Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 33


__ADS_3

Niat hati ingin menolong Shanum keluar dari kolam dengan kedalaman 1,5 meter itu namun Hannan merasa tidak memiliki tenaga untuk melakukannya.


"Tolong!" teriak Shanum.


Tidak lama kemudian seseorang mendatangi taman. Rupanya teriakan itu didengar Rayhan.


"Astaga! Shanum? Bagaimana dia bisa jatuh ke dalam kolam itu?"


"Dia ingin menarikku yang hampir terjatuh ke kolam, tapi dia yang justru tercebur."


"Kolamnya nggak dalam kok, ayo kubantu." Tangan Rayhan terulur yang kemudian diraih Shanum. Beberapa saat kemudian ia sudah berada di tepi kolam..


"Terima kasih, Mas. Saya ke dalam dulu ganti baju." Shanum beranjak dari taman lalu masuk ke dalam rumah.


"Ya Allah, kenapa kamu basah kuyup begini?" tanya bi Sumi saat Shanum melintasi ruang dapur.


"Ehm … anu-anu Bi. Aku tercebur ke dalam kolam ikan koi di taman."


"Kok bisa jatuh?"


"Aku membantu mas Hannan yang hampir terjatuh. Sepertinya dia belum terlalu sehat. Malah kakiku yang terpeleset dan tercebur ke dalam kolam."


"Ya Allah Gusti. Untung saja kolam itu tidak terlalu dalam. Ya sudah, kamu ganti baju dulu, nanti masuk angin."


Shanum beranjak dari ruang dapur lalu berjalan menuju kamarnya.


Beberapa saat kemudian Hannan muncul dari arah belakang dengan dipapah Rayhan.

__ADS_1


"Mas Hannan istirahat dulu saja di kamar. Sepertinya Mas Hanan belum pulih benar," ucap bi Sumi.


"Aku hanya ingin menghirup udara di luar kok Bi."


"Sudah, menurut saja. Kamu memang masih perlu banyak istirahat," timpal Rayhan.


Kedua kakak beradik itu pun lantas berlalu dari hadapan bi Sumi lalu menuju ruang tengah.


"Ada apa tadi ribut-ribut di belakang?" tanya nyonya Arimbi yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.


"Itu, Nek. Shanum tadi mau membantu Hanan yang hampir terjatuh ke dalam kolam, tapi malah dia yang tercebur."


"Dia baik-baik saja 'bukan?"


"Shanum nggak apa-apa kok, Nek. Kolam ikannya 'kan tidak terlalu dalam."


"Ibu pergi tapi nggak tahu kemana. Dia memilh naik taksi," jelas Rayhan.


"Padahal ada dua anak laki-laki nya di rumah. Kenapa dia memilih pergi dengan taksi?" gumam sang nenek.


"Mungkin ibu ke salon, kalau nggak ya arisan di rumah temannya," tukas Rayhan.


"Shanum," panggil nyonya Arimbi.


Tidak berselang lama Shanum pun keluar dari dalam kamarnya. Ia tampak sudah berganti pakaian.


"Ada apa, Nyonya?"

__ADS_1


"Kami temani saya berkeliling komplek perumahan ini."


"Sekarang, Nyonya besar? Maaf, saya masih harus mencuci baju."


"Nanti saja mencuci nya."


"Baik, Nyonya."


Shanum memegang sandaran kursi roda yang diduduki nyonya Arimbi lalu mendorongnya meninggalkan ruangan itu.


"Saya permisi dulu, Mas Rayhan … Mas Hannan."


"Ya, hati-hati."


"Sepertinya nenek begitu menyukai Shanum. Jangan-jangan dia mau menjadikannya cucu menantu di rumah ini," ucap Hannan.


"Tidak usah berpikiran sejauh itu. Mana mungkin nenek ingin menjadikan Shanum cucu menantu."


"Ehm … memangnya menurut kamu Shanum itu gimana?" tanya Hannan.


"Apanya yang bagaimana? Dia biasa saja kok."


"Beneran kamu nggak tertarik padanya?"


"Kamu bicara apa sih!"


"Loh, pipi Mas Rayhan kok merah. Jangan-jangan Mas Rayhan mulai ada rasa ya sama Shanum?" goda Hannan.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2