
Tuan Adrian terlihat memasuki ruang perawatan Hanan.
"Tumben kamu pulang cepat, Sayang," ucap nyonya Elina.
"Aku sengaja pulang lebih cepat agar bisa menemani Hanan," ucap pria itu sembari meletakkan parcel buah di atas meja.
Beberapa saat kemudian Rayhan dan Adnan terlihat memasuki ruangan.
"Kenapa kalian bisa datang bersamaan begini? Atau kalian sudah janjian?" tanya nyonya Elina.
"Kami tidak janjian kok, Bu," jawab Rayhan.
"Sepulang dari kampus, kalian ke mana saja?" tanya sang ayah yang terdengar seperti sebuah sindiran.
"Kami tidak kemana-mana."
"Oh, begitu. Ayah pikir kalian mampir ke kantor ayah." Pria itu terkekeh.
Rayhan menghampiri Hanan yang masih terbaring lemah di atas ranjang pasien.
"Ayolah, jangan berlama-lama di sini, kami berdua kesepian tanpamu," ucapnya.
"Kakak pikir aku mau berada di sini?"
"Oh ya, tadi Naomi nanya kenapa nomormu tidak bisa dihubungi."
"Mas Rayhan nggak bilang kalau aku sedang sakit 'kan?"
"Kamu tenang saja, aku hanya mengatakan padanya kalau kamu sedang sakit gigi."
"Astaga. Bagaimana kalau dia datang ke rumah? Aku sengaja mematikan ponselku saat aku sedang menjalani perawatan."
__ADS_1
"Itu tergantung bagaimana bi Sumi menjawabnya." Rayhan terkekeh.
"Kamu mau makan buah, Nak? Biar ibu kupas untukmu," ucap nyonya Elina.
"Boleh. Buah pir itu sepertinya segar."
"Ehm … Sayang, malam ini kamu menemani Hanan lagi 'kan?" tanya nyonya Elina pada tuan Adrian sembari mengupas sebutir buah pir.
"Sepertinya malam ini aku tidak bisa menemanimu di sini, ada pekerjaan yang harus segera kuselesaikan."
"Tidak apa, Bu. Jika ayah tidak bisa biar aku saja yang menemani Ibu malam ini," ucap Rayhan.
"Kalau begitu aku pulang sekarang," ucap tuan Adrian.
"Kenapa buru-buru? Apa ada pekerjaan selain pekerjaan kantor yang mau Ayah kerjakan?" sindir Rayhan.
"Apa maksudmu?"
"Memangnya ayahmu punya pekerjaan sampingan apa?" tanya nyonya Elina.
"Tanya saja sama ayah."
"Kenapa kalian malah berdebat? Mana buah pir nya?" protes Hanan.
"Kakakmu yang memancing perdebatan. Ya sudah, aku pulang sekarang."
"Hati-hati."
Tuan Adrian pun lantas meninggalkan ruang perawatan.
"Perut ibu tiba-tiba mulas, sepertinya ibu harus ke toilet." Nyonya Elina meletakkan pisau buahnya lalu berjalan menuju toilet yang berada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Entah ini benar atau hanya perasaanku saja, tapi aku merasa hubungan ayah dan kalian sedang kurang hangat," ucap Hanan.
Rayhan dan Adnan saling bertukar pandang.
"Ya, begitulah. Kami tahu, sebelum ke rumah sakit ini kami sempat membuntuti ayah."
"Sebenarnya ada apa? Jangan membuatku penasaran."
"Kami curiga jika ayah berselingkuh," ujar Adnan.
"Seperti kita sepemikiran."
"Apa maksudmu?"
"Pagi tadi saat ayah sedang berada di kamar mandi ponselnya bergetar. Awalnya ibu mengabaikannya karena ibu ataupun ayah menganggap jika handphone adalah privasi mereka masing-masing."
"Lantas?"
"Karena terus menerus bergetar, akhirnya ibu menjawab panggilan itu."
"Memangnya siapa yang menelpon ayah?" tanya Hanan.
"Kontak itu bernama … Mr … Mr … ya! Mr. Al. Ibu berkali-kali menyapanya tapi penelpon itu sama sekali tidak bersuara. Apa kalian mau tahu apa yang terjadi selanjutnya? Ayah marah besar bahkan murka saat tahu ibu menjawab panggilan masuk di ponselnya. Aku berpikir, jika ayah dan penelpon itu tidak memiliki hubungan, kenapa ayah harus semarah itu?"
"Aku bahkan punya bukti jika ayah menjalin hubungan dengan perempuan lain," ucap Adnan.
"Siapa yang menjalin hubungan dengan perempuan lain?"
Ketiga kakak beradik itu sontak kebingungan saat sang ibu tiba-tiba saja berdiri di hadapan mereka.
Bersambung …
__ADS_1