidupan nyata." Rayhan yang sedari diam dan menyimak obrolan itu mulai bersuara.
"Biar kutebak, kedua orang serakah itu pasti mengusirmu untuk menguasai harta peninggalan kedua orangtuamu."
"Benar, Mas. Mungkin mereka akan menjual rumah itu yang uangnya kemudian akan mereka gunakan untuk menambah modal usaha."
"Astaga. Apa mereka tidak takut kena azab? Aku pernah menonton sinetron, ada orang yang jenazahnya tersambar petir karena semasa hidupnya memakan harta anak yatim."
"Aku baru tahu kalau Adnan suka menonton sinetron," ucap Rayhan yang sontak membuat tawa penumpang di mobil itu meledak.
"Jangan-jangan kamu suka menonton telenovela juga."
"Sembarangan!"
"Howek!"
"Shanum, kamu kenapa?" tanya Rayhan. Tiba-tiba raut wajahnya berubah panik.
"Mas Rayhan, menepi sebentar, sepertinya Shanum mabuk," ucap Adnan.
Rayhan pun lantas menepikan mobilnya lalu mematikan mesinnya.
"Perutku rasanya seperti diaduk-aduk," ujar Shanum.
__ADS_1
"Pasti ini karena perutmu masih kosong. Oh ya, tadi bi Sumi 'kan bawain bekal untuk kita kita. Biar kuperiksa apa saja isinya." Adnan meraih kantong plastik berwarna hitam itu lalu memeriksa isi di dalamnya. Rupanya di dalamnya terdapat lontong nasi, gorengan, beberapa bungkus biskuit dan tiga botol air mineral berukuran besar.
"Bi Sumi memang the best. Dia paling tahu apa yang kita butuhkan. Nih makan dulu buat mengganjal perutmu." Adnan mengambil sebiji lontong nasi dan gorengan lalu memberikannya pada Shanum.
"Terima kasih, Mas."
"Aku jadi lapar juga." Hannan yang duduk di samping Adnan itu pun turut mengambil sebiji lontong nasi lalu melahapnya dengan cepat.
"Gimana, udah enakan?" tanya Rayhan sesaat setelah Shanum menyantap sarapan paginya.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Mas."
"Kamu ini hanya lapar saja, bukan mabuk."
"Hi … hi … hi." Shanum meringis memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Ayo, kita lanjut jalan lagi," ucap Rayhan. Dia pun lantas menghidupkan kembali mesin mobilnya.
"Mas gantian aku dong yang menyetir," ucap Adnan.
"Tidak usah, biar kau saja."
"Memangnya Mas Rayhan nggak capek?"
"Nggak kok."
"Aku nggak merasa capek karena di sepanjang perjalanan berada di samping Shanum. Ah, mikir apa kamu, Ray!" Rayhan merutuki dirinya sendiri.
Bersambung …
__ADS_1