
"Ada apa dengan kalian bertiga?" Nyonya Elina mengerutkan keningnya.
"Jangan pecat Shanum, Bu. Kasihan dia sudah tidak memiliki orangtua. Orang terdekat yang seharusnya melindungi justru membuangnya," ucap Adnan.
"Sejak kapan kamu perduli pada urusan orang lain?"
"Shanum gadis yang rajin dan jujur. Belum tentu asisten rumah tangga yang baru nanti seperti dia," timpal Hannan.
"Sekarang ibu tanya, jika dia tidak ada di sini, siapa yang akan menggantikan pekerjaannya?"
Ketiga kakak beradik itu terdiam dan menundukkan wajahnya.
"Besok ibu akan mendatangi yayasan untuk mencari asisten rumah tangga baru."
"Tapi, Bu, …"
"Apa yang kalian ributkan malam-malam begini?" ucap nyonya Arimbi yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.
"Ini loh, Nek. Ibu mau mencari asisten rumah tangga baru," jelas Adnan.
"Memangnya kenapa dengan Shanum? Oh ya, di mana dia sekarang?" tanyanya.
__ADS_1
"Shanum masih di kampung, Nek," jawab Hannan.
"Masih di kampung?"
"Iya, Nek. Kaki Shanum terluka parah karena mengalami kecelakaan. Itulah sebabnya kami meninggalkannya di kampung. Lagipula jika dia di sini pun dia tidak dapat mengerjakan pekerjaan rumah."
"Nenek pikir jika kalian bertiga pergi bersamanya, gadis itu akan merasa nyaman. Tapi kenapa dia bisa mengalami kecelakaan?"
"Ini semua di luar dugaan kami, Nek. Saat kami berdua berada di makam, tiba-tiba dahan pohon patah dan nyaris saja menimpaku. Shanum mendorongku, tapi justru dia yang celaka," sela Rayhan.
Dari Rayhan, pandangan nyonya Arimbi beralih pada putri semata wayangnya, Elina.
"Kamu dengar sendiri 'kan? Gadis itu celaka demi menyelamatkan Rayhan. Jika dahan pohon itu menimpa Rayhan, pasti akan lain ceritanya. Sudah tahu begini kamu masih berniat untuk memecatnya?"
"Rayhan."
"Ya, Nek."
"Besok kamu jemput dia. Jika perlu bawa dia ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan yang lebih layak," titah sang nenek.
"Kenapa Ibu begitu peduli padanya? Dia hanya seorang pembantu," protes nyonya Elina.
__ADS_1
"Mungkin di matamu gadis itu hanya seorang asisten rumah tangga, tapi bagi ibu dia lebih dari itu."
"Memangnya apa kelebihannya?"
"Perhatikan ketiga anak laki-lakimu ini. Mereka banyak berubah semenjak kedatangannya di rumah ini. Kehadirannya memberi pengaruh yang baik bagi mereka."
"Yang saya lihat juga begitu, Nyonya. Maaf, dulu mas Rayhan, mas Hannan dan mas Adnan sering berlaku seenaknya. Tapi semenjak Shahum datang ke rumah ini perlahan mereka bertiga berubah menjadi pribadi yang lebih baik," timpal bi Sumi.
"Kalau kamu ingin mencari asisten rumah tangga baru, silahkan. Tapi ibu tidak setuju kalau kamu memecat Shanum," ucap nyonya Arimbi.
"Kalian semua menyerangku, lalu aku bisa apa. Lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan." Nyonya Elina beranjak dari ruang tamu lalu menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Di saat itulah seseorang muncul dari arah teras.
"Selamat malam, semua."
Rupanya tuan Adrian yang baru saja kembali dari luar kota.
"Kamu dari mana saja?" tanya nyonya Elina ketus.
"Kamu tanya aku dari mana? Tentu saja aku dari mengurus bisnis kita yang berada di luar kota. Aku bawakan oleh-oleh untuk kalian semua."
"Aku perlu bicara denganmu," ucap nyonya Elina. Dia lantas kembali menapaki anak tangga.
__ADS_1
"Kenapa dengan ibu? Jangan-jangan ibu sudah tahu hubungan gelap ayah dengan perempuan itu," bisik Adnan pada Rayhan.
Bersambung …