Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 14


__ADS_3

"Ah, tidak. Kamu salah dengar."


"Aku tidak salah dengar, tadi nenek menyebut kata jodoh."


"Itu bukan apa-apa kok."


Tiba-tiba pandangan Hanan tertuju pada pada Shanum.


"Loh, ngapain kamu di kamar ini? Jangan-jangan, …"


"Jangan menuduh yang tidak-tidak, nenek yang memintanya datang ke kamar ini," ujar nyonya Arimbi.


"Nenek jangan terlalu dekat dengan orang asing. Kita tidak pernah tahu bagaimana dia di luar sana," ucap Hanan.


"Tidak baik berprasangka buruk pada orang lain. Loh, kamu nggak ke kampus?"


"Sudah pulang, Nek. Hari ini hanya satu mata kuliah."


Tiba-tiba nyonya Arimbi mengamati wajah cucu laki-lakinya itu.


"Wajah kamu terlihat pucat, apa kamu sedang sakit?" tanyanya.


"Ah, tidak apa, Nek. Mungkin aku hanya kelelahan saja. Ya sudah, aku ke kamar dulu," ucap Hanan. Ia pun lantas meninggalkan kamar tersebut.


"Ehm … apa masih ada yang ingin Nyonya bicarakan?" tanya Shanum.


"Oh, sudah cukup. Kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu."


"Baiklah, saya permisi dulu, Nyonya."


Shanum pun lantas meninggalkan kamar tersebut.


"Biar aku saja yang melanjutkan menyetrika pakaian-pakaian ini, Bi," ucap Shanum saat menghampiri bi Sumi di ruang setrika.


"Tidak apa, ini sudah hampir selesai kok. Oh ya, apa saja yang kamu obrolkan bersama nyonya besar?"


"Ternyata nyonya Arimbi mengenal almarhum kakek."


"Ya, mereka bahkan pernah begitu dekat dan menjalin hubungan. Tapi, …"


"Tapi kenapa?"


"Hubungan mereka ditentang kedua orangtua nyonya Arimbi karena pekerjaan kakek yang hanya seorang sopir pribadi di rumah ini."


"Oh, jadi kakekmu pernah bekerja di rumah ini?"


"Ya, Bi. Kakek merantau dari kampung dan melamar pekerjaan di sini sebagai sopir."


"Apa benar kat ma orang jika dunia ini sempit? Puluhan tahun lalu kakekmu pe bekerja di rumah ini, dan sekarang kamu cucunya bekerja di rumah ini juga."


"Mungkin hanya kebetulan saja, Bi."


"Tidak ada yang namanya kebetulan. Semua yang terjadi di dunia ini sudah diatur oleh Allah," ujar bi Sumi.


"Oh ya, Bi. Barusan mas Hanan pulang, dan wajahnya terlihat pucat." Shanum mengalihkan pembicaraan.


"Kasihan sekali dia. Nanti bibi akan coba bicara padanya," ucap Bi Sumi sembari melepas kabel seterika dari soket nya.


"Terima kasih, Bi. Sudah membantu pekerjaanku," ucap Shanum.


"Kamu istirahat saja."


"Tapi, Bi. Aku belum membersihkan taman belakang."


"Nanti saja. Nyonya Elina masih dua jam lagi sampai rumah. Bibi mau ke kamar mas Hanan dulu," ucap bi Sumi.


Shanum mengangguk paham.


"Mas Hanan … apa bibi boleh masuk?" tanya bi Sumi dari depan pintu kamar Hanan yang berada di lantai dua.


Tidak lama kemudian pintu terbuka.


"Ada apa, Bi? Kepalaku sedikit pusing, aku mau istirahat."


"Bibi mau bicara sebentar."


"Bibi mau bicara apa?"


"Ini punya Mas Hanan 'kan?" Bi Sumi mengambil secarik kertas lalu memberikannya pada Hanan. Alangkah terkejutnya laki-laki itu saat melihat kertas tersebut.


"B-b-bagaimana kertas ini bisa ada di tangan Bibi?" tanyanya.


"Shanum yang menemukan kertas ini saat mencuci pakaian tadi. Kenapa Mas Hanan menyembunyikan ini?"

__ADS_1


"Aju tidak mau membuat siapapun khawatir."


"Tapi, Mas. Penyakit ini bukan penyakit biasa. Bahkan bisa dibilang mematikan." Suara bi Sumi terdengar bergetar.


Hanan menghela nafas berat.


"Jika memang aku ditakdirkan mati karena penyakit ini, aku bisa apa."


"Mas Hanan jangan bicara begitu. Bukankah agama kita tidak membenarkan kita untuk putus asa? Mas Hanan pasti bisa disembuhkan."


Hanan tersenyum getir.


"Apa jika aku sakit begini ayah dan ibu akan peduli padaku?"


"Tuan dan nyonya harus tahu hal ini."


"Apa hal ini penting bagi mereka?"


"Jika Mas Hanan tidak mau bicara pada mereka, bibi saja yang bicara," ujar bi Sumi.


"Kumohon ayah dan ibu jangan sampai tahu tentang penyakitku ini."


"Tidak, Mas. Tuan dan nyonya harus tahu. Ini perkara yang serius."


"Aku mohon, Bi. Hanya Bibi yang paling mengerti aku."


Suasana hening sejenak.


"Baiklah, kalau itu yang Mas Hanan mau. Tapi, Mas Hanan janji mau berobat 'kan?"


"Ya, Bi. Aku janji."


"Sudah waktunya makan siang."


"Ya, Bi. Setelah kepalaku mendingan, aku pasti turun ke bawah."


"Beneran loh Mas."


"Iya, Bi."


"Ya sudah, bibi ke bawah dulu."


Bi Sumi pun lantas beranjak meninggalkan kamar tersebut.


Satu jam kemudian.


"Bangun! Pemalas! Kamu pikir saya membayarmu untuk bermalas-malasan 'hah!"


Tidak berselang lama pintu kamar terbuka.


"Nyonya?"


"Apa saja yang kamu kerjakan sejak pagi tadi, kenapa taman belakang masih begitu kotor?"


"Ma-ma-af, saya, …"


"Cepat bersihkan taman belakang rumah!"


sentak nyonya Elina.


"Ba-ba-ik, Nyonya."


Shanum menutup kembali pintu kamarnya lalu berjalan menuju taman yang berada di belakang rumah.


"Ibu jangan terlalu keras pada Shanum. Jika dia tidak krasan bekerja di sini, kita juga yang repot mencari asisten rumah tangga baru lagi," ucap Adnan.


"Ibu tidak suka orang yang bermalas-malasan."


"Shanum tidak sedang bermalas-malasan kok Bu. Mungkin setelah pulang dari klinik tadi keadaannya belum pulih benar, jadi dia beristirahat di dalam kamarnya."


"Baru juga kerja di sini, sudah merepotkan!" gerutu nyonya Elina.


"Mas Hanan di mana, Bi?" tanya Adnan pada bi Sumi saat keduanya berpapasan di ruang dapur.


"Sepertinya masih di kamarnya. Saya suruh makan siang tapi seperti belum turun juga."


"Apa mas Hanan sakit?"


"Ehm … mungkin belum lapar saja."


"Tidak biasanya dia begini. Aku periksa sebentar."


Awalnya bi Sumi ingin menahan Adnan untuk tidak mendatangi kamar saudara laki-lakinya itu, namun akhirnya ia membiarkannya.

__ADS_1


"Apa Mas Hanan sedang tidur siang?" tanya Adnan dari depan pintu kamarnya.


Tidak berselang lama pintu terbuka.


"Ada apa, Nan?"


"Bibi bilang Mas Hanan belum makan siang. Itulah sebabnya aku mendatangi kamarmu."


"Aku belum lapar."


"Tidak biasanya Mas Hanan begini. Apa Mas sedang kurang sehat?"


"Aku baik-baik saja. Nanti kalau aku sudah lapar pasti ke bawah."


"Tadi Mas pasti sudah bilang begitu pada bi Sumi."


"Aku mau tidur lagi." Hanan menarik handle pintu lalu menutupnya kembali.


"Aku sudah membujuk mas Hanan, tapi dia bilang belum lapar," ucap Adnan pada bi Ami saat ia berada di ruang makan.


"Biar nanti bibi antar makanannya ke kamarnya saja," ujar bi Sumi.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Adnan menghampiri Shanum yang kini tengah membersihkan taman belakang rumah.


"Tidak biasanya mas Hanan mengulur waktu makan siang," ucapnya.


"Ehm … mungkin selera makannya sedang kurang bagus," ujar Shanum.


"Oh ya, setelah kamu selesai membersihkan taman ini, aku mau minta tolong."


"Minta tolong apa?"


"Tasku sobek. Kamu bisa 'kan menjahit nya? Masa aku harus membelinya yanh baru lagi."


"Oh ya, Mas, bisa."


Tiba-tiba Adnan berteriak histeris lantaran seekor ulat daun terjatuh dari atas pohon mangga dan menempel tepat di bagian tangannya.


"Astaga! Ulat! Ulat! Tolong!"


Shanum mengulas senyum tipis.


"Ini hanya ulat daun, Mas. Sama sekali tidak berbahaya." Dengan santai nya gadis itu mengambil ulat berwarna kehijauan itu lalu membuangnya di atas rerumputan.


"Bagaimana kalau tanganku gatal-gatal?"


"Ini 'kan bukan ulat bulu."


"Aku baru sadar jika mangga di pohon ini sudah mulai matang," ucap Adnan.


"Mas Adnan suka mangga juga?"


"Suka sekali, hanya saja aku tidak berani memanjat pohonnya. Waktu kecil aku pernah jatuh dan hal itu membuatku trauma. Loh, kamu mau apa?"


Adnan keheranan saat Shanum meletakkan sapunya lalu mendekati pohon mangga itu. Ia dibuat tercengang saat mendapatinya mulai naik ke atas pohon tanpa bantuan apapun.


"Astaga. Shanum. Kamu ini apa-apaan? Bagaikan kalau kamu jatuh?!" teriaknya dari bawah sana.


"Nggak akan jatuh kok, aku 'kan pegangan. Aku lempar mangga nya dari sini, Mas Adnan tangkap ya!" seru Shanum dari atas pohon.


Adnan pun menangkap satu per satu buah mangga dari atas sana. Ia menyerukan agar Shanum berhenti memetiknya setelah jumlahnya dirasa cukup banyak.


"Sudah cukup, turun lah."


Dengan cekatan Shanum menapaki dahan demi dahan pohon yang usianya sudah cukup tua itu hingga akhirnya ia berhasil mencapai tanah.


"Mau dikupas sekarang?" tanyanya.


"Boleh."


"Tunggu sebentar."


Shanum beranjak dari taman itu lalu berjalan menuju dapur. Tidak lama ia kembali dengan membawa sebilah pisau dapur.


"Manis sekali buah nya. Selama ini buah mangga ini hanya dibiarkan jatuh dan membusuk."


"Sayang sekali."


"Mau gimana lagi, nggak ada yang sanggup memanjat pohonnya."


"Kamu kenapa?" tanya Adnan lantaran mendapati Shanum mengibas-ibaskan tangannya di wajahnya.


"Nggak apa-apa, udaranya panas sekali."

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Adnan memandang wajah Shanum dari jarak dekat. Ah, pipinya yang merona kemerahan itu nyatanya mulai membuatnya terpikat.


Bersambung …


__ADS_2