
Apa ini, bucket bunga dan satu kotak paket jelas terlihat di mejanya, membuat Aileen terdiam, apakah satu kantor sudah tahu tentang hubungannya dengan bos kriminal itu. Jelas disana, terlihat nama pengirim.
"Untuk calon istriku Aileen, tercinta."
Aileen mendengus perlahan, dan ia mengatur nafas dalam dalam, menatap meja ruangan Daffin belum sampai, ia ambil bucket bunga itu dan ia hirup dengan kesal, ia pun berusaha membuangnya ke tong sampah namun, tidak mungkin jika tong sampah disampingnya.
"Sedang apa sayang,?" tutur Daffin, yang datang berlawanan.
Daffin baru saja tiba, membuat Aileen kaget yang masuk keruangan, tanpa jejak suara langkah. Mata Aileen membulat, dan tak jadi membuangnya. Aileen pun menjawab.
"Selamat pagi pak bos, saya sedang menatap bunga ini cantik sekali terimakasih saya suka." senyum Aileen, yang berlawanan ingin rasanya melempar, namun lemah jika sudah ada dia dihadapannya.
Sejujurnya, karena tidak tega mencampakan terang terangan.
"Owh so sweet sekali kan. Kalau begitu selamat bekerja Aileen calon istriku, dan ingat panggil saya sayang, atau nama saja ketika diluar atau tak ada karyawan, ingat cincin jemari kita telah bertunangan, couple loh."
Daffin pun berlalu tersenyum, dengan paksa Aileen pun tersenyum juga, meski rasanya ingin muntah memanggil ubah panggilan dengan kata 'Sayang'
"Yeay.. anda so sweet sangat Daffin. Rasanya ingin aku cabik cabik bunga ini karena dirimu membohongiku, dan menyabotase segala ruang hidupku." batin Aileen.
Sejujurnya Aileen kesal, ingin sekali membatalkan pertunangan dan bertemu dengan Deva, terkait Deva menelponnya dan menjelaskan perihal apa yang terjadi, menjelekan nama Daffin yang menurut Aileen juga membenci Daffin. Tapi amat sulit dan takut amukan sang Ayah, jika sudah pertunangan tersebar begitu saja.
Aileen pun perlahan mengerjakan perihal materi Klien, yang tertinggal. Sesekali ia menatap paket bungkus coklat itu dan akhirnya ia membukanya. Namun baru setengah ia buka terlihat jelas, isinya adalah satu buku berjudul, Panduan pernikahan.
"Apa?"
Aileen menatap jendela ruang Daffin, yang satu ruangan tersekat, ingin sekali menghampiri dan mencakar seorang pemimpin perusahaan J-geuk Corp.
Bisa- bisanya dia mengirim ini untuk ku. Bahkan aku saja sedang mencari cara agar pertunangan ini tidak berlanjut dan batal menikah, aku tak siap tak ingin menikah dengan bos kriminal sepertinya.
Tak lama telepon kantor berbunyi, Aileen pun mengangkatnya dari meja kerjanya itu.
Tlith!
"Ya hallo, perusahaan J- geuk Corp, ada yang bisa kami bantu?"
Tak lama mata Aileen membulat, saat mengenali suara itu. Dan ia menatap ruangan Daffin, suara dan gayanya. Benar saja ia yang menghubungi.
"Sudah buka kadonya, bagaimana apa suka?"
Belum mendapat jawaban Dari Aileen. Daffin syok, terkejut karena sudah dimatikan.
__ADS_1
"Garang sekali calon bojoku." lirih Daffin.
Saat Aileen akan keluar ruangan untuk print, semua menatap Aileen dengan hormat. Aileen sedikit bingung mengapa semua karyawan menjadi baik, terutama dua karyawati, yang benar benar tidak menyukai Aileen, dan pernah beradu kesal. Ia bahkan mendekati Aileen dengan manis.
"Kenapa dengan kalian, apa ada yang salah dengan saya?"
Semua terdiam kaku, tak berani menjawab. Aileen pun menghampiri Angel, dan ia berbisik karena mereka takut akan siapa kamu.
"Ada apa dengan mereka? hari ini kenapa aneh sih."
"Kemarin mas Deva, memarahi bos Daffin, ternyata kamu bukan wanita biasa, pemilik Bizard dan pabrik parfum ternama pemilik pak Anton yang dua tahun lalu berhenti operasi ya, klien terbesar kita juga ya di kantor ini, lalu kami dengar keluargamu dan keluarga Pak bos, memang sohib, kalian juga bertunangan kan?" tutur angel menjelaskan.
Deg.
"Owh .. kalian sudah tahu, ah! padahal aku berharap tidak." lirih suara Aileen kecil.
Aileen membulat dan berbicara pada rekan kantor.
"Kalian seperti biasa saja, jangan kaku seperti ini. Karena jujur saya, tidak biasa mendapat perlakuan seperti ini, lagi pula masa kontrak saya akan habis, akan ada pengganti setelah saya. Jadi kalian nyaman beroperasi seperti sedia kala saja!"
Apa! terdiam mereka semua, artinya Aileen akan berhenti bekerja.
Aileen pun berlalu ke ruangannya, dengan wajah panas dingin. Benar benar tak biasa diperlakukan hormat. Namun saat ia menutup mata, sudah ada seseorang dihadapannya.
"Kenapa kamu sepertinya tidak baik, ayo ikut sudah waktunya jam makan siang, aku sudah memesan!"
"Maaf, aku ingin sendiri! biar aku makan siang dengan karyawan lain saja, tak perlu repot mengurusi!" balas Aileen.
"Tidak bisa, apapun itu."
Cih.
Namun Daffin, benar tak menerima penolakan Aileen. Tangan Aileen digenggam paksa, sehingga semua mata karyawan membulat menatap iri pada Aileen.
"Wah, bisa bisanya bos kaku, berubah romantis. Bahkan dia tunduk pada bu Aileen." lirih seorang karyawan, dari balik Angel.
Aileen pun keluar bersama Daffin, dari ruangan besar itu, melintas beberapa meja karyawan yang menatapnya dengan sempurna dan Angel menganga terkejut.
"Apa jari Aileen, telah melingkar cincin, dan seperti couple bersama pak bos, berarti berita itu benar. Apa mereka ..?" Angel pun menutup mulutnya, dan diam dengan kaku dimeja itu.
"Diamlah kalian semua, aku rasa ini hanya kebetulan. Tapi jelas minggu lalu. Jika asisten Livi berada di ruangan pak Daffin, berhari hari. Pak bos dan Aileen, tak ada di kantor."
__ADS_1
"Wah, jadi nyonya bos. Tapi bu Aileen juga anak orang terpandang, dia investor ketua J - geuk Corp loh. Artinya, ah siapa saja yang pernah menyakiti Aileen, siap siap di tendang." lirih admint, melirik dua karyawan tengil di belakangnya yang ketakutan.
Semua mata membulat karena takut, juga khawatir, karena beberapa yang menyentil dan tak suka terang- terangan pada Aileen, mereka benar benar takut akan dipecat.
Aileen yang telah sampai di parkiran vip, diajak oleh Daffin ketika akan turun, namun cekatan Daffin, membuka seat belt, Aileen menatap Daffin dengan dekat. Dan tersenyum.
"Terimakasih."
Tapi saat ia belum turun, tersangga karena Daffin menggapai tangan Aileen, menutup kunci mobil lagi, dengan memegang telapak tangannya dengan erat, sambil tersenyum manis.
Aileen bahkan, bagai kehilangan kesadaran dengan manis perlakuan Daffin, meski ia selalu mengingat Kay! selalu melakukan hal manis sekecil apapun.
"Sadar Aileen, dia Daffin bukan Kay."
"Ayo kita, makan siang jangan sampai kamu terlambat dan sakit!" kecup jari Aileen, sebelum turun dari mobil.
"Pria kriminal apa kau yang sakit, ada apa denganmu. Atas dasar apa kamu semanis ini?"
"Memang tidak boleh?"
"Ti .." terdiam.
Belum Aileen, berbicara panjang. Ranumnya dibungkam oleh jari Daffin, menandakan untuk diam. Wajahnya mendekat dan kembali ingin mencium ranum Aileen yang membuatnya candu.
Eum!
Aileen bahkan memundurkan wajahnya. Daffin tersenyum dan melepas Seat belt. Wajah mereka saling memandang, membuat Daffin memegang tungku leher Aileen saat itu juga.
"Kamu mau a-apa..?" berdebar Aileen, entah kenapa.
"Membuatmu jatuh cinta, aku sudah tidak sabar, agar kita segera .."
"Jangan berani mendekat lagi wajahmu, Daffin!" lirih Aileen menatap Daffin, yang benar benar jaraknya bagai jari kelingking.
Aileen berusaha mendorong, tapi tersangkut hingga membentur dan kembali menyenggol bi-bir indah Daffin, ranum mereka tak sengaja menempel dan saling terdiam.
Aileen yang mencengkram bahu Daffin untuk mendorong, sudah di setrum oleh milik Daffin, hingga bertautan yang membuat Daffin memainkan dengan lihai dan candu bagi Aileen, dan Aileen menerima kecupan itu, karena merasa nyaman seperti sosok Kay.
Cup.
"Ini adalah jejak tanda kedua kita, entah ketiga kalinya apa aku bisa menahan, rasanya aku ingin kita malam ini menikah." jelas Daffin, membuat Aileen yang pucat terdiam begitu saja.
__ADS_1
TBC.