Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 29


__ADS_3

"Kamu masak untuk siapa?" tanya bi Sumi pada Shanum yang tengah memasukkan sayuran ke dalam air yang mendidih.


"Buat mas Hanan, Bi."


"Lalu kenapa sayur sop itu berada di dalam wastafel?"


"Ehm … itu tadi mbak Naomi yang masak tapi nyonya Elina menyuruhku untuk membuangnya."


"Pasti rasa masakannya hancur."


"Dari mana Bibi tahu?"


"Kalau masakannya enak, tidak mungkin nyonya Elina menyuruhmu untuk membuangnya."


"Iya, Bi. Katanya sayur sup ini keasinan."


"Sudah Bibi duga, gadis model begitu pasti tidak bisa masak."


"Mungkin mbak Naomi salah menakar bumbu."


"Kalau dia sudah terbiasa memasak, pasti sudah hafal takaran bumbunya."


Bi Sumi mengeluarkan barang belanjaannya dari tas lalu memasukkannya ke dalam kulkas.


"Mas Hanan minta nya sayur sup 'kan?" tanyanya.


"Iya, Bi."

__ADS_1


"Ya sudah, nanti sore saja bibi buat bubur ayam nya."


"Bi Sumi tau nggak, masa mbak Naomi mengira nyonya Arimbi adalah pembantu." Shanum mengalihkan pembicaraan.


"Apa? Yang benar saja."


"Dia bahkan menyuruh beliau untuk mengiris sayuran."


"Ya Allah Gusti. Bisa-bisa mbak Naomi langsung dicoret dari daftar calon menantu." Bi Sumi terkekeh.


"Sayur nya sudah matang. Aku antar ke kamar mas Hanan dulu." Shanum mengambil mangkuk berukuran sedang lalu menuangkan sayur sop tersebut ke dalamnya.


"Silahkan sayur sop nya, Mas," ucap Shanum sembari meletakkan nampan berisi mangkuk dan sendok di atas meja.


"Hmmm … dari aromanya saja ibu sudah tahu kalau rasa masakan ini lezat," ujar nyonya Elina yang belum beranjak dari kamar Hanan.


"Memangnya seenak apa sih masakan gadis kampung itu?!"


Naomi yang penasaran itu pun meraih sendok yang berada di atas nampan lalu mencicipi makanan berkuah tersebut.


"Biasa saja kok masakannya."


"Saya yakin masakannya jauh lebih baik daripada masakanmu."


Giliran nyonya Elina yang mencicipi sayur sop masakan Shanum itu.


"Ini baru yang namanya masakan, benar-benar pas di lidah saya," ujarnya.

__ADS_1


Nyonya Elina mengangkat mangkuk keramik itu lalu mulai menyantap masakan tersebut. Ia baru berhenti setelah mangkuk tersebut nyaris kosong.


"Astaga, Ibu. Kenapa dihabiskan?" protes Hanan.


"Ini masih kok sayurannya." Nyonya Elina menyodorkan mangkuk itu pada Hanan. Tentu saja putra ke dua nya itu langsung memberengutkan wajahnya.


"Nanti ibu suruh si Shanum masak yang banyak," ucap nyonya Elina sebelum akhirnya meninggalkan kamar itu.


"Sepertinya kamu perlu belajar memasak dari Shanum. Masakannya benar-benar pas di lidah saya," ucap Hanan sembari menyantap sisa sayur sop itu.


"Shanum … Shanum … Shanum terus! Kamu nikahi saja dia!"


Naomi mengambil tas selempang miliknya lalu beranjak meninggalkan kamar Hanan.


Suara pintu yang dibanting sempat membuat Hanan berjingkat.


"Mbak Naomi mau kemana?" tanya Shanum saat gadis berambut panjang itu tengah menuruni tangga dengan langkah terburu-buru.


"Dengar ya! Posisimu di rumah ini hanya sebagai babu. Jadi jangan berharap lebih apalagi bermimpi menjadi menantu di rumah ini!" sungut Naomi.


"Saya sadar siapa saya. Demi Allah, niat saya hanya bekerja. Saya bahkan tidak berani bermimpi untuk menjadi bagian dari keluarga ini," ujar Shanum.


"Naomi! Kamu sama sekali tidak pantas bicara begitu!" sentak seseorang yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.


Bersambung…


Hai, Reader tersayang, dukung terus karyaku ya. Jangan lupa beri like, komentar positif, fav, dan hadiah.

__ADS_1


Happy reading.🥰🥰🥰


__ADS_2