
"Selamat pagi, Tuan Adrian," sapa salah satu pria berseragam itu.
Adrian menelan salivanya.
"Se-se-selamat pagi, Pak. Maaf, kenapa ada polisi di tempat ini?"
"Kami mendatangi tempat ini atas laporan seseorang jika tuan Adrian pelaku pembunuhan disertai pencurian tengah berada di tempat ini."
"Apa maksud Bapak? Di kota ini pria bernama Adrian bukan hanya saya saja 'bukan?"
"Anda benar, akan tetapi bukti dari foto rekaman kamera pengawas tidak akan membohongi siapa pun." Polisi itu memperlihatkan selembar foto hasil rekaman CCTV di lingkungan perumahan tempat tinggal Alycia yang telah dicetak dalam bentuk ukuran poster.
"Astaga!"
"Tuan Adrian! Berdasarkan beberapa bukti dan kesaksian, anda kami tangkap dengan tuduhan penganiayaan berakibat hilangnya nyawa orang lain serta tindak pencurian dan penggelapan surat berharga. Sekarang juga anda ikut kami ke kantor."
"Tidak! Saya tidak bersalah! Saya tidak membunuh Alicya. Dia lah yang justru menyerang saya lebih dulu. Saya hanya membela diri saja."
"Silahkan anda jelaskan semuanya di kantor." Polisi itu mengeluarkan borgol dan berniat memasangkannya di tangan Adrian. Tanpa diduga, pria itu melakukan perlawanan. Dia mendorong tubuh si polisi lalu berlari meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
"Tangkap dia! Jangan biarkan lolos!" seru polisi.
Adrian tak tahu jika polisi tak hanya datang seorang diri melainkan bersama beberapa anggota lainnya.
Dengan sigap tiga orang polisi mengejar Adrian yang kini telah turun di tengah jalan.
"Berhenti! Atau kami akan menembak anda!" ancam salah satu polisi.
Alih-alih menurut, Adrian justru semakin mempercepat langkahnya hingga akhirnya dia memasuki terminal bus yang berada tidak jauh dari bank.
"Dor!" Suara letusan senjata api cukup membuat semua orang yang berada di tempat itu panik sekaligus ketakutan. Sementara itu Adrian terlihat memasuki sebuah bus antar kota yang tengah bersiap berangkat.
Tiba-tiba saja Adrian menarik seorang bocah perempuan berusia lima tahun lalu menyandera nya.
"Pak Sopir! Jalan atau anak ini akan menjadi korban!" Adrian mengambil sebuah pisau lipat dari dalam saku celananya lalu menodongkannya arah si bocah.
"Ibu … aku takut. Hu … hu … hu …"
Tangis gadis kecil itu mulai pecah.
__ADS_1
Adrian mulai bernapas lega saat bus yang penuh dengan penumpang itu mulai melaju meninggalkan terminal. Di saat itulah hal tak terduga terjadi. Salah seorang penumpang bus yang ternyata juga salah satu anggota kepolisian tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya lalu mengeluarkan senjata api miliknya.
"Jangan bergerak!" teriaknya.
Adrian yang kini dilanda ketakutan itu pun sontak mengangkat kedua tangannya hingga akhirnya pisau yang berada di genggaman tangannya terjatuh. Dengan sigap polisi bertubuh kekar itu pun membekuk Adrian lalu memasang borgol di kedua tangannya.
"Pak Sopir, berhenti!" titahnya.
Detik kemudian bus pun menepi. Tidak berselang lama dua orang polisi memasuki bus tersebut lalu menghampiri Adrian.
"Ayo ikut kami ke kantor!" seru salah satu polisi.
"Tidak! Saya tidak bersalah! Saya bukan pembunuh! Saya tidak membunuh Alicya!"
"Silahkan anda jelaskan semuanya di kantor!"
"Saya bukan pembunuh! Jangan tangkap saya!" Adrian terus membantah sembari berusaha melepaskan rantai besi yang mengikat kedua tangannya. Namun sekuat apapun usahanya, dia selalu gagal. Setelah ini dia akan menghuni tempat tinggal baru yakni di jeruji besi.
Bersambung …
__ADS_1