Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 34


__ADS_3

Menjelang sore hari.


Adnan terlihat gelisah lantaran sang ibu belum juga pulang.


"Ibu sebenarnya pergi kemana sih, Bi?" tanyanya pada bi Sumi.


"Bibi tidak tahu, Mas. Nyonya Elina tidak bilang mau pergi kemana. Tapi jika dilihat dari penampilannya, sepertinya nyonya mau bertemu orang penting."


"Paling-paling ibu hanya pergi arisan ke rumah kawannya," timpal Rayhan.


"Tidak biasanya ibu begini. Aku sudah berkali-kali menghubungi ponselnya namun tidak terhubung. Aku takut sesuatu terjadi padanya."


"Mungkin handphone nya mati karena kehabisan daya. Sudahlah, jangan berpikiran buruk padanya." Kali ini Hannan menimpali.


"Apa ayah belum pulang juga, Bi?" tanya Adnan lagi. Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya.


"Aku pulang," ucap seseorang dari arah pintu depan.


Raut kecemasan di wajah ketiga kakak beradik itu seketika sirna saat melihat siapa yang baru memasuki rumah.


"Syukurlah, Ibu pulang juga," ujar Adnan.


"Ibu dari mana, dan kenapa handphonenya Ibu tidak bisa dihubungi?" cecar Rayhan.


"Ehm … ibu dari arisan di rumah kawan ibu. Handphone ibu mati karena kehabisan daya. Maaf sudah membuat kalian khawatir."


"Kalau Ibu mau pergi keluar rumah setidaknya pamit pada bi Sumi agar kami tidak cemas begini."


"Tadi ibu buru-buru. Bi Sumi dan Shanum juga sedang di belakang, jadi ibu pergi saja. Ibu lelah, mau istirahat dulu," jelas nyonya Elina. Dia lantas meninggalkan ruangan tersebut.


"Kenapa bau parfum ibu beda dari biasanya?" batin Rayhan saat sang ibu melintas tepat di hadapannya.

__ADS_1


"Nan, sini," bisik Rayhan pada Adnan.


"Apaan?"


"Astaga. Sini mendekat."


Adnan pun menggeser langkahnya mendekati kakak sulungnya itu.


"Kenapa parfum ibu beda ya?"


"Memangnya Mas belum tahu koleksi parfum ibu 'kan banyak. Mas pasti tidak hafal satu per satu aromanya."


"Memangnya ibu mengoleksi parfum pria juga?"


"Bisa jadi itu parfum milik ayah. Aku mau mandi dulu, gerah nih," ucap Adnan. Dia pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.


"Oh ya, Shanum di mana, Bi?" tanya Rayhan.


"Apaan sih. Orang aku mau minta tolong buat jahit atribut organisasi kampus di rompi ku. Malas kalau harus ke tukang jahit hanya untuk memasang kain sekecil itu."


"Alah, modus."


"Hanan. Bisa diam nggak, atau sandal ini melayang."


"Ish! Begitu saja marah. Aku 'kan hanya bercanda."


"Shanum lagi ngangkatin jemuran di depan," ucap bi Sumi.


Tidak berselang lama Shanum muncul ke ruangan itu dengan membawa keranjang penuh dengan pakaian yang telah kering usai dijemur.


"Dicariin tuh," ucap Hannan.

__ADS_1


"Siapa yang nyariin, Mas?"


"Itu abang Rayhan Permana."


"Mas Rayhan ada apa mencariku?"


"Ehm … itu. Aku mau minta tolong untuk menjahit atribut organisasi kampus di rompiku."


"Sebentar ya, Mas. Aku setrika pakaian-pakaian ini dulu."


"Sebentar katamu? Menyetrika pakaian segunung paling tidak butuh waktu dua jam. Sedangkan rompi ini mau kupakai sekarang."


"Ya sudah, aku letakkan keranjang ini dulu, lalu memasang atribut di pakaian Mas Rayhan," ucap Shanum. Dia pun lantas memasuki ruang menyetrika.


"Tanganmu sudah sembuh 'kan?" tanya Rayhan saat Shanum kembali menghampirinya di ruang tamu.


"Alhamdulillah, sudah, Mas."


"Cie … ada yang peduli nih ye," ledek Hannan yang ternyata belum beranjak dari ruangan itu.


"Aku khawatir tangannya yang kemarin terkena setrikaan panas belum sembuh jadi kesulitan menjahit."


"Cie … khawatir."


"Astaga. Kenapa sih anak ini?! gerutu Rayhan. "Ehm … tunggu sebentar. Aku ambilkan atribut dan rompi ku."


"Jangan lama-lama, Mas Rayhan. Nanti aku rindu," ledek Hannan lagi.


"Awas kamu!" Rayhan mengambil ancang-ancang berlari mendekati adiknya itu.


"Ya Allah, sudah pada besar tapi tingkah masih seperti anak kecil saja," batin Shanum.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2