Cinta Tak Semanis Coklat

Cinta Tak Semanis Coklat
JADI WANITA ITU DIA


__ADS_3

Daffin pun kembali mencoba ingat, wanita di depannya ini, apakah dia yang jatuh saat dirinya mengurus Deva, operasi.


Di saat bersamaan, Daffin pergi begitu saja, ia kembali ke ruangan Deva! karena ada yang ketinggalan, dan itu adalah hal pertama Daffin menatap wanita yang ia anggap gila tadi, tiba saja di saat belok arah ia bertabrakan.


Bragk ...


"Eh .. kau?"


"Livi tolong gadis ini, panggil suster cepat kau tangani!"


Daffin yang berjalan dengan cepat dan membalas pesan klien, ia terhenti menatap gadis yang berjalan dan terjatuh di lorong kamar rumah sakit. Tak sadar tepat di hadapan nya, spontan Daffin reflek menolongnya.


"Kau menolong gadis sakit Bos?"


"Cepat jangan banyak bicara, urus gadis ini!"


Daffin membenarkan posisi gadis itu, ke dekapan Livi untuk segera ditangani. Dan ia berlalu melangkah pergi.


Sementara Livi tersenyum. Baru kali ini Daffin punya peduli pada wanita asing, ia bahkan menolongnya? padahal sejak tadi bosnya itu bergerutu tentang wanita ini tadi, pasti sebentar lagi turun hujan dan petir.


"Wah, daebak! pasti sebentar lagi turun hujan." ucap Livi, yang membopong wanita itu dan pergi meneriaki suster, hingga suster pun tiba dan menanganinya.


"Sus, tolong tangani dan beritahu keluarganya! tadi saya lihat dia ini ada di ruang sana, masih satu keluarga sepertinya dengan pasien disana!" ujar Livi.


"Baik, mbak."


Sementara Daffin yang kesal, ia berdiri di samping rumah sakit. Mengingat hal kejam, dimana tragedi ia meminta seseorang diculik karena menyebabkan kakaknya Deva, sakit parah.


Sebuah acara pertunangan Deva dan Caty yang gagal, karena ia telah mengetahui hal yang sebenarnya terjadi pada sang kakak.


Jika Caty hanya menyayangi harta saja, ia tak memperdulikan Deva, yang sering sakit tiba tiba. Dan ketika pembicaraan nya diketahui oleh Deva, ia pun memutuskan Caty dan pergi berlalu. Caty tak menyesal, ia malah menghadang Deva hingga menyebabkan kecelakaan.

__ADS_1


Hingga pada akhir nya Daffin mengerahkan orang untuk mencari wanita itu, dan membuntutinya.


"Keluarkan semua foto dan berkas itu semua Livi!"


Daffin meminta orang untuk memberi pelajaran pada dalang dibalik semua yang terjadi pada Deva, terutama wanita bernama Caty.


Caty sendiri adalah teman baik Daffin, namun tidak sangka kedekatannya dengan Deva ia selingkuh di belakang Deva, pada akhirnya Daffin memutuskan pertemanan mereka.


Daffin memandang foto wanita yang pernah singgah saat dahulu, kini ia memandang foto dengan geram, jika Caty teman yang ia sayangi, harus menjadi musuh dan mempertanggung jawabkan nya.


Daffin pun bergegas pergi, meninggalkan wanita tadi yang jatuh ke dalam dekapannya. Ia fokus pada bisnis keluarga, dan penyembuhan Deva.


Kesimpulan Daffin adalah, mobil yang disiapkan Caty, untuk mencelakai Deva, jatuh pada mobil Aileen dan ibunya, yang menyebabkan calon suami Aileen tewas. Ah! rasanya penuh penyesalan, kasihan karena wanita di depannya ini malang, apalagi saat dia disekap karena dianggap Caty. Sehingga Daffin mau membantunya.


"Hingga Beberapa Tahun Kemudian, saya tidak pernah keluar dari rumah. Apa anda percaya pak?' menoleh Aileen.


"Serius, sa- saya percaya itu."


"Hari ini aku akan kembali mengenakan seragam, semua sudah berlalu aku harus menyibukkan diri dan membantu bibi, apalagi Alexi sering sakit sakitan!" lirihnya.


"Nak, ponakan bibi mau kemana? tunggulah segala hal pasti akan tercapai. Jika senyum mulai nampak, bibi merasa senang berbunga melihat mu yang sekarang." ucap bibi.


"Baiklah bi, doakan ya Aileen akan melamar pekerjaan dan semoga test mudah bisa melewatinya, mengalahkan semua saingan Aileen."


"Tentu, sayang bibi pasti paling unggul."


Hingga pada akhirnya Aileen mengikuti tes, dan berbagai tes ia yang sulit. Akhirnya ia bisa melewatkannya dan bekerja pada perusahaan, sampai lolos.


Ketika ia memasuki lift arah keluar. Hatinya bergetar tak menentu. Akankah ia bertemu seseorang? Aileen menatap wajah pria yang tak asing, entah kenapa perasaannya mirip saat dirinya berdebat di samping Kay! yang kini sudah ada di surga.


Bruugh.

__ADS_1


"Apa kita pernah bertemu nona,?" sapa Deva, saat menabrak Aileen.


Aileen pun memulai menunduk kan kepala nya.


"Seperti nya saya salah, maaf." balas Aileen mengambil pena dan map yang jatuh.


Aileen yang berada di samping Deva. Tak jauh ada Daffin yang berdiri di lain pintu terbuka, dengan pandangan yang tak menatap wanita. Hanya bisa menggelengkan kepala. Ia merasa jika wanita dihadapan Kak Deva, juga sedikit tak asing jika dari samping, entah pernah melihat atau memang kebetulan. Tapi soal wanita Daffin selalu angkuh dan datar tak tersenyum.


Aileen pamit, yang berlalu menuju koridor, di sambut dengan seorang divisi lain. Ia mengisi form data diri di berikan nametag. Aileen yang mengerjakan dengan teliti dan hati- hati, menatap cermin dan melamun. Hatinya merasa sedih teringat tunangannya yang telah tiada. Entah kenapa, tabrakan tadi membuat Aileen mengingat Kay!


Aileen menatap dompet dan helaian foto ia dan tunangannya membelai foto itu, namun segera menghapusnya. Ia harus berlalu dari keterpurukan ini, sehingga tes berhasil ia pun segera cepat ingin sampai rumah. Ketika interview awal berjalan semestinya.


Saat menunggu taksi Aileen tersadar akan ponsel nya, ia pun mengingat dan tersadar jika posisi terakhir ia berada di toilet, tempat cuci tangan dimana wadah tissue. Aileen pun kembali berlari dan menuju lantai atas, dan menanyakan pada receptionist serta OB yang bertugas. Baginya itu amat penting. Hingga berlalu ia pun tak berhasil menemukannya.


"Aaakh, sial lihatlah Aileen semua berantakan, bagaimana bisa aku menghilangkan semua kenangan. Lalu bagaimana aku bisa tanpa ponsel. Apa ini tanda agar tidak terus bersedih selalu?" gumamnya meracau.


Aileen pun meminta bantuan pada receptionist akan hilangnya ponsel, lalu memohon agar menghubungi nya di nomor lain, ya nomor bibi jika saja aku terpilih diterima bekerja aku bisa tahu dan tak tertinggal info.


Ketika Aileen, berjalan arah keluar. Ia melangkah dengan lesu tak bersemangat, namun terkejut ia menatap seseorang.


"Selamat siang tuan, Deva." ucap beberapa pegawai menunduk, namun Aileen diujung melewatinya, sedikit berpapasan dengan pria dengan mata yang mirip sekali seperti Kay! ia menoleh arah belakang berlawanan. Seorang itu pun di ikuti beberapa bodyguard dan asisten.


Aileen dari jarak lima meter, merasakan adanya getaran kebahagiaan yang pernah hilang, saat melihat pria yang tertabrak tadi dengannya.


'Aku kenapa? kenapa suasana hatiku berbeda dari sebelumnya.' batin nya.


Aileen pun kembali mencari taksi, ia pulang setelah lolos tahap seleksi pertama dan kedua. Sehingga Aileen hanya tinggal menunggu saja panggilan tersebut, tapi karena ponselnya hilang. Ia segera kembali kebagian divisi, meminta datanya untuk nomor hapenya diganti nomor milik sang bibi, berharap Aileen juga benar benar diterima bekerja. Ia juga menjelaskan, jika ponselnya hilang di toilet perusahaannya, dan meminta bantuan pihak kantor itu ikut serta menindak lanjuti.


Selesai juga! hal itu membuat Aileen pulang dengan raut sedih, entah ada rasa apa yang membuat ia begitu aneh.


'Pantas, dia tidak asing dengan Deva, apa karena jantungnya milik Kay! aku harus cari tahu, data calon pendonor Deva.' batin Daffin masih mendengar Aileen bercerita.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2