Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 56


__ADS_3

"Siapa pelakunya, Nyonya?" tanya bi Sumi.


"Siapa lagi kalau bukan pria tidak tahu diri itu. Pasti mereka bertengkar hingga akhirnya nyawa perempuan itu melayang."


"Masuk akal juga," ujar bi Sumi.


"Pria itu pasti sudah mengambil barang dan surat-surat berharga di dalam rumah itu lalu kabur."


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"


"Biarkan saja, itu bukan lagi urusan kita."


"Oh ya, Nyonya. Shanum sudah pulang dari rumah sakit."


"Jangan biarkan dia bekerja kecuali kakinya sudah benar-benar sembuh."


"Baik, Nyonya. Saya permisi dulu," ucap bi Sumi. Dia pun lantas meninggalkan kamar sang nyonya.


"Kenapa dengan Elina?" tanya nyonya Arimbi saat bi Sumi kembali ke ruang tengah.


"Ehm …. anu … Nyonya. Barusan di televisi ada berita pembunuhan."


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Siapa yang dibunuh, Bi?" tanya Shanum.


"Nyonya Elina bilang pembunuhan itu terjadi di rumah yang kemarin dia datangi."


"Maksud Bibi korban pembunuhan itu perempuan selingkuhannya tuan Adrian?"


"Benar, dan nyonya Elina curiga jika tuan Adrian pelakunya."

__ADS_1


"Kalau memang benar Adrian pelakunya, saya berharap dia dihukum seberat-beratnya. Dasar pria tidak tahu diuntung!" umpat nyonya Arimbi.


"Kalian ngobrolin apa sih, kayanya seru banget," ucap Rayhan yang baru saja muncul dari bagian belakang rumah.


"Ini loh, Mas. Ada kasus pembunuhan," ucap bi Sumi.


"Pembunuhan? Di mana, dan siapa yang terbunuh?" tanya Rayhan.


"Ehm … kata nyonya Elina, lokasi pembunuhan itu terjadi di rumah tempat dia melabrak tuan Adrian dan perempuan selingkuhannya."


"Siapa yang meninggal, Bi?"


"Perempuan itu, Mas, dan nyonya yakin sekali jika tuan Adrian pelakunya."


"Kamu mau kemana, Ray?" tanya sang nenek saat Rayhan beranjak meninggalkan ruangan itu.


"Aku mau ke Tempat Kejadian Perkara. Mungkin aku bisa membantu polisi mengumpulkan bukti-bukti peristiwa pembunuhan itu."


"Ya, Nek."


Setelah mencari berita di internet, Rayhan pun lantas mendatangi rumah itu.


"Selamat siang, Pak," sapanya pada polisi yang tengah melakukan olah TKP.


"Selamat siang. Maaf, apa anda mengenal korban?" tanya polisi.


"Tidak, Pak. Saya sama sekali tidak mengenalnya. Tapi, korban pembunuhan yang ditemukan tewas di dalam rumah ini adalah perempuan selingkuhan ayah saya," papar Rayhan.


"Begitu rupanya."

__ADS_1


"Saya mendatangi tempat ini dengan maksud membantu pihak kepolisian mengumpulkan bukti-bukti pembunuhan karena ibu saya yakin jika pria bernama Adrian itu lah pelakunya."


"Oh, kami akan sangat berterima kasih jika memang anda bisa membantu kami menemukan titik terang kasus ini," ujar polisi.


"Apa saya boleh masuk ke dalam?" tanya Rayhan.


"Silahkan."


Rayhan memasuki rumah itu dan mulai memeriksa setiap ruangan di dalamnya tak terkecuali kamar tidur.


"Biasanya surat ataupun barang berharga disimpan di dalam lemari," gumamnya.


Ia pun lantas mendekati satu-satunya lemari pakaian di kamar itu. Namun, ia kesal karena lemari tersebut terkunci.


"Pasti pria itu mengunci lemari setelah mengambil barang berharga di dalamnya. Tapi, untuk apa dia membawa kunci itu?" gumam Rayhan. Dia lantas duduk di tepi ranjang.


Tidak ada kejahatan yang sempurna. Mungkin kalimat itulah yang pantas disematkan pada si pelaku pembunuhan Alicya.


Tiba-tiba Rayhan merasa kakinya seperti menginjak sesuatu.Tidak salah lagi, benda yang sengaja dilempar ke lantai itu adalah sebuah anak kunci berbandul huruf A. Entah itu inisial nama Adrian atau Alicya, ia sama sekali tak peduli.


Awalnya Rayhan berniat meraih anak kunci itu namun ia memilih melaporkannya pada polisi.


"Pak, saya menemukan anak kunci di lantai," ucapnya.


"Baiklah."


Polisi pun lantas memasuki kamar itu. Setelah mengenakan sarung tangan, ia pun memasukkan anak kunci tersebut ke dalam plastik.


"Dari sidik jari orang terakhir yang memegang anak kunci ini, kita bisa tahu siapa yang sudah membunuh bu Alicya," ujar polisi.

__ADS_1


"Aku yakin sekali jika pelakunya adalah pak Adrian," batin Rayhan.


Bersambung …


__ADS_2