Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 12


__ADS_3

"Loh, kenapa sepeda motornya didorong, Mas? Bukankah di sana ada bengkel pak Faisal?" tanya seorang warga yang berpapasan dengan pria itu.


"Ban sepeda motor saya bocor, tapi bengkel itu hanya mendahulukan pelanggan yang memberi ongkos mahal bagi pemiliknya, padahal saya yang datang paling duluan di bengkel itu."


"Kok gitu sih? Harusnya mana yang lebih dulu datang, itu yang lebih dulu dilayani."


"Biarin lah, Bu. Nanti bengkel itu juga lama-lama bangkrut kalau pilih-pilih pelanggan gitu. Ya sudah, saya permisi dulu." Pria itu pun kembali mendorong sepeda motornya menuju bengkel lain.


"Eh, Pak Faisal. Jangan suka pilih-pilih pelanggan gitu dong. Yang diutamakan hanya yang bayar ongkos nya mahal. Kasihan tu mas Arya, dorong sepeda motornya. Dia pasti telat sampai ke kantor," tegur wanita itu.


"Kalau nggak paham duduk perkaranya tidak usah berkomentar, Bu!" ketus Faisal.


"Pak Faisal memang lebih mengutamakan pelanggan yang bayar ongkosnya lebih mahal 'kan? Tambal ban 'kan ongkosnya hanya sepuluh ribu rupiah." Wanita lainnya menimpali.


"Saya dengar Pak Faisal dan Bu Dini mengusir Shanum lalu menjual rumah peninggalan ayahnya untuk modal bengkel ini ya?"


"Kejam banget sih jadi orang. Memangnya kalian nggak takut kena karma karena sudah mendzolimi anak yatim piatu?"


"Apa yang Ibu-ibu ini katakan tidak benar. Shanum itu pergi keluar kota karena ingin melanjutkan kuliah. Saya dan istri saya yang membiayai kuliahnya."


"Kuliah apaan? Bu Ratna sendiri yang melihat Shanum di dekat terminal. Dia bilang Shanum mau mencari pekerjaan di kota karena sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi di kampung," bantah wanita lainnya.


"Bu Ratna saja yang mengada-ada. Kami sangat menyayangi Shanum, mana mungkin kami membiarkannya pergi merantau."


"Sudah lah, Bu. Tidak mengurusi hidup orang. Kalau memang bengkel ini dibangun dari modal yang nggak benar, pasti tidak lama lagi bengkel ini jatuh bangkrut," ucap salah satu wanita. Keduanya pun lantas meninggalkan bengkel.


"Memangnya benar apa yang dikatakan ibu-ibu tadi jika Mas Faisal mengusir Shanum dan menjual rumahnya?" tanya salah satu pelanggan sesaat setelah kedua wanita itu berlalu.


"Ah, itu tidak benar. Mana mungkin kami sekejam itu. Shanum keluar kota untuk melanjutkan kuliahnya."


"Kalau boleh saya tahu, keponakannya Mas Faisal kuliah di universitas mana? Siapa tahu satu kampus dengan anak saya."


"Ehm … di universitas mana ya? Saya lupa."


"Katanya Mas Faisal yang membiayai kuliah nak Shanum, lalu kenapa Mas bisa lupa nama kampusnya?"


"Kalau Bapak mengajak saya bicara terus, kapan saya mulai mengerjakan sepeda motor ini?" gerutu Faisal kesal. Dia lantas mengambil kotak peralatan bengkelnya.


*****


"Dokter mengizinkan Mbak Shanum saya pulang pagi ini," ucap perawat sembari melepas selang infus yang terhubung di salah satu lengan Shanum.


"Terima kasih, Sus."

__ADS_1


"Sama-sama, saya permisi dulu." Perawat itu pun lantas meninggalkan ruang perawatan.


"Kita naik taksi saja ya, Nak," ucap bi Sumi.


"Oh ya. Kemarin mas Adnan bilang mau jemput, tapi bagaimana caraku memberitahunya? Sementara aku tidak punya handphone."


"Shanum … Bi Sumi," sapa seseorang yang tiba-tiba saja berdiri di ambang pintu.


"Alhamdulillah, Mas Adnan datang. Kami lagi bingung bagaimana caranya menghubungi Mas Adnan," ucap bi Sumi.


"Aku juga lupa meninggalkan nomor handphone ku di sini." Adnan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mas Adnan tidak ke kampus?" tanya Shanum.


"Tidak, hari ini aku libur."


"Ya sudah, kita pulang sekarang. Kata dokter biaya perawatan Shanum sudah dibayarkan mas Rayhan kemarin," ucap bi Sumi.


"Kami permisi dulu, Dok, Sus. Terima kasih untuk perawatannya," ucap Shanum pada dokter dan perawat.


"Sama-sama," sahut keduanya bersamaan.


"Fatih, aku pulang dulu. Semoga ku cepat sembuh," ucap Shanum pada pasien bernama Fatih itu.


"Terima kasih. Lain kali hati-hati kalau membersihkan gudang," sindirnya. Shanum menanggapinya dengan senyum tipis.


Setibanya di rumah tuan Adrian.


"Pekerjaan rumah sudah menumpuk, cepat kerjakan!" titah nyonya Elina saat Shanum memasuki ruang tamu.


"Astaga, Ibu. Shanum ini baru saja pulang dari klinik. Biarkan dia beristirahat dulu sampai benar-benar pulih, baru disuruh bekerja lagi," ucap Adnan.


"Lantas, siapa yang mau mengerjakan pekerjaan rumah itu?"


"Biar bibi saja yang mengajarkannya, Nyonya."


"Mana bisa begitu. Kalian saya bayar dengan tugas masing-masing, dan tugas Bibi mengurus ibu. Oh ya, ibu belum mandi. Tolong Bibi yang urus ya."


"Baik, Nyonya."


"Mentang-mentang baru dirawat di klinik, kamu mau enak-enakan di kamar, begitu?!" sungut sang nyonya.


"Bu-bu-bukan begitu, Nyonya. Saya akan segera mengerjakan pekerjaan rumah," ucap Shanum.

__ADS_1


"Dokter bilang 'kan kamu harus banyak istirahat," ucap Adnan.


"Adnan! Jangan ikut campur! Biarkan pembantu ini mengerjakan apa yang menjadi tugasnya!" seru nyonya Elina.


"Tidak apa-apa kok Mas. Saya bisa mengerjakan pekerjaan rumah itu."


"Kamu yakin?"


"Adnan, sekarang juga antar ibu ke salon," titah sang ibu.


"Nggak mau ah! Ibu kalau di salon dua jam lebih, aku bosan menunggu."


"Ya sudah, kalau kamu membantah perintah ibu, ibu potong uang jajanmu bulan ini."


"Eh! Jangan! Baiklah, ayo kita berangkat sekarang."


"Tunggu sebentar, ibu ambil tas dulu."


Nyonya Elina berjalan menuju kamarnya yang berada d lantai dua. Tidak lama kemudian dia kembali dengan tas selempang nya.


"Kami pergi dulu, Bi. Assalamualaikum."


Adnan dan nyonya Elina pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.


"Bibi mandiin nyonya besar dulu ya, Nak. Setelah selesai nanti bibi bantu pekerjaanmu," ucap bi Sumi.


"Tidak perlu, Bi. Aku pasti bisa mengerjakannya sendiri," ujar Shanum. Ia pun lantas berjalan menuju bagian belakang rumah.


Shanum hanya bisa membuang nafas saat mendapati tiga keranjang pakaian kotor berukuran besar yang berada di ruang khusus mencuci. Namun ia cukup beruntung dengan keberadaan mesin cuci di sana. Ia pun mulai memilah dan memisahkan antara pakaian putih dan berwarna lalu memasukkannya ke dalam mesin cuci berukuran jumbo tersebut. Tak lupa ia juga memeriksa saku celana ataupun baju yang hendak dicucinya. Di saat itulah ia mendapati secarik kertas yang terjatuh di atas lantai yang entah berasal dari pakaian siapa. Ia pun memutuskan untuk menyimpannya lebih dulu sebelum menanyakannya pada bi Sumi.


Setelah hampir satu jam berkutat dengan setumpuk cucian itu, akhirnya pekerjaannya pun selesai.


"Ada yang ingin kutanyakan pada Bibi," ucapnya.


"Apa yang ingin kamu tanyakan, Nak?" tanya bi Sumi.


"Tadi aku menemukan secarik kertas ini saat mencuci baju," ucapnya seraya menyodorkan benda tersebut pada bi Sumi. Wanita paruh baya itu pun lantas mengamati tulisan yang tertera pada kertas tersebut.


"Ini surat keterangan dari dokter."


"Memangnya siapa yang sakit, Bi?" tanya Shanum penasaran.


"Astaghfirullahaldzim!" Bi Sumi membekap mulutnya sendiri.

__ADS_1


"Siapa yang sakit, Bi?" Shanum mengulangi pertanyaannya.


Bersambung …


__ADS_2