
Di kantor Adrian.
Adrian baru saja kembali dari ruang rapat ketika tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya. Rupanya asisten pribadinya, Gavin.
"Ada apa?"
"Saya merasa ada yang mengawasi kantor ini, terutama ruangan Tuan."
"Apa dia menaiki kendaraan?"
"Ya, Tuan. Dia menaiki mobil Jeep berwarna hitam."
Adrian membuka salah satu laci mejanya lalu mengambil sebuah teropong dari dalam sana. Ia pun lantas beranju dari tempat duduknya dan berjalan mendekati jendela. Dengan benda itu dia bisa melihat dengan jelas siapa orang yang mengawasi kantor nya.
"Sudah kuduga, mereka Rayhan dan Adnan. Kalian pikir aku sebodoh itu?" batinnya.
"Bagaimana, Tuan? Apa benar mobil yang di sana itu tengah mengawasi kantor ini?" tanya Gavin.
"Lanjutkan pekerjaanmu."
"Baik, Tuan." Gavin menundukkan kepalanya sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.
Adrian mengambil ponselnya. Tentu saja yang ada di pikirannya saat ini adalah secepatnya menghubungi pacar gelapnya, Alicya.
[Halo, Sayang. Ada apa nelpon siang-siang begini? Pasti kangen ya? Nanti sore 'kan kita ketemu]
[Dengar. Aku menelponmu justru ingin memberitahumu, Sepertinya sore ini aku tidak bisa datang ke hotel]
[Nggak bisa gitu dong. Kamu 'kan sudah janji datang ke sini hari ini]
[Kali ini aku minta maaf tidak bisa memenuhi janjiku]
[Jangan-jangan kamu punya simpanan selain aku]
[Bukan itu yang menjadi alasannya]
__ADS_1
[Lantas?]
[Kadua anak laki-lakiku mengintaiku. Sepertinya mereka curiga jika aku memiliki hubungan dengan wanita lain di belakang Elina]
[Bagaimana bisa begitu?]
[Sepertinya ini juga karena kesalahanku. Kemarin aku menjawab telepon dari salah satu anakku saat kita sedang melakukan pemanasan. Mungkin anakku mendengar suara desahaanku dari ponselnya]
[Astaga. Kenapa kamu se ceroboh itu?]
[Jangan hanya menyalahkanku. Kamu 'kan juga membuat suara waktu itu. Kurasa hal itu juga yang membuat mereka curiga dan akhirnya ingin menyelidikiku. Mungkin untuk sementara waktu kita jangan bertemu sampai mereka percaya jika aku tidak melakukan perselingkuhan. Kamu juga harus ingat, selagi kita tidak bertemu untuk sementara waktu, kamu jangan pernah sekalipun mengirim pesan apalagi menelponku]
[Ini nggak adil. Bagaimana kalau aku kangen sama kamu?]
[Bersabar lah sebentar demi kebaikan kita]
[Ya sudah, kalau memang harus begitu aku bisa apa]
[Simpan dulu rasa kangennya sampai kita bertemu lagi]
[Awas ya, kalau kamu sampi lari apalagi memblokir nomorku!]
[Love you]
[Love you too]
-Panggilan terputus-
Sementara itu di suatu tempat tidak jauh dari kantor.
"Harus berapa lama lagi kita menunggu di sini? Cacing di perutku sudah demo."
"Bersabar lah sebentar lagi. Kita sudah setuju melakukan misi ini demi ibu kita 'bukan?"
"Ya, tapi kenapa ayah tidak kunjung keluar dari dalam kantornya?"
__ADS_1
"Mungkin sebentar lagi."
Obrolan itu terjadi di antara kedua anak laki-laki Adrian yang tak lain dan tak bukan adalah si sulung Rayhan dan si bungsu Adnan.
Penantian panjang mereka berakhir saat mendapati mobil sedan berwarna putih itu mulai bergerak meninggalkan kantor.
"Aku yakin ayah tidak akan langsung pulang ke rumah," ujar Rayhan sesaat sebelum menghidupkan mesin mobilnya.
"Jangan banyak bicara lagi, ayo sekarang kita ikuti mobil ayah sebelum kita kehilangan jejaknya," ucap Adnan.
Rayhan melakukan mobilnya mengikuti mobil sang ayah dengan tetap menjaga jarak aman.
"Apa kubilang, ayah tidak langsung pulang," ucap Adnan saat mendapati mobil sedan itu menuju arah yang bukan rumah mereka.
"Oh, mau ke kios buah rupanya."
Keduanya masih tetap mengawasi gerak-gerik sang ayah tanpa beranjak dari dalam mobil.
"Buah itu pasti untuk perempuan simpanannya," ucap Rayhan.
Setelah membeli sebuah parcel buah, sang ayah pun lalu kembali memasuki mobilnya.
"Loh, kok putar balik?" ucap Adnan.
"Kita ikuti saja, mungkin ayah mau lewat jalan pintas," tukas Rayhan.
"Ini 'kan jalan menuju rumah sakit. Apa ayah tidak kemana-mana?" ucap Adnan lagi.
"Tuh, kan, berhenti."
"Apa perempuan itu dirawat di rumah sakit ini juga?" batin Rayhan.
Keduanya pun turun dari dalam mobil lalu mengikuti ke arah mana sang ayah berjalan.
"Loh, itu 'kan ruang perawatan mas Hanan. Ternyata kita salah sangka," ujar Rayhan.
__ADS_1
"Tidak, aku yakin ayah sudah tahu jika kita mengintai nya. Itulah sebabnya dari kantor dia sengaja langsung ke rumah sakit ini," ucap Adnan.
Bersambung …