Cinta Tak Semanis Coklat

Cinta Tak Semanis Coklat
BOS MABUK


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian, Aileen menjalani hari bekerja seperti biasa. Kini ia merasa hidupnya memang harus sendiri, entah perasaan apa ingin sekali mempunyai kawan, atau pasangan seperti yang lainnya. Akan tetapi semua telah pupus, ketika tragedi pak Deva adalah adik dari bos kriminal, dan riwayat itu mirip dengan mantan calon suaminya yang mempunyai riwayat sakit persis. Rasanya tidak sanggup untuk menerima kehilangan dan kembali jatuh cinta. Bahkan Aileen pun benar benar memagar kan hatinya! seolah tembok besar itu ia ciptakan sendiri untuk fokus.


"Cukup Ail, fokus mencari pundi- pundi adalah hal yang terbaik." Aileen kembali mengatur nafas panjang, dan berkutat dalam laporan di laptop kerjanya.


"Aileen, ini laporan terbaru dan berkas untuk meeting nanti siang, dari bu Ita." ucap Angel.


"Thanks ngel." Angel pun melirik dan bertanya, ingin sekali ia tahu kenapa Aileen bisa dekat dengan pria di lantai lima, yang masih pemilik satu bosnya saat ini bekerja.


"Aileen kamu kok bisa dekat sama tuan Deva. Please! kasih tahu aku dong, kalian masih kerabat dekat kah? soalnya ga sembarang loh kenal keluarga bos."


"Ngel, aku tidak tahu dan hanya kebetulan. Aku minta maaf, kini aku sedang sibuk! next nanti kita ngobrol jam makan siang lain waktu ya!"


Aileen memotong pembicaraan sehingga Angel pun berlalu, kembali ke ruangan kerjanya.


Bahkan Aileen sendiri sedikit memikirkan tawaran bos Daffin, yang ingin membantunya membiayai sakit adiknya bernama Alexi di luar kota, bersama ayah dan neneknya. Akan tetapi tawaran Daffin, membuat Aileen bergidik ngeri jika harus berbohong. Sejak meeting malam lalu, Aileen pertamakali nya bercerita panjang pada Daffin, tentang masa lalunya yang pahit itu.


'Bagaimana mungkin aku menerima Daffin! aku adalah orang kaya, dan kekasihnya. Jika sampai menikah, aku sudah ketahuan berbohong. Apa tidak rumit ke depannya. Ah! tapi aku juga membutuhkan pengobatan Alexi tetap berlanjut." penat Aileen, ia mencoba fokus bekerja lagi.


Kembali jam makan siang, Aileen di panggil oleh Daffin, bosnya itu.


"Kita berangkat sekarang Aileen! makan siang nanti di mobil saja!" perintah bosnya, membuat Aileen mengelus sabar.


'Sepertinya aku harus banyak banyak bersabar.' batin Aileen, yang mengekor Daffin.


Beberapa Jam Kemudian.


Daffin yang masih melihat Aileen, tampak takut jika di dalam mobil, membuat Daffin peka dan memberikan minuman hangat.

__ADS_1


"Bagaimana apa sudah membaik?"


Daffin menyodorkan minuman hangat, dan setelah Aileen meminumnya, berterimakasih. Aileen pun nampak diam tenang tapi tangannya masih gemetar. Daffin pun memegang erat tangan Aileen, refleks.


"Ceritalah agar tidak jadi beban, apa kamu trauma? kamu bisa ceritakan semuanya, karena saya yakin kamu belum cerita seluruhnya, kenapa kamu takut seperti ini!"


"Maaf pak, saya sudah membuang waktu saya sudah lebih tenang, kita bisa jalan sekarang. Bukankah meeting sebentar lagi?"


"Ok! baiklah."


Aileen melepas genggaman tangan bos nya, ia menarik nafas dalam dan membuangnya. Tak lupa ia mengatur dan memulai membaca untuk pertemuan nya, ia harus fokus. Sesekali Aileen mencium aroma lily bunga putih dalam botol kecil, dari tas nya dan memegang liontin bulan cinta yang melingkar di lehernya.


Tiga puluh menit tiba di ruangan ia bertemu dengan, klien penting yang akan bekerja sama dengan perusahaan Daffin bosnya itu.


"Apa kamu sudah membaik, atau kita akan atur ulang jadwal lagi Aileen?" tanya Daffin, yang sudah berdiri di sebuah gedung menjulang tinggi.


Mereka pun berjabat tangan dalam satu jam penuh, sehingga pertemuan mereka akan kembali di minggu depan dan clear. Sehingga selesai meeting kali ini. Klien bernama Mister Tay! meminta untuk bersulang atas kerjasama dua perusahaan yang saling menguntungkan itu.


Cheers!!


"Semoga kerjasama kita lancar dan semakin jaya popular tuan Daffin." ucap Mr Tay.


Aileen hanya bisa menemani dan dia tak meminumnya. Meski terpaksa akan klien, Aileen pun sedikit menempelkan minuman soda itu, namun ia cukup pintar tak meminumnya. Hanya terlihat meminum tetapi jelas menempel tak tertelan, itulah mata Daffin melihat Aileen cukup cerdas.


Aileen melihat Daffin, sudah meminum tiga gelas dan terlihat nambah


Sudah pasti Daffin sedikit samar melihat sekelilingnya, jika ia benar benar profesional meski tak menampaki jika ia menolak untuk minum, jamuan nya telah selesai hampir tiga jam. Daffin pun mengajak Aileen pulang. Terlihat juga saat di parkir mobil, Daffin merasa pusing.

__ADS_1


"Pa Daffin! apa anda akan baik baik saja menyetir, apa perlu bantuan taksi?" ucap Aileen. Namun Daffin bicara jika ia baik, dan tak perlu Aileen khawatir.


"Tenang saja! saya sudah ahli. Uhuk .. uhuk." tingkah bos kriminalnya itu, membuat Aileen menggeleng kepala.


Gubrak! setengah pingsan Daffin.


Sepuluh menit berlalu, Aileen terkejut akan jalan mobil yang sebentar berhenti, berjalan berhenti kembali. Layaknya anak bayi sedang belajar berjalan dan terjatuh kembali.


"Pak kita akan celaka jika seperti ini?"


Aileen memutar setir kesamping. Terlihat jalan sepi karena ini adalah pukul sebelas malam.


"Hey, kamu bisa menyetir memangnya, menyuruhku bertukar tempat?" ucap Daffin sedikit ngaco, sebelum benar benar tak sadarkan diri, masih saja menyalahi Aileen dan memarahinya.


"Bisa sih, ta- tapi saya .." terdiam, belum Aileen menjawab takut gelisah.


Daffin sudah keluar pintu dan membuka pintu Aileen untuk pindah lagi seperti semula, ia tak sanggup menyetir dan memohon agar ia yang mengendarai dan membawanya pulang.


Aileen pun langsung tergelepak memejamkan mata, mencoba mencari cara agar Daffin tidak menyetir dalam keadaan mabuk.


"Aaakh..., malam apa ini pria satu ini kalau bukan seorang bos, sudah aku tendang kamu.


Aku juga tidak lancar sekali, sudah lama aku tak membawa mobil, bagaimana ini aku harus apa. Kau bos menyusahkan, terlalu banyak minum merepotkan aku." sebal Aileen, mencoba menghubungi asisten Livi.


lama terdiam Aileen semakin bingung. Ingin menyalakan tapi sesekali mengurungkan karena takut.


"Baiklah kamu bisa Aileen, ini sudah larut, pasti tidak akan ada truk besar yang melintas. Asisten Livi juga pasti masih di luar kota, susah sekali dihubungi. Aku harus minta bantuan pada siapa?" sedih Aileen, yang melihat bosnya sudah tertidur akibat mabuk minum perjamuan tadi.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2