Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 15


__ADS_3

"Loh, mangga-mangga itu dari mana?" tanya nyonya Elina saat mendapati Adnan membawa baskom berisi penuh buah mangga.


"Dari pohon kita lah, Bu."


"Memangnya sejak kapan kamu berani memanjat pohon?"


"Bukan aku yang memanjat pohonnya."


"Lantas?"


"Shanum."


"Yang benar saja. Masa perempuan bisa manjat pohon."


"Aku tidak mengada-ada, Bu. Tadi Shanum lincah banget menaiki dan menuruni pohon."


"Pasti itu mainannya saat di kampung dulu, dasar gadis kampung."


"Memangnya di mana salahnya kalau gadis itu pintar memanjat pohon? Aku justru salut padanya." Nyonya Arimbi yang baru saja keluar dari dalam kamarnya itu menimpali. Ia pun lantas mengarahkan kursi rodanya mendekati meja ruang makan.


"Sebagai perempuan seharusnya dia bisa menjaga etika dan tingkah laku. Memanjat pohon itu 'kan hanya pantas dilakukan oleh laki-laki."


"Meskipun sifatnya tidak seperti seorang puteri, tapi hatinya baik dan tulus," ujar nyonya Arimbi.


"Ibu belum tahu sifat aslinya saja. Gadis itu pintar mencari muka dan pemalas."

__ADS_1


"Jika tidak menyukai seseorang, apapun yang dilakukannya akan selalu salah di matanya. Begitu pun kamu. Dari awal kamu tidak pernah menyukai gadis itu 'bukan?"


"Ibu ini kenapa? Aku lihat Ibu begitu peduli dengan gadis kampung itu. Apa karena aku tidak bisa memberikan cucu perempuan?" protes nyonya Elina.


"Adnan, tolong kupas mangga itu, lalu antar ke kamar nenek."


"Aku belum selesai bicara, Bu."


Nyonya Arimbi tak menghiraukan ucapan puteri semata wayangnya itu. Ia justru memutar kursi rodanya lalu mengarahkannya menuju kamar.


Sementara itu Shanum yang baru saja selesai membersihkan taman belakang terlihat memasuki kamar mandi yang terletak di dekat dapur.


"Kamu pakai jimat apa sehingga ibu dan putera saya begitu menyukaimu?" ketus nyonya Elina.


"Jimat apa yang Nyonya maksud? Saya tidak memakai jimat apapun."


"Demi Allah, apa yang Nyonya tuduhkan pada saya tidak benar."


"Tidak perlu membawa-bawa nama Tuhan."


"Niat saya bekerja di rumah ini hanya lah untuk menyambung hidup. Sungguh, saya tidak punya tujuan lain, apalagi ingin merebut hati penghuni rumah ini," ujar Shanum.


"Astaga. Apa yang kalian ributkan di sini?" ucap Adnan yang hendak mengembalikan pisau dapur.


Nyonya Elina enggan menanggapi pertanyaan itu. Ia justru berlalu dari dapur lalu berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


"Ibu bicara apa tadi?" tanya Hanan.


"Ah, tidak bicara apa-apa kok, Mas. Nyonya hanya bertanya apa aku sudah selesai membersihkan taman belakang."


"Tapi kelihatannya obrolan kalian serius."


"Maaf, Mas. Saya mau mandi dulu. Tadi habis memanjat pohon dan bakar sampah di belakang jadinya berkeringat."


"Baiklah." Adnan meninggalkannya riang dapur sementara Shanum memasuki kamar mandi.


Hanan memutuskan keluar dari dalam kamarnya lantaran mulai merasa lapar. Di saat menuruni tangga itu lah dia berpapasan dengan Shanum yang baru keluar dari kamar mandi.


"Mas Hanan mau makan siang ya? Biar saya siapkan."


"Hmmm." Hanan hanya bergumam.


"Saya turut prihatin atas apa yang dialami Mas Hanan. Tapi percayalah, dengan pengobatan dan semangat, saya yakin Mas Hanan bisa sembuh," ucap Shanum seraya meletakkan mangkuk berisi sayuran di atas meja."


"Ya sudah, saya mau shalat Dzuhur dulu."


Hanan memandangi punggung Shanum yang menjauh dari hadapannya. Ia pun lantas memulai santap siangnya. Meskipun selera makannya sedang kurang baik, ia tetap memaksa memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.


Hanan baru menyelesaikan makan siang nya ketika tiba-tiba terdengar suara lantunan ayat suci Al-Qur'an dari sebuah kamar. Tidak salah lagi, suara itu berasal dari kamar Shanum. Entah berasal dari mana dorongan itu, Hanan beranjak dari meja makan kemudian menghampiri kamar tersebut. Diam-diam ia mendengarkan suara merdu Shanum yang tengah melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an hingga tanpa ia sadari bulir-bulir bening itu mulai menetes dari sudut matanya.


"Apakah penyakit ini bentuk teguran karena hamba tidak pernah lagi menyebut nama Mu?" gumamnya.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2