
"Ayah dari mana? Bukannya tadi bilang bahwa ingin menyelesaikan pekerjaan di rumah ya? Kenapa jam segini baru pulang?" cecar Adnan saat ayahnya, Adrian baru saja tiba di rumah.
"Aku jelaskan pun kamu tidak akan paham urusan bisnisku," ujar sang ayah.
"Urusan bisnis atau urusan yang lain?"
"Apa maksudmu?"
"Aku tahu, sepulang dari kantor tadi Ayah sengaja mendatangi rumah sakit karena sudah tahu jika aku dan kak Rayhan membuntuti Ayah. Mungkin saja niat awal Ayah adalah ke tempat lain."
"Aku benar-benar tak paham dengan arah pembicaraanmu."
"Siapa sebenarnya Mr. Al? Kenapa Ayah harus semarah itu saat ibu menjawab telepon darinya? Apakah dia perempuan yang sama dengan yang berada di kamar hotel bersama Ayah?"
"Jaga mulutmu!"
"Kenapa Ayah setega itu pada ibu? Kurang baik apa ibu pada Ayah? Sebelum semuanya terlambat, hentikan permainan Ayah ini."
"Permainan apa? Sebenarnya apa yang kamu bicarakan?"
"Terus saja membantah, tapi Ayah harus ingat, serapat-rapatnya menyembunyikan bangkai, baunya akan tercium juga. Jika Ayah tidak mau mengakui, kami bertiga yang akan mencari bukti. Satu hal lagi yang harus Ayah ingat. Perusahaan, rumah, ataupun aset lainnya adalah atas nama ibu. Ayah tidak memiliki hak apapun."
"Ibumu cinta mati padaku. Kamu pikir dia mau percaya begitu saja dengan ucapanmu?"
__ADS_1
"Bagaimana dengan bukti percakapan ini?" Adnan meraih ponselnya lalu memutar rekaman percakapan saat dirinya tengah bersama Alicya di dalam sebuah kamar hotel.
"Astaga! Rekaman itu bisa menjadi kartu As ku! Jangan sampai Elina mendengarnya," batin tuan Adrian.
Tanpa diduga ia merebut paksa ponsel milik Adnan lalu membantingnya dengan kasar di atas lantai. Alhasil gawai pipih itu pun hancur berkeping-keping. Adnan hanya bisa berdiri mematung melihat ponsel miliknya yang kini tak berbentuk itu.
"Ya Allah … ada apa ini? Loh, kok handphone nya dibanting?" ucap Shanum saat mendapati ponsel Adnan yang remuk di atas lantai.
Tuan Adrian enggan menanggapi pertanyaan itu. Dia justru melengang pergi dari ruang tamu dan berjalan menuju kamarnya.
"Kenapa handphone Mas Adnan dibanting begini?" tanya Shanum sembari memunguti pecahan handphone yang berceceran di atas lantai.
"Orang yang bersalah akan melakukan apapun untuk menutupi kesalahannya. Pria tidak tahu diri itu tidak mau jika rekaman itu sampai di telinga ibu. Itulah sebabnya dia berusaha menghilangkan bukti."
"Jika dia tidak melakukan hal memalukan itu, tidak mungkin dia semarah itu apalagi sampai membanting ponselku."
"Apa handphone ini mau diperbaiki, Mas?" tanya Shanum.
"Kalau kamu mau ambil saja."
"Beneran, Mas? Ini handphone mahal loh, setara dengan tiga bulan gaji bekerja di sini."
"Ambil lah, aku hanya butuh kartu SIM nya."
__ADS_1
"Terima kasih, Mas."
"Astaga. Kenapa kamu sesenang itu? Itu hanya handphone rusak."
"Tapi masih bisa diperbaiki kok Mas."
"Ya sudah, aku mau istirahat dulu."
"Memangnya Mas Adnan sudah makan malam?"
"Aku belum lapar."
"Pasti tuan Adrian juga belum makan."
"Entahlah, aku tidak tahu dan mau tahu urusannya. Respect ku sudah hilang," ujar Adnan. Ia lantas berlalu dari hadapan Shanum.
"Aku pikir rumah tangga tuan Adrian dan nyonya Elina begitu harmonis. Tapi ternyata menyimpan kepahitan," ujar Shanum.
Bersambung …
Hai, Kak. Jangan lupa beri like, komentar positif, vote, fav, dan hadiah ya.
Happy reading …
__ADS_1