Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 6


__ADS_3

Pagi itu Shanum baru selesai menjalankan shalat subuh di kamarnya. Entah mengapa ia merasa begitu haus. Ia pun memutuskan mengambil air minum yang berada di dapur. Di saat bersamaan Raihan yang terbiasa melakukan joging itu keluar dari dalam kamarnya. Tujuannya sama, yakni mengambil air minum di dapur untuk mengisi botol minumnya.


Alangkah terkejutnya ia saat mendapati sesosok perempuan berpakaian putih berada di ruangan itu.


"Se-se-se-taaaan!" teriaknya.


"Astaghfirullahaldzim!" Shanum tersentak kaget bahkan nyaris menjatuhkan gelasnya.


"Di mana setannya?"


"K-ka-kamu siapa?"


"Aku manusia, bukan setaan."


"Kamu pasti pencuri. Cepat pergi dari rumah ini sebelum aku berteriak dan membuat seisi rumah ini bangun!"


"Kalaupun aku memang pencuri, aku pencuri paling bodoh karena memilih waktu pagi untuk mencuri." Shanum meneguk isi gelasnya lalu meletakkannya kembali di atas meja.


"Jadi kamu ini siapa? Kenapa berada di rumah ini?"


"Gadis yang sekarang berdiri di daerah depan kamu ini bernama Shanum. Dialah yang kemarin merapikan dan membersihkan kamarmu," jelas Mbok Sumi yang baru saja muncul di ambang pintu.


"Aku pikir dia pencuri, habisnya semalam aku tidak melihatnya sama sekali."


"Mas Raihan 'kan semalam tidur cepat."


"Baru bangun tidur kok penampilanmu rapi begini, memangnya sudah shalat Subuh?"


"Memangnya kenapa kalau aku belum shalat Subuh? Itu bukan urusanmu!" ketus si sulung dari tiga bersaudara itu.


"Kita ini 'kan umat muslim. Shalat lima waktu adalah ibadah wajib yang harus kita lakukan dan tidak boleh kita tinggalkan dalam keadaan apapun. Memangnya kamu tidak takut neraka?"


"Astaga. Baru bangun tidur begini sudah mendengar ceramah. Kamu membuat telingaku panas saja," gerutu Raihan kesal.


"Oh, panas ya? Berarti di dalam hatimu banyak setannya."


"Bi Sumi dapat dari mana sih perempuan model begini? Cuma pembantu saja kayaknya seperti ustadzah."


"Shanum ini termasuk baik loh, Mas. Dia mengingatkan Mas Raihan untuk shalat Subuh. Seharusnya Mas Rehan tidak perlu marah-marah begitu."


"Hufht! Malah belain dia lagi!"


Rayhan membuka pintu kulkas lalu mengambil sebotol air mineral dari dalam sana kemudian membanting kembali pintunya dengan begitu keras.


"Begitulah kalau di hatinya dipenuhi dengan setan. Diberitahu baik-baik malah marah," gerutu Shanum.


Rayhan enggan menanggapi ucapan itu, dia justru beranjak meninggalkan dapur.


"Sepertinya hanya Bi Sumi dan mas Adnan saja penghuni rumah ini yang waras," ucap Shanum sesaat setelah


Rayhan berlalu.


"Jadi, yang lainnya tidak waras?" Wanita paruh baya itu terkekeh.


"Habis, semuanya galak dan kasar sih, Bi."


"Kamu ikut bibi, yuk."


"Kemana, Bi?"

__ADS_1


"Ke pasar."


"Memangnya sepagi ini pasar sudah buka?"


"Pasar di dekat sini sudah buka sejak pukul dua dini hari."


"Ya sudah, aku taruh mukena dulu ya, Bi."


Shanum beranjak dari ruang dapur.


"Bibi mau masak apa pagi ini?" tanya Shanum saat keduanya berangkat menuju pasar.


Bi Sumi mengambil secarik kertas dari dalam laci meja lalu menyodorkannya pada Shanum.


"Menu selama seminggu.


Hari Senin


Sarapan bla bla bla


Makan siang bla bla bla


Makan malam bla bla bla."


"Jadi menu makanan di keluarga ini sudah diatur sama nyonya?" tanya Shanum. Bi Sumi menganggukan kepalanya.


"Bibi malah senang,setiap hari tidak pusing mikir menu," ujarnya.


"Pasarnya jauh nggak, Bi?"


"Naik angkutan umum tidak sampai sepuluh menit kok."


"Kalian mau ke mana?" tanya Adnan yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.


"Jangan lupa jajan pasarnya ya, Bi."


"Beres, Mas."


Sesampainya di pasar.


Menu yang harus dihidangkan pagi ini adalah semur daging sapi. Jadi tempat pertama yang didatangi mereka adalah kios daging.


"Gadis ini siapa, Sum? Anak kamu?" tanya pemilik kios yang sudah dekat dengan bi Sumi.


"Oh, bukan. Dia bekerja di rumah bapak Adrian juga."


"Pasti tidak lama dia keluar dari pekerjaannya. Penghuni di rumah itu 'kan semuanya kasar dan galak."


"Segala-galaknya manusia tidak mungkin memakan sesamanya 'bukan?"


"Saya acungi jempol empat deh deh kalau kamu krasan kerja di rumah itu."


"Sudah, sudah. Kok malah ngobrol sih. Dagingnya satu kilo," ucap bi Sumi.


"Oh ya, ini hari Selasa ya. Saya sampai hafal menu di keluarga besar itu. Ayamnya nggak sekalian?"


"Boleh."


Dengan sikap pemilik kios menimbang daging ayam dan daging sapi lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik.

__ADS_1


"Kita ke mana lagi, Bi?" tanya Shanum


"Ke kios buah. Buah yang harus bibi juga tidak hanya satu macam saja."


"Benar-benar keluarga yang unik."


"Satu kilo jeruk, satu kilo apel, satu kilo pir,


dan satu sisir pisang ambon," ucap bi Sumi pada pemilik kios buah.


"Anggur dan pepaya nya untuk hari Rabu


'bukan?" tanya pemilik kios.


"Sepertinya semua pedagang di pasar ini sudah hafal menu di keluarga besar Ardian Permana," ucap Shanum.


"Ya, begitu lah."


Setelah membayar buah-buahan yang dibeli, keduanya pun lantas bergeser ke kios sayuran.


"Satu kilo bayam, brokoli, kentang, dan wortel," ucap bi Sumi pada pemilik kios.


"Enak ya sekarang punya asisten. Biasanya kamu membawa barang belanjaan sebanyak ini sendirian."


"Saya bukan asisten nya kok, Bu. Saya juga bekerja di rumah tuan Adrian Permana," jelas Shanum.


"Saya mau lihat berapa lama kamu betah bekerja di rumah itu," ujar pemilik kios.


"Apapun yang terjadi insyaallah saya betah bekerja di sana."


"Memangnya kamu kuat menghadapi anak-anaknya pak Ardian yang sulit diatur itu?"


"Insyaallah. Kita belanja apalagi, Bi? Oh ya, tadi mas Adnan titip jajanan pasar 'kan?"


"Oh iya. Bibi hampir lupa. Untung kamu mengingatkan. Setiap bibi ke pasar mas Adnan selalu titip jajanan pasar."


Keduanya pun tiba di sebuah lapak yang menjual beraneka jenis jajanan pasar. Entah mengapa tiba-tiba raut wajah Shanum berubah sedih.


"Kamu Kenapa, Nak?"


"Kue lapis ini mengingatkanku pada almarhum kakek. Beliau sangat menyukai jajanan pasar ini."


"Orang bilang kalau kita mengingat seseorang yang sudah tiada, kirim surat Al-fatihah untuknya," ujar bi Sumi.


Shanum mengangguk paham.


Bi Sumi tengah sibuk memilih beberapa jenis jajanan pasar. Ia tak menyadari jika seorang pria telah berada di dekatnya dan mencoba memasukkan salah satu tangannya ke dalam tas belanjaannya.


"Kembalikan dompet itu atau kupatahkan tanganmu!" ancam Shanum.


"Memangnya perempuan sepertimu bisa apa?" Pria itu terkekeh.


"Kamu menantangku?!"


Shanum berjalan menghampiri pria itu lalu mencengkram salah satu tangannya.


"Berani kamu rupanya 'hah!."


Pria itu mencoba mencengkeram tangan Shanum, namun gadis itu justru menggigit lengan si pria.

__ADS_1


"Brengseeek!" Pria itu mencoba membalas serangan Shanum dengan cara memberinya pukulan di bagian wajahnya. Shanum yang sedari kecil pandai bela diri itu dengan sikap menghalaunya. Ia justru mengarahkan salah satu kakinya ke bagian ************ si pria.


Bersambung …


__ADS_2