
"Nggak usah ikut."
"Biarkan saja dia ikut. Tidak ada salahnya kalau dia memang ingin lebih mengenal dan dekat dengan keluarga kita," ujar sang ibu.
"Tapi, Bu, …"
"Ray, bantu adikmu menuju mobil."
Ray menganggukkan kepalanya. Ia pun lantas membantu Hanan beranjak dari ranjangnya lalu memapahnya menuju mobil yang berada di tempat parkir.
Sesampainya di rumah.
"Loh, ini 'kan gadis yang kemarin nanya mas Hanan. Kenapa dia kesini?" batin Shanum sesaat setelah membukakan pintu untuk mereka.
"Shanum … ini Naomi, tamu di rumah saya, perlakuan dial dengan sebaik mungkin," titah sang nyonya.
"Baik, Nyonya."
"Ayo, Sayang, aku antar ke kamar," ucap
Naomi.
"Mana boleh begitu. Mbak Naomi ini 'kan bukan muhrim nya mas Hanan. Dua orang dewasa yang bukan pasangan sah dilarang berduaan apalagi di dalam kamar," ucap Shanum.
"Kamu ini siapa? Cuma babu di rumah ini, jadi nggak usah sok-sokan ngatur!" sungut Naomi.
"Apa yang barusan dikatakan Shanum ini benar. Mbak Naomi ini baru pacarnya mas Hanan. Belum boleh berduaan di dalam kamar." Bi Sumi yang juga berada di dalam ruangan itu menimpali.
"Kalian ini kolot banget sih! Memangnya kalau di dalam kamar sudah pasti melakukan yang begituan?! Ayo, Sayang, kita masuk." Naomi menggandeng tangan Hanan lalu mengajaknya naik ke lantai dua.
"Sudah, jangan dibesar-besarkan. Mereka juga pasti tahu batasannya kok," ucap nyonya Elina.
"Aku yang awasi mereka deh." Rayhan beranjak dari ruang tamu lalu menyusul keduanya menuju lantai dua tempat kamarnya berada.
"Oh ya, Bi. Adnan di mana?" tanya nyonya Elina.
__ADS_1
"Mas Adnan sudah berangkat ke kampus, Nyonya."
"Kalau tuan?"
"Ehm … tuan Adrian pagi-pagi sekali juga sudah berangkat."
"Apa dia keluar kota lagi?" batin nyonya Elina.
"Oh ya, Bi. Tolong buatkan bubur ayam untuk Hanan."
"Ehm … kebetulan persediaan ayam dan daging habis. Saya harus ke pasar dulu."
"Ya sudah, yang penting Bibi buatkan untuk Hanan."
"Baik, Nyonya. Saya pergi ke pasar dulu."
Bi Sumi pun beranjak meninggalkan ruangan itu.
"Kamu ambil pakaian kotor Hanan lalu cuci." Nyonya Elina mengacungkan jari telunjuknya pada tas yang berada di lantai.
Sementara itu di dalam kamar Hanan.
"Kamarmu berantakan begini, apa pembantumu itu tidak pernah merapikannya?" ucap Naomi seraya meraih buku-buku yang tergeletak di atas tempat tidur lalu meletakkannya di atas rak.
"Mungkin dia segan memasuki kamar ini saat aku tidak sedang berada di rumah. Biasanya dia yang merapikan kamarku, juga kamar-kamar lainnya. Ngomong-ngomong aku lapar, ku bisa 'kan memasak makanan untukku?"
"Ehm … masak ya? Bisa kok. Memangnya kamu mau dimasakin apa?"
"Apa saja, yang penting berkuah."
"Kalau begitu aku buatkan mie instan saja."
"Astaga. Kamu 'kan tahu, aku masih dalam proses pemulihan pasca operasi, masa aku disuruh makan mie instan. Ya sudah, aku suruh Shanum saja buat masak. Shanum! Shanum!"
"Eh … jangan. Aku tadi cuma bercanda kok. Biar aku saja yang masakin sop."
__ADS_1
"Kamu beneran bisa masak 'kan?"
"Bisa lah. Masa perempuan nggak bisa masak."
"Ya sudah, aku tungguin ya, jangan lama-lama."
Naomi meninggalkan kamar Hanan. Hal pertama yang dilakukannya adalah mencari resep masakan melalui ponselnya. Jangankan memasak, selama ini dia nyaris tak pernah memasuki dapur di rumahnya.
Naomi terlihat tengah memilih sayuran yang berada di dalam kulkas. Di saat itulah nyonya Arimbi memasuki ruangan itu.
"Kamu siapa?" tanyanya.
"Saya Naomi, pacarnya mas Hanan. Bibi salah satu asisten rumah tangga di rumah ini 'kan? Pasti bisa dong memasak sayur sop untuk mas Hanan."
"Sayur sop?"
"Mas Hanan bilang kepingin makan yang berkuah."
"Lantas?"
"Ehm … saya nggak bisa masak. Bibi saja yang masak," ucap Naomi.
"Kamu menyuruh saya memasak?"
"Memangnya perintah saya kurang jelas? Tugas asisten rumah tangga kan kalau nggak bersih-bersih, nyuci baju, ya masak."
"Bisa-bisanya Hanan memiliki pacar minus akhlak begini," batin nyonya Arimbi.
"Ayo, Bi. Bisa 'kan masak sambil duduk di kursi roda?" Tiba-tiba Naomi meraih kursi roda yang ditumpangi wanita berusia enam puluh tahunan itu lalu mendorongnya ke arah meja tempat dia meletakkan sayuran.
"Loh, Nyonya Arimbi ngapain di sini?" tanya Shanum yang tiba-tiba saja berdiri di ambang pintu.
"Nyonya Arimbi? Astaga. Jadi, wanita ini bukan pembantu?" gumam Naomi.
Bersambung …
__ADS_1