
"Ehm … aku tidak yakin terus bekerja di sini," ucap Shanum.
"Kenapa kamu berkata begitu?"
"Aku selalu salah di mata tuan Adrian. Sepertinya dia memang tidak menginginkan keberadaanku di rumah ini."
"Penghuni rumah ini bukan hanya tuan Adrian saja. Masih ada nyonya Elina, nyonya Arimbi, dan tiga cucu laki-lakinya. Bibi rasa sejauh ini mereka selalu puas dengan pekerjaanmu. Bahkan semenjak kehadiramu, ke tiga anak laki-laki tuan Adrian yang dulunya selalu bersikap seenaknya sendiri, kini berubah menjadi lebih baik. Itu semua karena kamu, Nak," ucap bi Sumi.
"Apa benar begitu, Bi?"
"Tentu saja. Bibi melihat sendiri sekarang mas Adnan sudah terbiasa merapikan kamarnya sendiri. Mas Rayhan pun sekarang tidak pernah lagi keluyuran kalau malam."
Obrolan mereka terhenti saat Hannan tiba-tiba melintas di depan ruang menyetrika.
"Loh, Mas Hannan kok keluar dari kamar?" tanya Shanum.
"Kamu pikir aku tidak bosan berhari-hari di kamar saa?"
"Memangnya Mas Hannan mau kemana?"
"Aku mau ke taman belakang rumah saja. Bi, tolong ambilkan pakan ikan koi."
"Baik, Mas." Bi Sumi berlalu dari ruangan itu. Tidak berselang lama ia kembali dengan membawa sewadah pakan ikan yang diminta Hannan.
__ADS_1
"Aku mau ke taman belakang dulu," ucap Hannan sembari berlalu dari hadapan Shanum.
"Oh ya, setelah selesai menyetrika kamu bersihkan taman di belakang. Tadi bibi lihat daun kering banyak sekali yang berserakan."
"Padahal pagi tadi aku sudah membersihkannya."
"Sepertinya pohon mangga di belakang rumah sedang merontokkan daunnya, jadi kamu harus menyapunya pagi dan sore," jelas bi Sumi. Shanum mengangguk paham.
Sementara itu Hannan telah berada di taman belakang rumah.
"Astaga. Kotor sekali kolam ini. Apa Shanum tidak pernah membersihkannya?" ucapnya sembari memunguti daun kering yang mengambang di tas permukaan kolam. Ia lantas menyebar pakan ikan koi setelahnya.
"Pasti kalian lapar sekali. Maaf, belakangan ini aku sakit, jadi kurang memperhatikan kalian," ucap Hannan.
pada puluhan ekor ikan koi peliharaannya.
Hannan tersentak kaget saat Shanum tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Astaga. Mengagetkan saja. Untung aku tidak punya kelainan jantung."
"Ma-ma-af, Mas. Saya tidak bermaksud mengagetkan. Saya hanya ingin membersihkan taman ini."
"Kenapa taman ini kotor sekali? Pasti kamu malas membersihkannya."
__ADS_1
"Pagi tadi saya sudah membersihkan taman ini kok, Mas. Tapi pohon mangga ink saja yang sedang merontokkan daunnya."
"Ah, kamu selalu pandai mencari alasan."
Shanum yang selama ini acuh pada kolam ikan itu entah mengapa tertarik untuk mengamatinya. Puluhan ekor ikan berukuran cukup besar itu terlihat tengah berebut makanan yang dilemparkan Hannan. Sesekali mulut mereka menengadah untuk mendapatkan udara.
"Ikannya sudah besar. Pasti lezat kalau digoreng," ujar Shanum.
"Enak saja digoreng. Kamu pikir ini ikan emas? Ini ikan hias, tidak untuk dimakan."
"Oh, begitu ya."
"Ikan-ikan ini aku pelihara sejak mereka masih begitu kecil. Jadi jangan pernah kamu mengambil seekor pun," ucap Hannan.
"Baik, Mas." Shanum mulai menggerakkan gagang sapunya lalu mengumpulkan daun-daun kering yang berserakan di atas rerumputan taman.
"Loh, Mas Hannan kenapa?"
Shanum bergegas menghampiri Hannan saat anak ke dua dari tiga bersaudara itu tiba-tiba saja menjatuhkan wadah pakan ikan yang digenggamnya. Ia lantas memegangi bagian kepalanya.
"Mas Hannan! Awas!" teriak Shanum saat laki-laki itu telah berada di pinggir kolam.
"Ya Allah, Mas!" Shanum mempercepat langkahnya lalu menarik lengan Hannan Terlambat sedikit saja Hannan pasti sudah tercebur ke dalam kolam ikan koi itu.
__ADS_1
"Ah! Byur!" jerit Shanum lantaran salah satu kakinya tiba-tiba terpeleset rerumputan. Dia lah yang justru tercebur ke dalam kolam tersebut.
Bersambung …