
"Mas Hanan."
"Mas Hanan sakit apa, Bi?"
"Di dalam surat keterangan dokter ini dijelaskan jika mas Hanan terkena kanker otak stadium awal," jelas bi Sumi.
"Astaghfirullahaldzim. Apa Bibi tidak tahu jika mas Hanan selama ini sakit?"
"Tidak, Nak. Mas Hanan itu orangnya cenderung pendiam. Bibi rasa dia sengaja menyembunyikan penyakit ini dari siapapun termasuk tuan Adrian dan nyonya Elina."
"Apa penyakit itu berbahaya, Bi?"
"Bukan berbahaya lagi, tapi mematikan."
"Kenapa mas Hanan merahasiakan hal serius ini dari kedua orangtuanya?"
"Mungkin mas Hanan tidak ingin membuat keluarganya khawatir, atau memang dia sengaja merahasiakannya lantaran merasa tuan atau nyonya tidak akan pernah peduli padanya."
"Jadi, apa yang harus kita lakukan, Bi? Apa kita harus memberitahu hal itu pada tuan dan nyonya?"
"Kita tidak berhak ikut campur dalam hal ini. Mungkin ada saatnya mas Hanan mengatakannya sendiri pada tuan dan nyonya," ujar bi Sumi. Shanum mengangguk paham.
"Ya sudah, Bi. Aku mau menyetrika baju," ucap Shanum.
"Kalau kamu masih lelah, istirahat dulu. Biar bibi yang menyetrika."
"Tapi, Bi, …bagaimana dengan nyonya besar?"
"Nyonya besar sudah selesai mandi, beliau sedang menonton televisi di kamarnya."
"Sumi … Sumi," panggil nyonya Arimbi dari dalam kamarnya.
"Ya, Nyonya," sahut bi Sumi. Ia lantas masuk ke dalam kamar sang nyonya besar. Tidak lama kemudian ia kembali menghampiri Shanum.
"Nyonya Arimbi memanggilmu, Nak."
"Kenapa nyonya besar memanggilku? Apa aku membuat kesalahan, Bi?"
Bi Sumi mengulas senyum tipis.
"Tidak perlu khawatir, nyonya Arimbi tidak pernah marah tanpa sebab. Mungkin dia hanya ingin mengobrol denganmu," ujarnya.
"Tapi, Bi, …"
__ADS_1
"Sudahlah, temui saja nyonya besar, dia paling tidak suka menunggu."
Meski awalnya ragu, Shanum akhirnya menuruti ucapan bi Sumi.
"Per-mi-si, Nyonya besar," ucap Shanum setelah membuka pintu kamar yang berada di dekat ruang makan itu.
"Masuklah".
Shanum menutup kembali pintu kamar. Dia pun lantas mengedarkan pandangannya di dalam ruangan yang cukup luas itu. Kasur busa berukuran king dengan dipan kayu jati berukir serta lemari berukuran besar dan televisi layar lebar di dalamnya, sungguh sebuah kamar yang nyaman.
"Ada apa Nyonya besar memanggil saya? Apa saya membuat kesalahan?"
"Kamu tidak perlu takut padaku, aku memanggilmu hanya untuk mengobrol saja, duduklah."
Shanum menarik sebuah kursi lalu mendudukinya.
"Oh ya, bagaimana keadaan kakimu yang digigit ular itu? Apa sudah membaik?" tanya nyonya Arimbi.
"Alhamdulillah sudah membaik, Nyonya. Terima kasih sudah menyuruh bi Sumi untuk menemani saya di klinik semalam."
Tiba-tiba nyonya Arimbi mengamati wajah Shanum.
"Wajahmu mengingatkanku pada seseorang," ujarnya.
"Sungguh?"
"Nama ayah saya Hisyam, dan nama ibu saya Nuriyah."
"Apa mereka masih hidup?"
Shanum menggeleng lemah.
"Ayah dan ibu meninggal dunia saat usiaku lima tahun. Semenjak saat itu saya diasuh dan dirawat oleh kakek saya."
"Tunggu. Siapa nama kakekmu?"
"Nama kakek saya Yahya, Nyonya. Beliau meninggal dunia sekitar satu bulan yang lalu karena sakit."
"Kamu sudah tiada rupanya, Yahya," lirih nyonya Arimbi.
"Apa Nyonya besar mengenal kakek?"
tanya Shanum penasaran.
__ADS_1
"Ambilkan kotak berwarna hitam dari dalam lemari itu," titah nyonya Arimbi sembari mengacungkan jari telunjuknya pada sebuah lemari di dalam kamarnya.
Shanum beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri lemari berukuran besar itu.
"Kotak nya ada di laci paling bawah," ucap nyonya Arimbi.
Shanum pun lantas membuka laci tersebut lalu mengambil benda yang dimaksud sang nyonya.
"Perhatikan foto ini." Nyonya Arimbi menyodorkan selembar foto pada Shanum.
"Siapa laki-laki dan perempuan di foto ini, Nyonya?"
"Perempuan itu adalah aku, dan laki-laki itu kakekmu, Yahya."
"Sungguh?"
Nyonya Arimbi mengulas senyum tipis.
"Saat muda dulu kakekmu tampan 'bukan?"
"Ja-ja-di, Nyonya dan kakek, …"
"Kakekmu pernah bekerja di rumah ini sebagai sopir pribadi ayah dan ibuku. Entah mengapa aku jatuh cinta pada kakekmu yang usianya lima tahun di atasku. Kami pun sepakat menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi meskipun pada akhirnya ayah dan ibu mengetahuinya. Mereka menentang keras hubungan kami hingga pada akhirnya ayah dan ibu memecat Yahya. Yahya pun tidak punya pilihan selain meninggalkan rumah ini dan kembali ke kampung halamannya. Sejak saat itu aku sulit membuka hati untuk laki-laki lain. Aku berharap suatu hari Yahya datang kembali dan membawaku lari bersamanya. Namun, harapanku tak pernah terwujud hingga suatu hari aku mendengar kabar yang begitu menyakitkan jika kakekmu menikah dengan seorang gadis yang juga berasal dari kampungnya. Hal itu lah yang kemudian membuatku mati rasa. Aku menurut saja saat ayah dan ibu menjodohkanku dengan laki-laki pilihan mereka," ungkap nyonya Arimbi.
"Saya tidak menyangka, ternyata Nyonya dan almarhum kakek saya memiliki hubungan yang begitu dekat di masa lalu," ujar Shanum.
"Ya, dan hubungan kami terhalang restu dari kedua orangtuaku."
Suasana hening sejenak.
"Kamu gadis yang baik, seandainya saja kakekmu masih hidup, aku tidak akan keberatan untuk menjodohkanmu dengan salah satu cucuku."
"A-a-pa? Dijodohkan? Saya sadar siapa saya. Saya sama sekali tidak pantas menjadi bagian dari keluarga ini. Saya rasa gadis kampung seperti saya bukanlah tipe bagi mas Rayhan, mas Hanan, dan mas Adnan. Berharap saja saya tidak berani."
"Sebagai manusia kita tidak boleh mendahului kehendak Tuhan. Mungkin aku dan Yahya tidak ditakdirkan untuk berjodoh. Namun bukan hal yang mustahil jika kamu dikirim Tuhan ke rumah ini sebagai jodoh dari salah satu cucuku," ujar nyonya Arimbi.
"Sungguh, saya tidak berani berharap terlalu tinggi, karena jika terjatuh, akan sakit sekali rasanya," ujar Shanum.
Nyonya Arimbi mengulas senyum tipis.
"Siapa yang tahu rahasia jodoh. Tapi, hati kecilku berkata jika kamu adalah calon jodoh bagi salah satu cucuku."
"Jodoh? Apa maksud Nenek?" tanya Hanan yang tiba-tiba saja memasuki kamar nyonya Arimbi.
__ADS_1
Bersambung …