
"Terima kasih atas hidangannya, Bu. Maaf, kami jadi merepotkan," ucap Rayhan.
"Ah, saya tidak merasa repot kok. Saya justru senang jika ada yang bertamu."
"Oh ya, Bu. Untuk sementara waktu kami titip Shanum di rumah ini sampai kakinya benar-benar sembuh," ucap Rayhan.
"Kalian jangan khawatir, Shanum aman di sini."
"Begitu kakinya sembuh, saya akan langsung menjemputnya."
"Ya, Nak. Saya juga paham Shanum tidak mungkin tinggal di rumah Faisal."
"Hannan … Adnan … kita pulang sekarang."
"Benar-benar harus sekarang? Kenapa tidak besok pagi saja," protes Adnan.
"Terserah! Tidak masalah kembali ke kota tanpamu. Bu … Shanum, Nining, kami pamit dulu. Sekali lagi terima kasih," ucap Rayhan.
"Kalian hati-hati, jangan mengebut di jalanan," ucap Shanum. Hannan mengangguk paham.
"Kamu mau pulang nggak? Kalau nggak kami tinggal," ucap Hannan.
"Iya … iya. Aku ikut kalian pulang."
"Kami pamit dulu, Assalamu'alaikum."
Ketiga bersaudara itu pun lantas meninggalkan rumah Nining untuk selanjutnya kembali ke rumah mereka di kota.
"Meskipun mereka kakak beradik, tapi watak mereka sangat jauh berbeda," ucap ibu Fatimah sesaat setelah mereka berlalu.
__ADS_1
Shanum mengulas senyum tipis.
"Saat pertama kali aku datang ke rumah itu, aku begitu takut pada mereka."
"Takut? Memangnya kenapa?"
"Mereka suka bicara kasar dan berbuat seenaknya. Tapi semakin kesini mereka bisa menjadi orang yang lebih sopan dan menghargai orang lain."
"Itu artinya kehadiranmu di rumah itu memberi pengaruh yang baik bagi mereka. Oh ya, memangnya dari mereka bertiga tidak ada satu pun yang kamu sukai?"
"Kamu ini bicara apa, Ning?"
"Dari caranya menatapmu aku tahu mas Rayhan menyukaimu. Namun dia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya."
"Ah, mana mungkin mas Rayhan menyukaiku? Kawan-kawannya di kota cantik-cantik."
"Tidak ada yang tidak mustahil. Tapi kalau kuperhatikan wajahmu dan mas Rayhan mirip."
"Memangnya kamu bisa jalan?"
"Aku bisa melakukan tayamum dengan tembok di dalam ruangan ini 'bukan?"
"Oh iya, aku lupa."
Sementara itu di dalam mobil Rayhan.
Adnan terlihat kurang bersemangat. Penyebabnya tentu saja karena Shanum tidak bisa ikut mereka kembali ke kota.
"Kenapa harus ada kejadian begini sih?! Jadinya kita harus meninggalkan Shanum sendirian di kampung."
__ADS_1
"Siapa bilang kalau dia sendirian? Ada Nining dan bu Fatimah yang merawatnya."
"Aku yakin rumah kita pasti sepi tanpanya," ujar Adnan.
Sekitar pukul tujuh malam kakak beradik itu pun tiba di rumah.
"Loh, kok kalian hanya pulang bertiga saja. Mana Shanum?" tanya bi Sumi sesaat setelah mereka memasuki ruang tamu.
"Ehm … kami terpaksa meninggalkannya di kampung, Bi."
"Kenapa ditinggal?"
"Shanum mengalami kecelakaan."
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Kecelakaan?"
"Benar, Bi. Kakinya tertimpa dahan pohon yang patah saat kami berada di makam," jelas Rayhan.
"Lantas, bagaimana keadaannya sekarang? Apa lukanya parah?" tanya bi Sumi.
"Luka di kakinya cukup parah. Kata bidan desa dia harus beristirahat total untuk sementara waktu. Itulah sebabnya kami meninggalkannya di kampung."
"Jika Shanum tidak ada di rumah ini, siapa yang akan menggantikannya bekerja?" tanya bi Sumi lagi.
"Ibu sudah mengatakan jika malam ini gadis itu harus sudah kembali di rumah kita. Kenapa dia tidak kembali juga?" ucap nyonya Elina yang tiba-tiba saja muncul di ruangan itu.
"Tapi, Bu. Shanum sedang sakit. Kalaupun dia kembali, dia tidak akan bisa mengerjakan pekerjaan rumah," timpal Adnan.
"Ibu anggap dia berhenti dari pekerjaannya. Di luar sana masih banyak kok orang yang mau bekerja di rumah ini. Besok ibu akan mencari asisten rumah tangga baru yang menggantikannya."
__ADS_1
"Jangan, Bu," ucap ketiga kakak beradik itu bersamaan.
Bersambung …