Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 55


__ADS_3

Di rumah sakit.


Kondisi kaki Shanum berangsur membaik, pagi ini dokter memperbolehkannya meninggalkan rumah sakit.


"Anda boleh bergerak asal jangan berlebihan," ucap dokter.


"Baik, Dokter."


"Setelah menyelesaikan administrasi, pasien diperbolehkan pulang."


"Selagi kamu memberesi barang-barangmu, aku ke bagian administrasi dulu," ucap Rayhan.


Shanum mengangguk paham.


Beberapa saat kemudian Rayhan kembali ke kamar perawatan.


"Kita pulang sekarang. Kamu bisa jalan sendiri kan?"


"Insyaallah."


Shanum beranjak dari ranjang pasien lalu mencoba menapakkan kakinya di lantai.


"Bismillah … Aww!" Tiba-tiba gadis itu mengaduh kesakitan.


"Masih sakit ya?"


"Mungkin karena kakiku terlalu lama tidak digerakkan, jadinya kaku. Aku coba lagi. Bismillahirrahmanirrahim."


Kedua kaki Shanum sudah bisa menopang tubuhnya meskipun ia masih berpegangan pada tepi ranjang.


"Alhamdulillaah," ujarnya.


"Bisa 'kan jalan pelan-pelan ke mobil?" tanya Rayhan.


"Insyaallah bisa."


Shanum berjalan perlahan meninggalkan kamar perawatan yang telah ditempati hampir seminggu. Hingga sampailah keduanya di tempat parkir.


Mobil yang biasa dikendarai Rayhan adalah mobil Jeep. Dengan kondisi kaki yang belum terlalu pulih tentu saja Shanum kesulitan menaikinya.

__ADS_1


"Bisa nggak?"


"Tinggi banget, Mas. Aku nggak bisa naik."


Shanum kebingungan saat Rayhan tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya di pinggangnya.


"Mas Rayhan mau apa?"


"Katanya nggak bisa naik, ya aku bantu."


Rayhan mengangkat tubuh Shanum lalu mendudukkannya di dekat bangku kemudi.


Lima belas menit kemudian keduanya pun tiba di rumah.


"Assalamu'alaikum, Bi," sapa Shanum pada bi Sumi yang tengah menyiram tanaman di teras.


"Wa'alaikumsalam. Ya Allah, Shanum?! Ini benar kamu 'kan? Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang juga."


"Alhamdulillah. Ini berkat do'a Bibi juga," ujar Shanum.


"Ayo, Nak. Bibi antar ke kamarmu."


"Tidak masalah kok. Lagipula penghuni rumah ini berkurang satu orang."


"Apa maksud Bibi?" Shanum mengerutkan keningnya.


"Tuan Adrian tidak lagi tinggal di rumah ini."


"Memangnya tuan Adrian kemana?"


"Kemarin nyonya Elina membongkar perselingkuhan tuan Adrian. Hari itu juga tuan Adrian diusir dari rumah ini."


"Jadi, kecurigaan ketiga anaknya selama ini benar jika tuan Adrian memiliki wanita idaman lain di belakang nyonya Elina?"


"Ya, dan nyonya sendiri yang membongkarnya."


"Kasihan nyonya Elina," ujar Shanum.


"Bibi salut dengan ketegasan nyonya. Dia berani mengambil keputusan besar itu. Jika bibi ada di posisinya, bibi mungkin akan melakukan hal yang sama. Pekhianatan adalah harga yang harus dibayar mahal," ucap bi Sumi.

__ADS_1


"Loh, kamu mau kemana?" tanyanya saat mendapati Shanum berjalan menuju dapur.


"Aku mau bantu-bantu Bibi."


"Kamu istirahat saja, agar kakimu lekas pulih."


"Tapi, Bi, …"


"Sumi benar, kakimu masih dalam proses pemulihan. Sebaiknya kamu jangan banyak bergerak dulu," timpal nyonya Arimbi yang baru saja keluar dari dalam kamarnya. Shanum pun bergegas menghampirinya.


"Terima kasih banyak, Nyonya," ucapnya. Tiba-tiba Shanum menjatuhkan lututnya di lantai lalu merengkuh kedua kaki sang nyonya besar.


"Apa ini? Ayo cepat bangun! Saya tidak suka kamu begini."


"Saya mengucapkan terima kasih karena Nyonya sudah membiayai pengobatan kaki saya hingga saya bisa berjalan lagi."


"Bangun lah. Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan," ujar nyonya Arimbi.


Beberapa saat kemudian terdengar suara teriakan nyonya Elina dari dalam kamarnya yang berada di lantai dua.


"Semuanya kemari!" serunya.


"Nyonya Elina kenapa?"


"Entahlah. Sumi, coba kamu lihat ke atas," titah nyonya Arimbi.


Bu Sumi pun bergegas menaiki anak tangga menuju kamar sang majikan.


"Ada apa, Nyonya? Apa Nyonya perlu bantuan?" tanyanya ketika memasuki kamar.


"Lihat berita itu." Nyonya. Elina mengacungkan jari telunjuknya ke arah layar televisi.


"Pemirsa, pagi ini warga digemparkan dengan penemuan mayat seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun di dalam sebuah rumah. Diduga perempuan tersebut tewas setelah ditusuk seseorang."


"Itu rumah selingkuhan Adrian yang kemarin saya datangi!" pekik nyonya Elina.


"Ya Allah, siapa yang tega menghabisi nyawanya?"


"Sepertinya saya tahu siapa pelakunya," ucap nyonya Elina.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2