
Satu hari perjalanan, Aileen sampai ia pun mengajak Daffin ke taman wahana sebelum ia sampai rumah.
Dari makan es krim, bermain mobil car, bermain timezone. Mencapit boneka dan memakan snack hotpot, chicken hot yang ditusuk, dan permen kapas bagai anak sekolah.
"Bagaimana Daffin, apa seru seperti ini?" tanya Aileen, yang memandang pria dihadapannya itu.
Daffin pun menjawab jika ia bahagia dan teringat masa kecil, bersama gadis impian nya dahulu.
"Apa, gadis impian jadi kamu sejak dini sudah mengagumi gadis kecil, kenapa tak mencarinya?" Aileen memasang wajah tak senang dan ketus.
"Lho kenapa? cemburu ya, ko pipinya merah Ail?"
Aileen pun menepis dan ia ingin memakan sayap pedas. Tapi Daffin menahannya. Karena ia paham, akan tingkah Aileen yang panas dan marah.
"Kamu kalau marah makan banyak yang pedas - pedas ya, jika tiba tiba sakit bagaimana?"
"Enggak."
Aileen hanya tersenyum dan mengelak.
"Aileen, karena kamu sudah jatuh hati padaku, aku berterimakasih padamu. Kamu mau menerimaku. Meski aku tidak tahu seberapa besar rasa perasaan mu terhadapku. Aileen, Aku cuma mau bilang, sejak dahulu hingga kini aku sayang padamu. Aku benar tulus dan mencintaimu."
Gleuuk.
Aileen pun mencerna perkataan Daffin, dan berkata.
"Kamu bilang dahulu, maksudmu Daffin?"
Hingga Daffin memberikan sebuah satu photo pada Aileen. Ia pun mengambilnya dan melihat dengan seru.
Aileen menatap sebuah photo lama itu, lalu sadar Aileen.
"Jadi kamu Kaka Ve, kamu yang menolongku saat bersepeda jatuh, dan saat aku bertengkar dengan teman kanak - kanak kah. Aku saat itu berumur sekitar enam tahun."
Lalu Daffin memeluk Aileen, ia saat itu kamu juga sudah berkawan dengan Kay. Aku menitipkan mu pada adik kelas ku Kay. Dan ia benar - benar menjagamu. Dan aku tak menyangka jika kita dipertemukan kembali, awalnya aku tak menyadari tapi ketika aku mencari tahu tentangmu. Ternyata kamu gadis yang aku cari, mengenalmu membuatku tersenyum dan berubah.
Aileen pun membalas pelukkan erat Daffin, karena saat kecil mereka memang sering bertemu, namun pindah ke paris hingga dewasa hilang koneksi.
"Maaf Daffin, aku tak menyadarinya kini aku paham, terimakasih." ucap Aileen, yang mengeluarkan air mata bahagia.
Waktu pun sudah menjelang malam, mereka pun kembali pulang, karena sudah menghabiskan waktu lelah penatnya bertamasya.
"Ail, maukah kamu menikah denganku.
jika kamu berniat, pakai kembali cincin tunangan kita ini, maaf jika aku memaksamu di keadaan yang tidak tepat?"
"Baiklah pakaikan saja, dijari manisku kembali."
Aileen tersenyum dan mereka saling merangkul wajah dengan bahagia.
__ADS_1
Tibalah Daffin dan Aileen berada dirumah paris, mereka disambut oleh Ayah, Mama dan Alexi dengan menatap penuh bahagia.
"Ail, kamu dah kembali bertemu juga kalian?"
Ayah menjelaskan segala hal tentang Daffin, yang berfikir jika tak akan bertemu karena berselisih.
"Ia yah, awalnya jika Alexi tak menjelaskan dengan tepat, mungkin tak akan bertemu." senyum tertarik dibibir Aileen dan Daffin.
Daffin pun berterimakasih pada Alexi, tak lupa, oleh oleh untuk satu keluarga Aileen kala itu.
Setelah siang hari, terlihat mereka makan bersama dan bercerita. Ayah menjelaskan selama Daffin tinggal, ia datang setelah kamu pergi beberapa jam lalu. Ayah kira Alexi ga akan membocorkannya.
"Alexi, hanya tak sanggup, kasian melihat calon kakak ipar yah, jadi aku hubungi kak Aileen deh." sehingga Aileen pun tersenyum pada adiknya itu, dan mecubit gemas pipinya.
"Lalu bagaimana rencana kalian akan segera menikah?" tanya Ayah.
Daffin pun membalas jika ia terserah pada Aileen, tapi raut Aileen tidak menampakan seluruhnya bahagia.
"Kenapa Ail, kamu tidak senang aku meminta kita segera menikah?" tutur Daffin, sehingga membuat terdiam.
"Bukan begitu Daffin, Ayah, Mama. Aileen hanya membutuhkan waktu sampai hati Aileen benar - benar siap. Dan tidak ragu pada Daffin. Juga Aileen ingin bertemu dengan Deva, di singapore apa boleh?"
Daffin yang bingung pun, akhirnya tersenyum mengizinkan.
"Untuk apa nak kamu bertemu Deva?" tanya Ayah.
Aileen menjelaskan ingin menjenguk dan bicara empat mata untuk merestui pernikahan Aileen dengan Daffin, lancar tanpa hambatan.
Daffin begitu lega, atas pernyataan Aileen kala itu.
Ayah Anton pun tersenyum dan mereka melanjutkan makan kembali, setelah menyetujui ide putrinya.
***
Sore Hari.
"Masih sibuk sayang, sedang mengerjakan apa?" tanya Daffin, ketika Aileen sedang duduk dengan memangku laptopnya.
"Hai .. sudah mengobrol asik dengan Ayah. Aku sedang menyelesaikan brand prodak terbaru. Danu mengirim email beberapa data yang harus diperlukan, dan setelah ini aku harus mengecek laporan keuangan. Sedikit audit lusa nanti."
"Banyak sekali tugasmu Ail? besok aku harus kembali karena pekerjaan di selang libur aku akan menemui mu."
"Daffin, kerjakanlah tugasmu! Livi pasti lelah tanpamu, klien menunggumu. Beri aku waktu selama dua minggu ini untuk berfikir dan memantapkan. Bukan aku tidak mencintaimu aku yakin sudah ada rasa, tapi pernikahan membuatku takut. Kamu sudah paham kan, akan ketakutan ku ketika dalam pernikahan, aku tidak ingin terjadi sesuatu kembali dan aku tidak sanggup karena kehilangan dan kesedihan jika terulang, itu sebabnya aku harus menemui mas Deva agar ia juga ikhlas ketika kita menikah."
"Baiklah, aku mempercayaimu."
Daffin memeluk Aileen, ia paham karena Aileen masih dalam trauma dan ketakutan, ia pun sama hal takutnya jika mas Deva, tetap tak akan merestui dan menghalangi dengan segala cara pernikahannya kelak.
"Sayang, jika aku mengenalkan mu pada psikiater apa kamu bersedia, agar trauma mu hilang, aku yakin kamu bisa melewatinya dan kuat?"
__ADS_1
"Apa kamu menganggap ku gila Daffin?"
Daffin pun membalas.
"Bukan seperti itu masa trauma itu karena kekhawatiran dan ketakutan, dan..."
Aileen pun mendekatkan wajahnya dengan tajam, seolah merengkuh tubuh Daffin yang begitu candu, Daffin sangat hilang kendali karena Aileen begitu memancing dirinya.
Cup.
"Baiklah pria handsome, aku bersedia."
Aileen pun tersenyum. Daffin pun senang karena ia berfikir, jika Aileen akan marah padanya, alih alih ia menyetujui.
Saat ini memang Daffin berada di ruang kerja, bahkan Daffin menemaninya. Sehingga Daffin yang gugup, membuat Aileen duduk diatas pangkuan Daffin.
'Maukah kita malam ini memberi tanda?'
'Kamu serius Aileen?' bisik mereka dengan perasaan yang bercampur.
Dimana seluruh penghuni tak ada, bahkan ruang kerja Aileen berada dalam kamarnya pun terkunci.
"Aku izinkan, pulanglah besok dan siapkan wo untuk pernikahan kita. Tapi jangan menancapkannya sekarang, aku tahu kamu sulit menahannya kan?" goda Aileen membuat Daffin menelan saliva.
Daffin membulat ketika Aileen sudah ada diatas pangkuannya, hal itu membuat Daffin merasa berfantasi liar, merengkuh rambut Aileen dan memberi tanda di sesuatu yang amat terbuka bagian salah satu gundukan.
Deg.
"Hello. Daffin kamu kenapa?" tanya Aileen, yang saat itu Daffin bengong.
Astaga! Bisa bisanya Daffin melamun dirinya dengan Aileen berlebihan.
Tok Tok.
"Kak, ada tamu di luar!" teriak Alexi, membuat Aileen melupakan Daffin yang bertanya, kenapa ia melamun terus.
Deg.
"Cepatlah kembali!" pelukan Daffin, membuat Aileen menoleh.
'Apa kamu sudah tidak sabar? Tunggulah sepekan dua pekan lagi, aku akan jadi milikmu kan?' bisik Aileen dengan rona senyum.
"Benar. Kalau begitu aku sekalian ingin ke kamarku." lirih Daffin, yang kala itu ia harus menuntaskan sendiri di kamar mandi.
Mereka keluar bersamaan, membuat tatapan Alexi mikir keras.
TBC.
Berikan dukungan favorite love, dan tinggalkan jejak ya.
__ADS_1
Happy Reading All.