
Sementara itu di rumah tuan Adrian.
Menjelang petang.
Shanum dan bi Sumi terlihat gelisah lantaran Nyonya Elina dan ketiga putranya belum juga kembali dari rumah sakit. Akhirnya bi Sumi memutuskan untuk menghubungi nomor handphone Adnan melalui telepon rumah.
[Halo, Assalamualaikum, Mas]
[Waalaikumsalam, Bi]
[Bagaimana keadaan Mas Hanan sekaran Kenapa kalian tidak memberi kabar pada kami?]
[Kabarnya kurang baik, Bi]
[Kurang baik bagaimana maksudnya, Mas?]
[Mas Hanan sedang menjalani operasi. Dokter memvonis dia mengidap kanker otak stadium awal]
[Sebenarnya bibi dan Shanum sudah tahu tentang penyakit yang diderita mas Hanan, tapi dia melarang kami untuk memberitahukannya pada siapapun termasuk tuan dan nyonya]
[Ya, aku paham, Bi. Mas Hanan memang orangnya sedikit tertutup]
[Apa Tuan Adrian sudah diberitahu, Mas?]
[Ya Bi, aku sudah meneleponnya, tapi ayah lebih mementingkan pekerjaannya. Dia belum bisa pulang hari ini]
[Astaghfirullahaladzim. Dalam keadaan genting begini Tuan masih saja mementingkan pekerjaannya. Semoga operasi Mas Hanan berjalan lancar ya, Mas. Bibi dan Shanum mendo'akan dari sini]
[Amin, terima kasih, Bi. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum,]
-Panggilan terputus-
"Bagaimana keadaan mas Hanan, Bi?" tanya Shanum sesaat setelah bi Sumi mengakhiri percakapan.
"Keadaannya tidak baik, Nak. Mas Hanan sekarang sedang menjalani operasi. Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdo'a agar operasinya berjalan lancar."
Tidak berselang lama adzan Maghrib berkumandang.
"Kita shalat dulu yuk, Bu," ucap Shanum. Bi Sumi mengangguk setuju. Keduanya pun beranjak dari ruang tamu lalu menuju kamar masing-masing.
"Ya Allah lancarkanlah operasi mas Hanan. Bagaimanapun aku pernah berhutang nyawa padanya," gumam Shanum.
****
Sementara itu di sebuah kamar hotel.
"Kamu mau ke mana, Sayang?" tanya seorang wanita pada seorang pria yang tengah merapikan pakaiannya.
"Aku harus pulang sekarang, putera sulungku dirawat di rumah sakit dan harus menjalani operasi."
"Di sana sudah ada ibu dan saudara laki-lakinya 'bukan? Sudahlah, kita habiskan malam ini bersama. Kamu sudah membayarku mahal, memangnya kamu tidak rugi jika hanya memakainya sekali," rayu perempuan itu sembari bergelayut mesra di pundak si pria. Sementara perempuan udah itu sendiri hanya mengenakan lingerie.
"Setelah keadaan anakku membaik,aku pasti kembali ke sini lagi. Aku sangat puas dengan pelayananmu." Pria itu terkekeh.
"Ya sudah, aku izinin kamu pulang. Tapi kamu janji harus secepatnya kembali ke sini."
__ADS_1
"Ya, aku janji Sayang," ucap si pria. Dia lantas mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening si perempuan muda.
Ya, laki-laki yang berada di dalam kamar hotel itu bernama Adrian dan seorang perempuan muda bernama Alicya. Perempuan yang menjadi langganan Tuan Adrian setiap kali ia memiliki pekerjaan luar kota.
"Sampai bertemu lagi, Sayang. Ingat jangan pernah menghubungiku saat aku berada di rumah. Aku yang akan menghubungimu lebih dulu."
"OK!" Alicia mengerlingkan matanya.
"Bye!" Tuan Adrian mengecup lembut bibir Alicya sebelum akhirnya meninggalkan kamar hotel tersebut.
Dari hotel, tuan Adrian melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Hanan kini sedang menjalani operasi.
"Aku kira Ayah sudah lupa jalan pulang," ketus Adnan sesaat setelah tuan Adrian sampai di rumah sakit.
"Apa maksudmu?"
"Aku tahu Ayah tidak benar-benar melakukan pekerjaan di luar kota."
"Bagaimana bisa kamu bicara begitu?!"
"Memangnya apa yang dilakukan dua orang dewasa dalam satu kamar?"
"Astaga, Adnan! Jaga mulutmu!" Senta sang ayah.
"Jika tuduhan Adnan tidak benar, kenapa Ayah harus marah?" Rayhan menimpali.
Beberapa saat kemudian nyonya Elina menghampiri mereka.
"Syukurlah, akhirnya kamu pulang, Sayang." Nyonya Elina mendekati Tuan Adrian lalu merengkuh tubuhnya ke dalam pelukannya.
"Ya,aku khawatir dengan keadaan Hanan. Itulah sebabnya aku meninggalkan pekerjaanku. Oh ya, bagaimana keadaan Hanan sekarang?"
"Apa yang sebenarnya terjadi pada anak itu?"
"Bukan mengatakan jika Hanan menderita kanker otak stadium awal."
"Malang benar nasibnya," ujar sang ayah.
"Rayhan, Adnan. Jika kalian ingin pulang, pulang lah. Biar ayah dan ibu yang akan menjaga Hanan di sini," titah sang ibu.
"Baiklah, itu lebih baik daripada ibu yang harus menjaganya sendirian."
"Apa maksud kamu bicara begitu?" Nyonya Elina mengerutkan keningnya.
"Ah, tidak apa. Bukankah Ibu lebih baik menjaganya bersama ayah?"
Obrolan mereka terhenti saat tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Dampak seorang dokter dan seorang perawat keluar dari dalam ruangan.
"Bagaimana operasi putera kami, Dok?" tanya Tuan Adrian.
"Alhamdulillah, operasi pasien berjalan lancar. Tidak lama lagi pasien akan segera sadar."
"Alhamdulillah,"ujar Adnan.
"Ya sudah, Yah, Bu, aku dan Adnan pulang dulu," ucap Rayhan. Keduanya pun lantas meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
"Apa kita akan diam saja melihat ibu diperlakukan begini?" ucap Adnan ketika dalam perjalanan pulang.
"Kita harus memiliki cukup bukti. Kita tahu 'bukan? Ibu cinta mati pada ayah. Bukti rekaman percakapan di telepon saja belum cukup."
"Awas saja kalau ayah memang benar-benar ketahuan berselingkuh di belakang ibu. Aku akan memberinya pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya."
"Ya, kurang baik apa ibu pada Ayah. Dari hanya karyawan biasa lalu diangkat menjadi direktur perusahaan."
"Laki-laki tidak tahu diri!" umpat Adnan.
Dua puluh menit kemudian mereka tiba di rumah.
"Mas Rayhan dan Mas Adnan sudah makan malam?" tanya Bi Sumi.
"Sudah, Bi. Tadi kami beli makanan di kantin rumah sakit. Sejak kapan kalian tahu tentang penyakit yang diderita mas Hanan?"
"Baru beberapa hari yang lalu, Mas. Saya tidak sengaja menemukan surat keterangan dokter terjatuh di lantai saat saya hendak mencuci pakaian," jelas Shanum.
"Kenapa kamu diam saja?"
"Saya hanya memberitahunya pada bibi."
"Bibi pun sudah berbicara pada mas Hanan, tapi dia melarang bibi untuk memberitahunya kepada siapapun termasuk Tuan dan nyonya."
"Hanan memang terlalu pendiam, hingga hal serius begini dia simpan sendiri," ujar Rayhan.
"Oh ya, apa operasi Mas Hanan sudah selesai?" tanya Shanum.
"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar. Ada ayah dan ibu yang menjaganya."
"Syukurlah jika Tuan Adrian sudah pulang. Saya pikir beliau lebih mementingkan pekerjaannya daripada putera kandungnya," ujar bi Sumi.
Adnan dan Rayhan hanya saling bertukar pandang mendengar ucapan tersebut.
"Ya sudah, aku istirahat dulu, selamat malam." Rayhan berlalu dari hadapan keduanya lalu menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
"Apa nenek sudah tidur, Bi?" tanya Adnan.
"Sepertinya belum, Mas. Bibi baru saja mengantarkan makan malam ke kamarnya."
"Baiklah." Adnan beranjak dari ruangan itu lalu menuju kamar nyonya Arimbi.
"Hai, Nek," sapanya sesaat setelah memasuki kamar itu.
"Adnan. Tumben sekali kamu ke kamar nenek."
"Ada yang ingin aku bicarakan, Nek."
"Duduk lah."
Minyak Arimbi sedikit menggeser tubuhnya dan sengaja memberi tempat duduk bagi cucu bungsunya itu.
"Aku yang ingin kamu bicarakan?"
"Ini tentang ayah."
__ADS_1
"Kenapa dengan ayahmu?" tanya sang nenek penasaran.
Bersambung …