Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 20


__ADS_3

"Bagaimana ayah di mata nenek?" tanya Adnan.


"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya begitu?" Sang nenek balik bertanya.


"Aku hanya ingin tahu saja, Nek."


Nyonya Arimbi membuang nafas.


"Jika boleh jujur, nenek kurang menyetujui hubungan ibumu dengan ayahmu."


"Kenapa bisa begitu?"


"Dulu, Adrian hanyalah seorang pegawai biasa di perusahaan nenek. Dia mendekati ibumu hingga akhirnya ibumu jatuh cinta padanya. Nenek sempat melarang hubungan mereka, namun ibumu bersikeras, bahkan ia mengancam akan mengakhiri hidupnya jika Ibu tidak menyetujui pernikahan mereka," papar sang nenek.


"Yang kulihat ibu memang cinta mati pada ayah, meskipun sebenarnya aku tidak yakin jika ayah benar-benar mencintai ibu."


"Nenek tidak mengerti arah pembicaraanmu."


"Sepertinya ayah selingkuh di belakang Ibu."


"Astaga. Bagaimana kamu bisa bicara begitu, Nak?"


"Aku tidak asal bicara, Nek. Aku punya buktinya."


"Bukti?" Sang nenek mengerutkan keningnya.


Akan mengeluarkan ponselnya lalu mendekatkannya ke telinga sang nenek.


"Setelah mendengar rekaman percakapan ini kuharap Nenek paham dengan apa yang kumaksud."


Nyonya Arimbi pun mendengarkan dengan seksama percakapan yang terjadi di Adrian dan Adnan sore tadi.


"Dasar laki-laki tak tahu diuntung!" maki nya.


"Bagaimana tanggapan Nenek mengenai rekaman percakapan ini?" tanya Adnan.


"Ya, jelas sekali dari suara itu ayahmu sedang bersama seorang perempuan di dalam sebuah ruangan dan mereka sedang melakukan, …"


"Apa yang harus kita lakukan, Nek? Apa kita harus diam saja ibu diperlakukan begini?"


"Percayalah, tidak akan ada maling yang mau mengakui perbuatannya. Aku yakin ayahmu akan menyangkal jika kita tiba-tiba menuduhnya."


"Jadi, apa yang harus kita lakukan, Nek?"


"Untuk saat ini lebih baik kita pura-pura tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin kamu dengan dibantu Rayhan bisa mengumpulkan bukti yang lebih banyak tentang perselingkuhan yang dilakukan ayahmu."


"Jika akhirnya ibu tahu ayah telah berselingkuh, apakah ibu mau melepaskannya?"


"Terkadang seseorang yang mencintai terlalu dalam akan lebih terluka saat ia disakiti oleh orang yang dicintainya. Semoga saja nanti pikiran ibumu bisa terbuka siapa sebenarnya pria yang dicintainya setengah mati itu," ujar sang nenek. "Oh ya bagaimana keadaan Hanan?" tanyanya kemudian.


"Alhamdulillah, operasi Mas Hanan berjalan dengan lancar. Semoga saja dia lekas boleh dan bisa segera pulang."


"Tadi Sumi bercerita pada nenek jika Hanan menderita penyakit kanker otak stadium awal. Dia berniat memberitahukannya pada ayah dan ibumu tapi Hanan melarangnya."


"Mas Hanan memang orangnya terlalu tertutup. Dia mampu menyembunyikan rahasia sebesar apapun," ujar Adnan.


"Apa Nenek boleh bertanya sesuatu?"


"Memangnya Nenek mau bertanya apa?"


"Bagaimana Shanum menurutmu?"


"Shanum? Sejauh ini dia gadis yang baik rajin, dan menyenangkan."


Nyonya Arimbi mengulas senyum tipis.


"Persis seperti sifat kakeknya."


"Apa maksud Nenek? Memangnya nenek mengenal kakeknya?" tanya Adnan penuh selidik


"Tidak hanya kenal, nenek bahkan sangat dekat dengannya."


"Sungguh?" Adnan terlihat mulai antusias mendengarkan cerita sang nenek selanjutnya.


"Kakeknya Shanum dulu adalah kekasih nenek. Dia bekerja di rumah ini sebagai sopir pribadi kakek dan nenek buyut mu. Entah bagaimana kami saling jatuh cinta. Namun pakai dan nenek buyutmu menentang keras hubungan kami bahkan mengusir Yahya dari rumah ini. Saya tidak punya pilihan lain selain meninggalkan rumah ini dan kembali ke kampung halamannya."


"Lantas, bagaimana hubungan Nenek dan kakek Shanum selanjutnya?"


"Kami hilang kontak selama bertahun-tahun. Hingga suatu hari nenek mendengar kabar jika Yahya telah menikah dengan seorang gadis yang berasal dari kampung yang sama dengannya. Nenek sempat putus asa, hingga akhirnya nenek memilih pasrah saat kakek dan nenek buyutmu menjodohkan nenek dengan laki-laki pilihan mereka," ungkap nyonya Arimbi.


Suasana hening sejenak.


"Nenek berharap salah satu diantara kalian menjadi jodoh Shanum," ujar nyonya Arimbi.


"Jodoh?"


"Ya. Itulah sebabnya nenek menanyakan bagaimana pendapatmu tentang gadis itu."


"Untuk saat ini aku hanya menganggapnya seperti seorang teman."


Tiba-tiba nenek menguap dan menutup mulutnya dengan salah satu tangannya.


"Sepertinya Nenek sudah mengantuk, kalau begitu Nenek tidurlah. Aku juga mau beristirahat," ucap Adnan.


"Baiklah, selamat malam."


"Selamat malam."


Adnan pun lantas meninggalkan kamar tersebut.


*****


Sementara itu di rumah Faisal.


"Mana uang pendapatan bengkel hari ini?" tanya Dini saat Faisal baru saja memasuki rumahnya.


Faisal pun lantas mengeluarkan sejumlah uang dari dalam saku celananya lalu menyodorkannya pada istrinya itu.


"Apa ini? Kamu buka bengkel dari pagi sampai malam begini, penghasilannya hanya dua ratus ribu?"


"Mau bagaimana lagi? Memang segini penghasilannya. Belakangan ini bengkel sepi."


"Aku semakin curiga kalau kamu menyembunyikan uang penghasilan bengkel dariku."


"Aku berani bersumpah tidak pernah menyembunyikan sedikitpun uang penghasilan bengkel darimu," ujar Faisal.


"Kita lihat saja. Kalau memang bermain gila di belakangku, Aku tidak segan untuk mengusir dari rumah ini dan kamu akan kehilangan segalanya."

__ADS_1


"Sudahlah, aku lelah mau istirahat."


Faisal berlalu dari ruang tamu lalu berjalan menuju kamarnya.


*****


Di sebuah rumah terdengar percakapan antara seorang perempuan dan laki-laki.


"Kapan si Faisal itu menikahimu? Memangnya kamu mau hanya dijadikan mainan olehnya?"


"Saat ini dia masih punya istri. Aku pun tidak bisa memaksa mereka untuk bercerai."


"Kamu harus lebih gencar merayunya."


"Apa maksud Mas Roni?"


"Sini aku kasih tahu caranya."


Roni mendekatkan wajahnya lalu membisikkan sesuatu di telinga si perempuan.


"Edaan! Nggak mau ah! Memangnya aku perempuan apaan?!"


"Itu satu-satunya cara agar Faisal cepat menikahimu."


"Tapi, Mas, …"


"Memangnya kamu mau miskin terus? Kalau kamu sudah menikah dengannya, hidup kita akan terjamin. Penghasilan bengkelnya besar, belum lagi rumah makannya."


Ya, obrolan itu terjadi antara Ningrum, kekasih gelap Faisal dengan kakak laki-lakinya yang bernama Roni. Entah disadari atau tidak, selama ini Faisal hanya dimanfaatkan kedua kakak beradik itu. Apalagi tujuannya jika bukan menguras hartanya.


"Kamu pikirkan apa yang tadi aku katakan. Sekarang aku mau tidur dulu." Roni selalu dari hadapan Ningrum lalu berjalan menuju kamarnya.


"Apa aku harus mengikuti saran mas Roni?" gumam Ningrum.


****


Pagi hari di rumah sakit.


Nyonya Elina terlihat tengah menyuapi sarapan pagi Hanan.


"Kenapa kamu menyembunyikan rahasia ini dari kami semua, Nak?" tanya sang ibu.


"Maaf, Bu. Aku hanya tidak ingin membuat kalian khawatir."


"Kamu pikir itu tidak khawatir saat kamu pingsan sore kemarin?"


"Aku pun baru tahu tentang penyakit itu beberapa minggu belakangan. Oh ya, di mana Ayah?"


"Dia sedang mandi, setelah ini dia akan langsung pergi ke kantor."


"Aku senang ayah mau meluangkan waktunya untuk menemaniku di sini."


"Ayah dan Ibu minta maaf jika selama ini kurang peduli dan memperhatikanmu," ujar sang ibu.


Obrolan keduanya terhenti saat tiba-tiba terdengar suara getar ponsel dari dalam tas milik tuan Adrian yang berada di atas sofa.


"Sepertinya ada yang menelpon ponsel ayah," ucap Hanan.


"Biarkan saja selama ini ibu tidak pernah melihat isi ponselnya ataupun menjawab teleponnya."


"Sungguh?"


Ponsel berhenti bergetar namun tidak berselang lama gawai pipih itu kembali bergetar. Nyonya pun akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan telepon tersebut. Di layar ponsel itu tertera nama si penelpon "Mr. Al"


"Siapa yang menelpon, Bu?" tanya Hanan.


"Mr. Al, mungkin salah satu rekan bisnis ayahmu."


"Mungkin saja telepon itu penting, lebih baik Ibu angkat saja."


Nyonya Elina pun lantas menjawab panggilan tersebut.


[Halo … selamat pagi]


Tidak ada jawaban.


[Halo, selamat pagi,dengan istri Tuan Adrian di sini. Suami saya sedang berada di dalam kamar mandi. Apa ada pesan?]


Masih tidak ada jawaban.


[Halo, Tuan Al]


Tut … tut …tut. Panggilan terputus.


"Apa ada pesan penting yang disampaikannya, Bu?" tanya Hanan.


"Dari tadi aku panggil-panggil namun penelpon itu hanya diam saja tidak mengeluarkan sepatah kata pun."


"Mungkin dia salah nomor."


"Itu tidak mungkin, ayahmu sudah menyimpan nomornya."


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.


Tuan Adrian terlihat lebih segar setelah mandi paginya.


"Ada yang menelponmu barusan."


"Kenapa kamu mengangkat teleponnya? Bukankah kita sudah sepakat jika handphone adalah privasi kita masing-masing!" sentak tuan Adrian lalu merebut ponsel miliknya dengan kasar.


"Astaga. Tadi ponselmu tidak berhenti berdering, aku berpikir suka telepon itu penting, itulah sebabnya aku menjawabnya."


"Aku tidak suka siapapun mengangkat teleponku!" tegas tuan Adrian.


"Memangnya siapa Mr Al? Kenapa kamu harus semarah itu?" desak nyonya Elina.


"Bukan masalah siapa yang menelpon, aku hanya tidak suka siapapun menjawab telepon masuk."


"Ya, ya, aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi."


"Aku sudah terlambat."


Tuan Adrian lantas meninggalkan ruangan tersebut.


"Ayah bisa semarah itu saat Ibu menjawab panggilan masuk di ponselnya, apa Ibu tidak curiga?"


"Aku tidak punya alasan untuk curiga. Ibu percaya penuh pada ayahmu, dia tidak akan pernah berani berbuat macam-macam di belakang ibu."

__ADS_1


"Aku tahu ibu begitu mencintai ayah, tapi aku tidak setuju jika Ibu percaya penuh padanya. Aku belum pernah melihat ayah semarah itu, aku yakin ada yang disembunyikannya."


"Sudahlah, jangan berpikiran buruk tentang ayahmu. Menurut ibu dia adalah suami dan ayah yang terbaik untuk kalian."


"Semoga."


Tuan Adrian memasuki mobilnya. Dia mengambil ponselnya lalu berkas menghubungi kontak yang bernama Mr Al itu.


[Bukankah aku sudah bilang, jangan pernah menghubungiku saat aku di rumah? Kamu tahu tadi istriku yang menjawab telepon darimu]


[Cepatlah ke sini, Sayang. Aku sedang tidak enak badan]


[Semalam kamu baik-baik saja]


[Baru bangun tidur tadi aku merasakan kepalaku pusing]


[Masih ada pekerjaan yang harus ku selesaikan. Aku baru bisa ke sana siang nanti]


[Baiklah kalau begitu. Jika aku mati di dalam kamar hotel ini aku akan menghantuimu seumur hidupmu]


[Tidak usah berlebihan begitu. Kamu hanya sakit kepala, bukan sakit parah.]


[Ih! Nyebelin banget sih!]


[Kamu istirahat aja di kamar, nanti sore aku ke sana]


[Hufht!]


[Aku kantor dulu, sampai jumpa lagi, Sayang]


-panggilan terputus-


****


Di rumah tuan Adrian.


Tidak biasanya bi Sumi yang selalu bangun paling awal, pagi itu terlihat tidak berada di dapur. Shanum pun memutuskan untuk memeriksanya di dalam kamarnya.


"Apa Bibi masih tidur?" tanyanya dari depan pintu kamar.


"Bibi sudah bangun, Nak."


"Bibi belum masak sarapan?"


"Bibi tidak enak badan, kepala bibi rasanya sakit."


"Mungkin Bibi kelelahan. Ya sudah, Bibi istirahat saja, biar aku yang membuat sarapan untuk Mas Adnan dan Mas Rayhan."


"Buat saja nasi goreng dengan telur mata sapi."


"Baik, Bi."


Shanum meninggalkan kamar bi Sumi lalu melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Loh, kok kamu yang masak, bi Sumi ke mana?" tanya Adnan yang saat itu mengambil minuman di dapur.


"Bi Sumi sedang tidak enak badan, jadi aku yang membaca sarapan untuk kalian."


"Pas sekali. Aku sedang ingin sarapan dengan nasi goreng. Jangan lupa beri taburan bawang goreng di atasnya. Oh ya, satu lagi, aku sangat menyukai makanan pedas."


"Bagaimana dengan mas Rayhan?"


"Mas Rayhan kurang terlalu menyukai makanan pedas."


"Jadi, aku harus memasak dua kali, begitu?"


"Ya, begitulah."


"Begini saja, aku buat nasi goreng yang tidak terlalu pedas dan membuat sambal. Nanti kalau nasi gorengnya kurang pedas Mas Adnan bisa menambahkan sambal."


"Terserah kamu saja. Nanti kalau sarapannya sudah siap, panggil kami," ucap Adnan. Ia lantas berlalu meninggalkan dapur.


Dua puluh menit kemudian.


"Mas Adnan … Mas Rayhan … sarapan sudah siap," ucap Shanum dari ruang makan.


Tidak berselang lama dua kakak beradik itu pun keluar dari dalam kamar mereka lalu menghampiri meja makan.


"Kenapa bukan bi Sumi yang menyiapkan sarapan?" tanya Rayhan.


"Bi Sumi sedang kurang sehat."


"Apa perlu kita antar ke dokter?"


"Sepertinya dia hanya kelelahan saja."


"Awas ya, kalau masa kamu tidak enak!" ancam Rayhan.


"Coba dulu masakan Shanum, baru komentar," protes Adnan.


Rayhan pun mulai memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Sumpah demi apapun, ini adalah nasi goreng terlezat yang pernah kumakan," batinnya.


"Bagaimana rasanya masakanku? Tidak buruk 'bukan?" tanya Shanum.


"Ah, biasa saja."


"Nasi goreng seenak ini, kenapa Mas Rayhan bilang biasa saja?"


"Memang biasa saja kok."


"Ya sudah kalian habiskan dulu nasi gorengnya, aku mau beres-beres dapur," ucap Shanum. Dia lantas berjalan menuju dapur.


"Katanya biasa saja, tapi makan nya lahap begitu," sindir Adnan.


"Aku lapar sekali."


"Lapar dengan doyan itu memang beda tipis ya?" Adnan terkekeh. Alhasil ia tersedak boleh makanan yang baru saja melewati kerongkongannya.


"Rasain ngeledek terus sih!"


"Bi … Shanum … kami berangkat ke kampus dulu," ucapan setelah menyelesaikan sarapannya.


"Ya, hati-hati," sahut Shanum dari arah dapur. Keduanya pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.


"Setelah pulang kuliah nanti kita langsung menuju kantor ayah. Aku tidak yakin dia langsung pulang," ucap Rayhan dalam perjalanan menuju kampus.

__ADS_1


"Ya, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti ibu tak terkecuali suaminya sendiri," ujar Adnan.


Bersambung …


__ADS_2