
"Bantu saya, atas dasar apa pak?"
"Saya tahu kamu, terlebih dari permintaan maaf saya yang pernah salah menyekap kamu. Hanya saja .. saya juga harus menikah, tapi belum mau menikah. Bagaimana kamu datang! aku mengenalkan pada keluargaku."
"Wah! sepertinya bapak berlebihan."
"Kalau gitu ceritakan, kenapa kamu takut sinar mobil, kamu ketakutan Aileen. Anggap saja kita akrab, jika bukan di kantor."
Aileen terdiam, mengingat kisah pahit itu. Sementara sebelum Daffin menawarkan perjanjian saling membantu, Daffin sudah menanyakan pada asistennya Livi, untuk mencari tahu tentang Aileen meski sedikit informasi.
Melupakan kisah Daffin yang bertanya pada asistennya. Daffin masih berdiri memahami wanita bernama Aileen, mencoba menggali info karyawannya.
"Anda serius ingin tahu pak Daffin?"
"Ya! agar aku tahu, apakah kamu jujur atau tidak sebagai karyawan jeguk corps.
"Di foto itu adalah mantan tunangan saya, dan kalung yang bapak pegang itu mirip milik dia."
Flashback Kecelakaan Aileen, sementara Daffin mendengar dengan intens.
Aileen kembali ingat, menceritakan kala ia mengikuti mobil keluarga Kay. Hingga tiba lah dalam beberapa jam kemudian sampai di pemakaman. Tanah yang masih basah, jubah berkabung berwarna hitam melekat di sekelilingnya.
Aileen menatap dan duduk tersungkur di Batu nissan memeluknya.
Terlihat di area pemakaman semua menyelimuti kesedihan. Mata yang sembab dan merah, ia tutupi dengan kacamata, namun air mata tetap saja tak bisa menahan.
"Harusnya aku hentikan, tak gegabah semua pasti akan baik baik saja, maafkan aku karena aku menghubungimu tak sabaran Kay!"
'Apa aku ditakdirkan untuk menjadi Gadis Pembawa sial Tuhan? mengapa kau mengambilnya. Apa aku tidak berhak bahagia.' Gemuruh batin Aileen bergeming.
Aileen masih diam, ketika seluruh pelayat pergi menyisakan dirinya seorang diri! Bagaimana bisa kedua orangtuanya salah satunya kritis, dan papa yang baik padanya, kini berubah tega mengucap hal menyakitkan, apakah semua orangtua tidak pernah menginginkan anaknya yang membawa kesialan pada keluarganya.
Masih mode menangis! di papan Nisan makam calon suaminya itu, hari pernikahan harusnya bahagia, ia malah menderita karena kecelakaan beruntun.
[ Sayang, apa kamu bahagia saat ini. Lihatlah sebuah bunga yang aku pesan, Akan tiba sampai dirumahmu. ]
Kay, sedang bertatap wajah melalui ponsel. Siapa lagi jika bukan Aileen sang kekasih tercinta. Ia sudah menjalin selama tiga tahun sejak di bangku seragam abu- abu dan kuliah.
[ Heuumph, benarkah Kay? Terimakasih kamu selalu membuatku bahagia. ] ucap Aileen.
[ Aku sudah tak sabar lusa. Aku akan segera melamarmu dan setelah itu dalam waktu dekat kita akan bersama menjalin hubungan baru, yaitu bukan sang kekasih.]
[ Heum,ya. Kamu benar kita akan menjadi insan sejoli yang terikat. ] tersenyum bahagia, Aileen sangat bersyukur dipertemukan dengan seorang pria yang begitu menyayanginya, dan selalu melindunginya.
[ Kay, aku tutup dulu ya. ] pinta Aileen, karena seseorang datang dan Aileen takut di omeli.
__ADS_1
Mama memanggil ku, aku harus segera turun kebawah. Jika tidak aku bisa kena ocehan sang ayah, kamu paham kan bagaimana Sikap orangtua angkat ku?
[ Baiklah, good night sayang. ]
[ Good night Kay ] balas Aileen, dengan raut penuh merona bahagia, terlihat pipinya berwarna pink dan senyum sendiri.
Saat malam menyelimuti, sebuah Cahaya lampu sangat terang dan menusuk ke jantung Aileen, ia selalu bermimpi yang seperti nyata.
"Aaaakh... tidak ..!" teriak Aileen. Ia yang terbangun dari tidurnya, kebingungan dengan apa yang terjadi! Kenapa mimpi itu lagi.
Aileen pun berlari kedapur mengambil sebuah minum, lalu dituangkan air dari dalam kulkas, dan ia tuangkan kedalam wadah gelas bening ramping.
"Eh Aileen..., kamu kenapa?" ucap Mama.
"Ga ada Mah."
"Ada masalah sayang. Kamu tampak gelisah sekali loh." ujarnya membelai rambut Aileen.
Aileen terkejut Akan mama yang tiba saja sudah di depannya. Bahkan ia terkejut air yang di tuangkan sudah luber dan semua basah.
"Hah, maaf mah. Aileen jadi menumpahkannya." sang mama pun berkata tidak apa apa, meski ia sebagai ibu sambung.
"Ada apa Nak, apa kamu ada masalah atau mimpi buruk lagi seperti kemarin?" tanya kembali.
"Rasanya takut akan lamaran atau pernikahan menjadi batal. Mimpi buruk Aileen jadi kepikiran berlebih, selalu jadi nyata. Mama dukung aku kan?" ujar Aileen.
"Itu hanya kembang tidur sayang, mitos jangan selalu dipercaya. Apa kamu lapar? Dan malam ini mama sengaja buat cake keju, dicoba ya! ingat mimpi itu kembang tidur, kamu ga perlu ingat lagi." cetusnya menceramahi.
"Iya boleh Aileen mau. Andai Alexi ada disini, pasti dia juga senang."
"Ya, benar sekali kamu Aileen, sudahlah ia sedang menyelesaikan pendidikannya. Kelak kapanpun kamu terus jaga Alexi ya Aileen. Apalagi sakit kepalanya sering kambuh."
"Siap mah."
"Janji sama mama ya. Kamu harus akur sama Alexi, Meskipun ia menyebalkan."
Aileen tersenyum dengan sepotong kue yang ia lahap dengan nikmat. Melupakan mimpi buruk yang kala itu bisa saja merenggut kebahagiaannya.
Esok pun tiba, ia telah bersiap mengurus berkas dan segala acara dekor telah menanti. Ia melihat anak tangga sungguh pemandangan indah.
Tak terasa esok adalah hari dimana ia akan berada di gedung mewah untuk acara lamaran, dan menyiapkan pernikahannya.
"Sebentar lagi aku akan menjadi nyonya Kay bukan nona Aileen lagi?" ucapnya namun ponsel nya bergetar.
Dering ponsel Aileen kala itu, ia menatap layar jika telah berada di depan rumahnya. Aileen pun menghampiri Kay! yang membuatnya gila, kenapa bisa ia datang semalam ini. Padahal esok pagi mereka akan menikah.
__ADS_1
"Dasar pria nakal, bukankah seharusnya kita tak boleh bertemu. Kamu melanggar kode etik tentang penyalahgunaan waktu dan hari dimana sepasang kekasih akan berniat lamaran dan menikah!" ucap Aileen menatap wajah dekat kekasihnya.
"Dasar wanita zaman dahulu. Kamu percaya sekali mitos.Tak ku sangka wanitaku begitu kolot dalam menyikapi."
Kay! pun tertawa, sambil berbisik, "Aku tidak percaya itu. Aku hanya percaya jika hatimu hanya untukku Aileen, dan semua rasa sayangku besar terhadapmu." ucap Kay.
Aileen anya menggelengkan kepala, lalu ia pergi satu hari bersama sang kekasih. Meski hanya ditepian taman halaman belakang.
"Sayang ku berjanjilah satu hal padaku!"
"Janji apa dulu sih, bikin penasaran deh. Apa yang mau kamu bilang, bikin aku khawatir deh." balas Aileen.
"Apapun yang terjadi kamu jangan pernah bersedih berlarut, berjanjilah jaga dirimu!"
"Ingat satu hal, Aku selalu sayang dan mencintaimu. Dalam keadaan dan waktu apapun!" senyum Kay, seolah pertanda.
Deg!
"Omong kosong apa kamu Kay."
Aileen sedikit bingung, akan perkataan sang kekasih. Apa ini adalah pertanda mimpi buruknya semalam, apa harusnya ia batalkan pernikahannya di tunda beda jam atau hari.
"Kau bicara apa Kay, aku tak mau kamu pergi pergi lagi ke luar kota tanpa Aku ya!" Aileen berusaha mencerna berfikir hal positif.
"Baiklah Tuan putri, aku akan bercerita hal baik." senyum Kay, seolah meledek.
Namun Aileen membalas Nona putri. Kalau Tuan putri berarti aku bisa dikatakan pria atau wanita. Memang kamu mau menikah dengan wanita jadi jadian ya? ledekan Aileen, membuat Kay ingin mencubit gemas.
Kay pun gemas ia mencubit pipi sang kekasih, yang merona dan menyebalkan itu.
"Baiklah lihat itu Ail!"
Mata Aileen terperangah tak bisa berkata kata, akan apa yang ia lihat, dia telah mempersiapkan sedetail mungkin.
Aileen melihat balon udara dengan cahaya terang, terukir disana membuat Aileen jatuh cinta pada Kay! hingga Aileen pun saat itu tak bisa marah.
"Kamu siapkan semuanya?"
"Heuuumph. Gimana .. kamu suka?" ujar Kay, tentu saja membuat Aileen memeluk. Tanpa sadar suprise, ingatan, dan pesan Kay adalah untuk yang terkahir kalinya.
"Aku pulang dulu ya! sampai besok Ai .. "
"See you Kay."
TBC
__ADS_1