
"Ehm … tidak kok Bu. Sepertinya Ibu salah dengar," ucap Rayhan.
"Tadi kami sedang membicarakan teman kuliah kami." Adnan menimpali.
"Kalian ingin senang bergosip seperti ibu-ibu saja." Nyonya Elina terkekeh.
Obrolan mereka terhenti saat tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
"Masuk," ucap nyonya Elina.
Rupanya bi Sumi dan Shanum.
"Bagaimana kabar Mas Hanan?" tanya bi Sumi.
"Sudah lebih baik, Bi. Hanya tinggal menunggu masa pemulihan."
"Syukurlah kalau begitu."
Tiba-tiba pandangan Adnan tertuju pada rantang susun tiga yang ditenteng Shanum.
"Itu apa?" tanyanya.
"Oh, ini sop baru buntut. Aku sengaja memasaknya untuk Mas Hanan."
"Kebetulan aku sedang lapar. Makanan kan sudah makan makanan dari rumah sakit. Sop ini buat aku saja ya," ucap bungsu dari tiga bersaudara itu sembari mengambil alih rantang tersebut dari tangan Shanum.
"Kamu ini gimana? Jelas-jelas Shanum memasaknya untuk kakakmu. Kenapa jadi kamu memakannya," protes sang ibu.
"Tidak apa, Nyonya. Kebetulan saya memasak cukup banyak. Kalau hanya dimakan makanan saja pasti tidak habis," ucap Shanum.
"Mas Ray mau nggak?"
Adnan menggeser langkahnya dari ranjang pasien menuju sofa yang berada di dalam ruang perawatan.
"Kamu saja yang makan, aku belum lapar."
Aroma bawang goreng pun seketika menguar memenuhi ruangan saat Adnan membuka salah satu tutup rantang susun.
"Aromanya membuatku semakin lapar saja," ujar Adnan. Dia pun mulai menuangkan nasi ke dalam salah satu rantang lalu menyiramnya dengan kuah sop buntut tersebut.
"Hmmm … lezat sekali. Mas Rayhan yakin nggak mau?"
"Bukankah sudah kubilang tadi, aku belum lapar."
__ADS_1
"Jangan tanya ya kalau makanan ini aku habiskan."
"Astaga. Jangan dihabiskan juga. Sisakan untukku."
"Tinggal bilang mau saja pakai gengsi," gerutu Adnan.
"Apa Mas Hanan belum diperbolehkan pulang, Nyonya?" tanya Bi Sumi.
"Hanan diperbolehkan pulang jika kondisinya benar-benar sudah pulih."
"Oh ya, Mas, sebelum kami berangkat ke sini ada seorang gadis yang mencari mas Hanan," ucap Shanum.
"Bagaimana ciri-cirinya?"
"Tingginya tidak lebih tinggi dari saya, kulitnya putih, rambutnya sebahu berwarna kemerahan."
"Ah, pasti Naomi," gumam Hanan.
"Lalu kamu bilang apa?"
"Saya bilang apa adanya kalau Mas Hanan sedang sakit dan dirawat di rumah sakit."
"Astaga. Kenapa kamu harus bilang padanya jika aku sedang dirawat di rumah sakit? Kamu kan bisa bilang aku sedang pergi ke mana."
"Memangnya kenapa kalau gadis itu tahu kamu dirawat di rumah sakit?" Nyonya Elina menimpali.
"Naomi pasti akan datang ke sini dengan mengajak kawan-kawan sekelasku. Lalu mereka akan membawakan banyak makanan seolah aku ini orang yang lemah."
"Bukankah itu bagus? Kalau Mas Hanum tidak mau memakan makanan dari mereka, biar aku saja yang menghabiskannya," ucap Hanan dengan mulut berisi penuh makanan.
"Kalau makan jangan sambil bicara, nanti tersedak," ucap Rayhan.
"Uhuk! Uhuk!"
Tiba-tiba Adnan tersedak oleh makanannya.
"Ternyata do'a buruk itu lebih cepat terkabul," gerutu Adnan yang sontak membuat tawa mereka meledak.
"Mas Rayhan jadi menginap di sini 'kan?" tannya Adnan usai menyelesaikan makan sore nya.
"Ya, kasihan ibu kalau sendirian saja menemani Hanan."
"Bi Sumi … Shanum, kalian mau pulang sekarang atau nanti? Kalau mau pulang sekarang bareng mobilku saja."
__ADS_1
"Boleh, Mas. Biar lebih cepat sampai di rumah," ujar bi Sumi.
"Ya sudah kami pulang dulu."
"Kamu nggak habisin sayur sopnya kan 'Nan?" tanya Rayhan.
"Enggak kok. Aku masih menyisakan kuahnya."
"Yang benar saja."
"Kami pulang dulu, Nyonya. Assalamualaikum."
Shanum, bi Sumi dan Adnan pun lantas meninggalkan ruang perawatan tersebut.
"Oh ya, Bi. Tadi ayah sudah sampai rumah 'kan?" tanya Adnan d tengah perjalanan pulang menuju rumah mereka.
"Belum, Mas."
"Loh. Padahal tadi ayah bilang dari rumah sakit mau langsung pulang ke rumah karena masih banyak pekerjaan."
"Saat kami mau berangkat, tuan Adrian belum tiba di rumah."
"Pasti dia belok lagi."
"Belok?"
"Ya. Ayah tidak benar-benar pulang ke rumah melainkan mampir tempat lain."
"Mungkin saja tuan Adrian masih ada urusan, jadi beliau tidak langsung pulang ke rumah," ujar Shanum.
"Urusan dengan perempuan lain."
"Hah?! Apa maksud Mas Adnan?"
"Kami bertiga curiga jika ayah menjalin hubungan dengan perempuan lain di belakang ibu."
"Bibi mengenal betul siapa Tuan Adrian. Beliau tidak mungkin melakukan hal itu."
"Kami sedang mengumpulkan bukti. Bibi nanti akan tahu apakah hal itu benar atau kami hanya asal bicara saja," ujar Adnan.
"Ya. Semoga kecurigaan kalian tidak benar," ucap Shanum.
Bersambung …
__ADS_1