Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 7


__ADS_3

"Rasain! Makanya jangan jadi orang jahat!" seru Shanum. Ia lantas merebut dompet milik bi Sumi dari tangan pria itu.


Pria itu tak berkutik. Jangankan membalas serangan Shanum, rupanya serangan yang diberikan Shanum di bagian inti pria itu membuatnya begitu kesakitan hingga ia kesulitan berdiri.


"Oh, jadi kamu pencopet yang selama ini berkeliaran di pasar ini? Ayo ikut saya ke pos security!" sentak seorang petugas keamanan pasar.


"Ampun, Pak. Saya khilaf," ucapnya memelas.


"Kalau khilaf itu satu atau dua kali. Sudah banyak laporan kecopetan dari pengunjung pasar ini," ujar pria berseragam itu.


"Cepat bawa pencopet meresahkan ini ke kantor! Kalau perlu hukum dia seberat-beratnya! Kemarin uang saya satu juta di dompet hilang di pasar ini. Pasti dia pelakunya!" seru seorang pengunjung pasar.


"Ampun … Pak. Saya jangan dipenjara. Anak-anak saya masih kecil," rintih pria bertato itu.


"Kalau mau ngasih makan anak itu kerja yang benar, jangan jadi copet begini!" sungut pengunjung lainnya.


Dari petugas keamanan pasar, pandangan pria itu beralih pada Shanum.


"Mbak … Dek … siapapun nama kamu, tolong cegah bapak satpam ini agar jangan membawa saya ke kantor. Kalau saya dipenjara, bagaimana dengan anak-anak saya? Mereka sudah tidak punya ibu. Saya mencopet karena terpaksa. Anak saya yang bungsu sudah tiga hari ini dirawat di rumah sakit karena terserang malaria. Saya harus membayar tagihan rumah sakit hari ini juga."


"Jangan dengarkan omongannya. Dia ini belum menikah. Uang hasil mencopet itu pasti digunakan untuk mabuk dan berjudi." Salah seorang pengunjung pria pria menimpali.


"Maaf, saya tidak bisa membantu. Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan kamu," ujar Shanum.


"Awas kamu!" ancam pria itu.


"Ayo kita ke pos!" Petugas keamanan itu mencengkeram lengan si pencopet itu lalu mengajaknya meninggalkan pasar.


"Alhamdulillah, untung kamu ikut bibi. Kalau tidak bibi pasti sudah kecopetan," ucap bi Sumi.


"Apa benar yang dikatakan pria itu, dia mencopet untuk biaya pengobatan anaknya yang sedang sakit?"


"Itu hanya akal-akalannya saja untuk meminta belas kasihan agar tidak ditangkap. Kamu dengar 'kan dia sempat mengancammu sebelum pergi?"


"Benar juga. Kita sudah selesai belum belanja nya, Bi?"


"Sudah, Nak. Sekarang kita pulang."


"Terima kasih, Nak. Berkat keberanianmu pencopet yang selama ini meresahkan bisa tertangkap," ucap salah satu pengunjung.


"Sama-sama, Pak. Ya sudah, kami permisi dulu, Assalamu'alaikum."


Shanum dan bi Sumi meninggalkan pasar. Mereka pun lantas menaiki angkutan umum yang akan mengantar mereka pulang.


"Mana oleh-oleh nya, Bi?" tanya Adnan saat keduanya tiba di rumah.


"Sebentar toh Mas, baru juga sampai sudah ditanya mana oleh-oleh nya."


Bi Sumi dan Shanum berjalan menuju dapur. Tidak lama kemudian Shanum kembali ke ruang tamu dengan membawa satu kantong plastik berisi beraneka jenis jajanan pasar.


"Ini, Mas jajajan pasar nya," ucapnya seraya meletakkan kantong plastik tersebut di atas meja.


"Wah, komplit sekali." Adnan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ya sudah, saya mau beres-beres dulu."


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Adnan tengah duduk santai sembari menikmati kue cucur ketika tiba-tiba seseorang meraih kantong plastik itu lalu mengambil isi di dalamnya.


"Wah, lumayan nih buat mengganjal perut setelah jogging," ujarnya.


"Itu punyaku. Kenapa diambil?" protes Adnan.


"Sedikit saja kok, pelit amat sama saudara sendiri," ucap Rayhan dengan mulut berisi penuh kue cucur.


"Kalau mau minta itu bilang baik-baik."


"Adikku Adnan yang ganteng dan baik hati, mas Raihan minta kue cucur nya ya."


"Hufht! Sini kue nya!" Adnan merebut kembali kantong plastik berwarna hitam itu dari tangan Rayhan.


"Kalian berdua apa-apaan sih. Pagi-pagi begini sudah berebut makanan. Itu 'kan hanya kue pasar," ucap Hannan yang baru saja muncul dari arah teras. Setiap pagi pemuda yang satu ini selalu bersepeda mengelilingi taman.


"Mas Hanan jangan remehin jajanan pasar. Sekali mencoba kujamin pasti ketagihan," ucap si bungsu Adnan.


"Apa jajanan pasar seenak itu sampai-sampai kamu selalu titip ini setiap bi Sumi ke pasar?" tanya Hanan penasaran.


"Kalau nggak percaya coba saja."


"Ah, rasanya biasa saja kok." Hanan mengambil sewadah kue cucur dan berniat membawanya ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua.


"Kembalikan kue cucurku! Jangan diambil semua!" teriak Adnan sembari berlari mengejarnya."


Suara gaduh itu memaksa sang ayah dan sang ibu yang masih terlelap di dalam kamar untuk bangun.


"Hanan! Adnan! Apa-apaan kalian ini. Kejar-kejaran seperti anak kecil saja!" sentak tuan Adrian.


"Mas Hanan mengambil jajanan pasar milikku, Yah," adu si bungsu Adnan.


"Astaga. Itu rupanya yang kalian ributkan. Hanan! Kembalikan kue itu! Bilang pada bi Ami untuk membuatnya. Pagi-pagi sudah membuat kepalaku mau pecah saja," gerutu nyonya Elina kesal.


"Bi Ami mana bisa membuat kue yang kaya gini?"


"Ya sudah, kamu beli sendiri di pasar. Ibu masih ngantuk, mau tidur lagi."


"Ini sudah hampir jam tujuh pagi, Bu. Masa Ibu mau tidur lagi." Hanan menimpali.


"Kalian tidak tahu, ayah dan ibu lembur semalaman mengerjakan proposal untuk proyek bernilai milyaran rupiah. Jika sampai proyek ini sukses, kita bisa liburan ke luar negeri," ungkap tuan Adrian.


"Beneran, Yah?"


"Bener lah. Memangnya kapan ayah kalian bohong?" tukas sang ibu.


"Ya sudah, kami mau tidur lagi. Awas kalau kalian buat keributan lagi!" Tuan Adrian melingkarkan tangannya di pundak nyonya Elina lalu mengajaknya masuk kembali ke dalam kamar.

__ADS_1


"Kembalikan kue cucurku!" seru Adnan.


"Ambil kalau bisa." Adnan kembali berlari mengejar Hanan, namun pemuda itu justru masuk ke dalam kamarnya.


"Buka pintunya!" teriaknya sembari menggedor pintu.


"Astaga, Hanan! Adnan!" teriak sang ibu dari dalam kamarnya. Meski kesal kue kesukaannya diambil sang kakak, Adnan akhirnya memilih meninggalkan kamar tersebut.


"Ada apa sih 'Mas, kok ribut-ribut begini?" tanya bi Sumi saat Adnan menuruni anak tangga.


"Kue cucurku diambil mas Hanan," jawabnya yang sontak membuat bi Sumi dan Shanum terkekeh.


"Kue cucur toh biang keroknya. Nanti biar aku buatin," ucap Shanum.


"Memangnya kamu bisa?"


"Dulu aku sering membuatnya untuk almarhum kakek."


"Begitu ya."


Obrolan mereka terhenti saat tiba-tiba terdengar suara teriakan seseorang.


"Sumi! Sumi!"


"Bayi besar sudah bangun," gumam bi Sumi.


"Nak, bibi sedang memasak semur, bibi titip sebentar ya."


"Ya, Bi."


"Nanti kalau kue cucur nya sudah siap, panggil aku ya. Aku di dalam kamar," ucap Adnan.


"Mas Adnan tidak ke kampus?"


"Aku berangkat siang," jawab Adnan sebelum ia meninggalkan ruang dapur.


Tidak lama kemudian pintu kamar "bayi besar" terbuka. Tampak bi Ami keluar dengan mendorong kursi roda yng ditumpangi nyonya Arimbi.


"Bibi ke depan dulu ya, Nak, berjemur," ucap bi Ami dari ruang tengah.


"Ya, Bi."


Seperti pesan bi Ami untuk mengawasi semur daging sapi yang tengah dimasaknya, Shanum tengah mengaduk daging sapi tersebut ketika tiba-tiba Rayhan masuk ke dalam ruang dapur.


"Apa tugas kamu di rumah ini memasak juga?" tanyanya.


"Ehm … tidak kok Mas. Aku hanya menjaganya saja karena bibi sedang menemani nyonya besar berjemur di depan."


"Awas saja kalau sampai masakannya tidak enak!" sungut Rayhan sembari beranjak meninggalkan ruang dapur.


"Kenapa sih mas Rayhan sebenci itu padaku?" gumam Shanum.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2