
Sore hari di rumah Adrian.
"Anak-anak di mana, Bi? Kok sepi sekali," ucap nyonya Elina ketika memasuki ruang tamu
"Mas Rayhan dan mas Adnan di rumah sakit."
"Ke rumah sakit?"
"Benar, Nyonya. Mereka menemani Shanum yang menjalani operasi di bagian kakinya."
"Apa luka di kakinya parah sampai harus dioperasi?"
"Saya rasa kalau lukanya tidak parah tidak mungkin dioperasi. Oh ya, Shanum kan terluka karena menyelamatkan mas Adnan."
"Apa selama ini aku terlalu acuh padanya? Jika bukan karena Shanum, Rayhan pasti sudah celaka."
"Nyonya mau kemana?" tanya bi Sumi saat sang nyonya beranjak meninggalkan ruangan tamu.
"Aku mau menjenguk Shanum di rumah sakit."
"Alhamdulillah, akhirnya Allah membukakan hati nyonya. Dia sadar jika Shanum adalah gadis yang baik. Dia rela mengorbankan keselamatannya sendiri demi nyawa mas Rayhan," gumam bi Sumi.
Beberapa saat kemudian nyonya Arimbi menghampiri bi Sumi.
"Sepertinya tadi aku mendengar suara Elina. Mana dia sekarang?" tanyanya.
"Nyonya bilang mau menjenguk Shanum di rumah sakit."
"Apa aku tidak salah dengar?"
"Tidak, Nyonya. Sepertinya nyonya Elina sadar jika Shanum terluka karena menyelamatkan mas Rayhan.
"Syukurlah."
Beberapa saat kemudian Hannan memasuki ruang tamu.
"Adnan di mana, Bi?" tanyanya.
"Mas Adnan menyusul mas Rayhan ke rumah sakit."
__ADS_1
"Memangnya mas Rayhan sudah pulang?"
"Sudah, Mas. Mas Rayhan dan Shanum tiba di rumah ini sekitar pukul 10 pagi dan langsung ke rumah sakit. Oh ya, nyonya Elina juga barusan ke rumah sakit."
"Beneran, Bi? Ibu ke rumah sakit untuk menjenguk Shanum 'bukan?"
"Benar, Mas."
"Ah, akhirnya ibu peduli juga pada Shanum," ujar Hannan.
Sementara itu di rumah sakit.
Shanum tengah mengobrol dengan Rayhan di dalam kamar perawatannya ketika nyonya Elina memasuki ruangan itu.
Tentu saja kedatangannya membuat Shanum ketakutan.
"Nyo-Nyo-Nyonya. Saya janji setelah keluar dari rumah sakit ini saya akan langsung mengerjakan pekerjaan rumah."
Untuk pertama kalinya Shanum melihat sang nyonya tersenyum.
"Memangnya kamu bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan alat bantu berjalan?" tanyanya.
"Kamu bisa beristirahat sampai kaki kakimu benar-benar sembuh."
"A-a-pa?"
"Ibu tidak sedang bercanda 'kan?" tanya Rayhan.
"Bercanda? Memangnya ibu bisa bercanda?"
"Te-te-rima kasih untuk pengertiannya, Nyonya," ucap Shanum. Tiba-tiba sorot matanya berkaca-kaca.
"Saya sadar kamu begini karena menyelamatkan nyawa Rayhan. Kalaupun saya harus membayarmu, saya rasa berapa pun jumlahnya tidak akan pernah cukup," ujar nyonya Elina.
"Saya ikhlas menolong mas Rayhan, sama sekali tidak mengharapkan imbalan."
Obrolan mereka berhenti saat Adnan tiba-tiba memasuki ruangan itu.
"Ibu? Ibu ngapain di sini?" tanyanya.
__ADS_1
"Ibu menjenguk Shanum. Kata bi Sumi dia baru menjalani operasi."
"Syukurlah, akhirnya ibu peduli pada Shanum."
"Ray …"
"Ya, Bu."
"Ibu yang akan menanggung semua biaya perawatannya."
"Sungguh?"
"Memangnya kapan ibumu ini berbohong?"
"Terima kasih, Bu."
"Maaf, aku tidak bisa berlama-lama di sini."
"Ibu mau kemana?" tanya Adnan.
"Ibu mau ke kantor ayahmu."
"Ke kantor ayah, memangnya Ibu mau ngapain?"
"Tidak apa, sudah lama ibu tidak ke kantor ayahmu."
"Ini sudah hampir jam empat sore, memangnya ayah belum pulang?"
"Semoga ayahmu kalian masih di sana."
"Ya sudah, biar aku yang mengantar Ibu," ucap Adnan.
"Tidak perlu, ibu bisa naik taksi."
"Tapi, Bu, …"
"Tidak apa. Ibu pergi dulu." Nyonya Elina pun lantas meninggalkan kamar perawatan Shanum.
"Nan … kok perasaanku tiba-tiba nggak enak begini ya?" ucap Rayhan.
__ADS_1
Bersambung …